Thailand Amankan Jalur Pelayaran di Selat Hormuz lewat Kesepakatan dengan Iran

Beberapa waktu lalu, Thailand hanya mendapat izin terbatas untuk melintasi Selat Hormuz.

Diterbitkan 28 Maret 2026, 17:47 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bangkok - Pemerintah Thailand telah mencapai kesepakatan dengan Iran guna menjamin keamanan pelayaran kapal tanker minyak Thailand melalui Selat Hormuz. Hal ini disampaikan oleh Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul dalam konferensi pers pada Sabtu (28/3/2026).

Menurut Anutin, kesepakatan tersebut memungkinkan kapal-kapal pengangkut minyak Thailand melintas dengan aman di jalur strategis tersebut, yang sebelumnya mengalami gangguan akibat konflik di Timur Tengah yang dimulai akhir bulan lalu.

"Kesepakatan telah dicapai untuk memungkinkan kapal tanker minyak Thailand transit dengan aman melalui Selat Hormuz," ujar Anutin seperti dikutip dari CNA.

Ia menambahkan bahwa perkembangan ini diharapkan dapat meredakan kekhawatiran terkait impor bahan bakar. Ia juga menegaskan bahwa dengan adanya kesepakatan tersebut, kepercayaan meningkat bahwa gangguan seperti yang terjadi pada awal Maret tidak akan terulang kembali.

Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi energi global. Berdasarkan data dari Badan Informasi Energi Amerika Serikat, lebih dari 80 persen minyak mentah dan gas alam cair (LNG) yang melewati jalur ini dikirim ke kawasan Asia.

Seiring dengan terganggunya arus pengiriman, sejumlah negara di Asia Tenggara mulai merasakan dampaknya. Di Thailand, antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar dilaporkan semakin sering terjadi akibat kesulitan pasokan.

Pemerintah Thailand, menurut Anutin, akan terus menyesuaikan kebijakan untuk menghadapi situasi yang terus berkembang.

"Pemerintah akan terus beradaptasi dan menyesuaikan langkah-langkah guna meminimalkan dampak terhadap masyarakat," katanya.

Sebelumnya masih pada bulan ini, kapal curah Thailand diserang saat melintas di perairan tersebut dan tiga awak kapal dilaporkan hilang. Namun, setelah insiden itu sebuah tanker minyak Thailand milik Bangchak Corporation diizinkan melintasi Selat Hormuz.

 

Aktivitas Pengiriman Anjlok

Data dari platform pelacakan maritim Kpler menunjukkan bahwa volume pengiriman komoditas melalui Selat Hormuz anjlok hingga 95 persen dalam periode 1 hingga 26 Maret, sejak pecahnya konflik.

Sementara itu, Pasukan Garda Revolusi Iran pada Jumat (27/3) menyatakan telah memaksa tiga kapal untuk berbalik arah saat mencoba melintasi Selat Hormuz. Mereka juga menegaskan bahwa jalur tersebut ditutup bagi kapal-kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan yang dianggap terkait dengan "musuh" Iran.

Sepanjang bulan ini, menurut laporan dari badan keamanan maritim Inggris, UKMTO, tercatat 24 kapal komersial—termasuk 11 kapal tanker—mengalami serangan atau insiden di kawasan Teluk, Selat Hormuz, maupun Teluk Oman.