Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Serangan Perdana sejak Perang Iran Dimulai

Apa yang menjadi target rudal Houthi? Berikut klaim mereka.

Diterbitkan 28 Maret 2026, 16:26 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tel Aviv - Israel menyatakan militernya berhasil mencegat rudal yang diluncurkan dari Yaman menuju wilayahnya pada Sabtu (28/3/2026) dini hari, menandai pertama kalinya Israel menghadapi serangan langsung dari Yaman.

Pemberontak Houthi, salah satu proksi Iran, mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu, yang menimbulkan pertanyaan apakah kelompok pemberontak yang didukung Teheran akan kembali menargetkan pelayaran komersial yang melintasi koridor Laut Merah.

Sirene berbunyi di sekitar Beer Sheba dan wilayah dekat pusat penelitian nuklir utama Israel untuk ketiga kalinya dari Jumat (27/3) malam hingga Sabtu ketika Iran dan Hizbullah terus menembaki Israel sepanjang malam. Demikian seperti dikutip dari laporan Associated Press.

Serangan terhadap kapal selama perang Israel-Hamas telah mengacaukan pelayaran di Laut Merah, yang sebelumnya menjadi jalur perdagangan dengan nilai sekitar USD 1 triliun per tahun. Para pemberontak juga diketahui menembakkan drone ke arah Israel.

Brigjen Yahya Saree, juru bicara militer Houthi, mengeluarkan klaim tersebut dalam sebuah pernyataan pada Sabtu di televisi satelit Al-Masirah milik kelompok itu.

Saree mengatakan mereka menembakkan rentetan rudal balistik yang menargetkan apa yang ia gambarkan sebagai "lokasi militer sensitif Israel" di Israel selatan. Serangan itu terjadi beberapa jam setelah Saree memberi sinyal dalam pernyataan yang samar pada Jumat bahwa kelompoknya akan bergabung dalam perang yang mengejutkan kawasan dan mengguncang ekonomi global.

 

 

Dampak Konflik terhadap Pelayaran Global

Pada 2024, pemerintahan Trump melancarkan serangan terhadap Houthi yang berakhir beberapa minggu setelah dimulai. Kampanye militer yang dipimpin AS, yang berlangsung di tengah perang Israel-Hamas di Jalur Gaza, tersebut menjadi pertempuran laut paling intens yang dihadapi Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) sejak Perang Dunia II.

Houthi diketahui menyerang lebih dari 100 kapal dagang dengan rudal dan drone, menenggelamkan dua kapal dan menewaskan empat pelaut, dari November 2023 hingga Januari 2025. Hal itu menyebabkan kekacauan lebih lanjut dalam pelayaran global, yang sudah terpukul oleh cengkeraman Iran atas Selat Hormuz, mulut sempit Teluk Persia yang sebelumnya dilalui seperlima dari seluruh minyak dan gas alam.

Keterlibatan potensial Houthi dalam perang disebut akan mempersulit penempatan USS Gerald R. Ford, kapal induk yang berlabuh di Kreta pada Senin (23/3) untuk perbaikan. Mengirim kapal induk itu kembali ke Laut Merah dapat menyeretnya ke dalam intensitas serangan yang sama seperti yang dialami USS Dwight D. Eisenhower pada 2024 dan USS Harry S. Truman pada 2025 saat melawan Houthi.

Sebelum serangan dari Yaman, Teheran menyetujui permintaan PBB untuk mengizinkan bantuan kemanusiaan dan pengiriman produk pertanian melalui Selat Hormuz. Ali Bahreini, duta besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa, mengatakan negaranya setuju untuk "memfasilitasi dan mempercepat" pergerakan tersebut.

Selat Hormuz merupakan jalur perairan vital yang biasanya menangani sekitar seperlima pengiriman minyak dunia dan hampir sepertiga perdagangan pupuk global. Sementara perhatian pasar dan pemerintah selama ini banyak tertuju pada gangguan pasokan minyak dan gas alam, pembatasan bahan pupuk dan perdagangan juga mengancam sektor pertanian serta ketahanan pangan di seluruh dunia.

"Langkah ini mencerminkan komitmen berkelanjutan Iran untuk mendukung upaya kemanusiaan dan memastikan bahwa bantuan penting mencapai mereka yang membutuhkan tanpa penundaan,"  kata Bahreini di platform media sosial X.

PBB sebelumnya juga mengumumkan pembentukan satuan tugas untuk mengatasi dampak lanjutan perang terhadap distribusi bantuan.