Senator AS Sebut Mojtaba Khamenei Akan Bernasib Sama Seperti Ayahnya

Pernyataan ini disampaikan oleh Lindsey Graham, anggota senator AS dari partai Republik.

Diterbitkan 09 Maret 2026, 13:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington D.C - Senator AS dari Partai Republik Lindsey Graham melontarkan kritik keras terhadap penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Iran. Ia bahkan menyatakan bahwa putra dari pemimpin tertinggi sebelumnya itu berpotensi mengalami nasib yang sama seperti ayahnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Graham melalui akun media sosial pribadinya di X (Twitter), @LindseyGrahamSC, tak lama setelah laporan mengenai pemilihan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran mencuat.

Dalam unggahannya, Graham menyebut bahwa penunjukan Mojtaba tidak mencerminkan perubahan yang diharapkan bagi masa depan kawasan Timur Tengah maupun bagi rakyat Iran.

“Ketika berbicara tentang masa depan kawasan ini dan masa depan rakyat Iran, putra almarhum ayatollah yang kejam bukanlah perubahan yang kita cari,” tulis Graham.

Ia juga menuduh Mojtaba Khamenei hidup dalam kemewahan di tengah kesulitan ekonomi yang dialami rakyat Iran. Menurut Graham, sosok tersebut selama ini berada di garis depan dalam menyebarkan ideologi kebencian.

Graham bahkan melontarkan pernyataan keras dengan menyebut Mojtaba sebagai “Nazi religius”. Ia mengatakan bahwa hanya masalah waktu sebelum pemimpin baru Iran itu mengalami nasib yang sama seperti ayahnya, Ali Khamenei.

“ Saya percaya hanya masalah waktu sebelum ia mengalami nasib yang sama seperti ayahnya — salah satu orang paling jahat di planet ini,” kata Graham dalam pernyataan tersebut.

Selain menyampaikan kritik terhadap kepemimpinan baru Iran, Graham juga menyampaikan pesan langsung kepada masyarakat Iran. Ia menyerukan agar rakyat tetap bertahan menghadapi situasi politik di negara tersebut.

“Kepada rakyat Iran: teguhlah. Pembebasanmu sudah dekat,” tulisnya.

Pernyataan senator dari negara bagian South Carolina itu menambah panas dinamika politik internasional menyusul perubahan kepemimpinan di Iran. Hubungan antara Washington dan Teheran memang telah lama diwarnai ketegangan, yang dalam beberapa waktu terakhir semakin meningkat akibat konflik dan persaingan geopolitik di kawasan Timur Tengah.