4 Maret 1980: Robert Mugabe Menang Telak dalam Pemilu Zimbabwe

Pada 4 Maret 1980, sejarah baru tercipta. Mugabe terpilih sebagai pemimpin kulit hitam pertama di Zimbabwe.

Diterbitkan 04 Maret 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Harare - Tanggal 4 Maret 1980 menjadi tonggak sejarah bagi Zimbabwe. Pemimpin nasionalis, Robert Mugabe, meraih kemenangan mutlak dalam pemilihan umum dan bersiap menjadi perdana menteri kulit hitam pertama negara itu, menandai berakhirnya era pemerintahan minoritas kulit putih.

Partai yang dipimpinnya, Zimbabwe African National Union (ZANU), mengamankan 57 dari 80 kursi yang diperebutkan untuk pemilih kulit hitam dalam pemilu pertama sejak runtuhnya rezim minoritas kulit putih Rhodesia. Perolehan itu cukup untuk memastikan mayoritas solid di parlemen, bahkan dengan mempertimbangkan 20 kursi yang dialokasikan bagi warga kulit putih.

Dalam konferensi pers usai pengumuman hasil pemilu, Mugabe menyatakan pemerintahannya akan bersifat inklusif. Ia membuka peluang merangkul mantan rival gerilyanya, Joshua Nkomo, beserta partainya, Patriotic Front, yang meraih 20 kursi, dikutip dari BBC, Rabu (4/4/2026).

Tak hanya itu, Mugabe juga menyebut kemungkinan melibatkan warga keturunan Eropa dalam kabinet. “Untuk menciptakan pemerintahan yang dapat meyakinkan seluruh rakyat Zimbabwe,” ujarnya, menekankan komitmen pada rekonsiliasi nasional.

Sebaliknya, kekalahan telak dialami Abel Muzorewa. Partai pimpinannya, United African National Council (UANC), hanya memperoleh tiga kursi—hasil yang memalukan bagi partai yang sepuluh bulan sebelumnya berada di puncak popularitas.

Pengumuman kemenangan Mugabe melalui siaran radio dan televisi disambut euforia di berbagai penjuru negeri. Ribuan warga kulit hitam turun ke jalan, bersorak dan merayakan momen bersejarah tersebut. Simbol ZANU, ayam jantan—dikenal sebagai jongwe—menjadi ikon perayaan. Para pendukung menirukan kokok ayam dan mengibaskan tangan; sebagian bahkan membawa ayam hidup ke jalanan. 

Di ibu kota Salisbury, perayaan berlangsung relatif tertib tanpa tanda-tanda ketegangan rasial. Meski demikian, aparat keamanan tetap bersiaga di sejumlah persimpangan utama dan kawasan permukiman kulit hitam untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan.

Reaksi komunitas bisnis dan pertanian cenderung hati-hati. Bursa saham Salisbury sempat anjlok tajam sesaat setelah hasil pemilu diumumkan, sebelum kembali pulih pada sore hari.

Mantan perdana menteri Rhodesia, Ian Smith, menilai masyarakat akan bersikap realistis. “Saya kira warga Rhodesia cukup pragmatis dan berpengalaman. Mereka tidak akan bertindak histeris. Ini negara kita—ke mana lagi kita akan pergi?” ujarnya kepada BBC.

Dalam pidato yang disiarkan televisi pada malam hari, Mugabe menegaskan komitmennya terhadap perdamaian. Ia memastikan Zimbabwe tidak akan kembali pada konflik bersenjata yang melanda sebelum tercapainya kesepakatan damai melalui Lancaster House Agreement. 

Kemenangan ini bukan hanya perubahan politik, tetapi juga simbol lahirnya babak baru bagi Zimbabwe—sebuah negara yang kini menapaki transisi sulit dari konflik bersenjata menuju pemerintahan mayoritas yang dipilih secara demokratis.