Kebun Binatang di China Ketahuan Gunakan Video Lama Anak Harimau Mati untuk Raup Donasi

Lantas, apa dampak yang diterima oleh pihak kebun binatang usai ketahuan berbohong?

Diterbitkan 03 Maret 2026, 18:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beijing - Otoritas di Provinsi Henan, Tiongkok tengah, menangguhkan operasional Kebun Binatang Pusat Puyang setelah terungkap penggunaan rekaman lama anak harimau yang telah mati untuk menggalang donasi dari penonton siaran langsung.

Kasus ini dikonfirmasi pemerintah setempat pada 10 Februari. Pengelola kebun binatang swasta tersebut juga diperintahkan menjalani program perbaikan manajemen menyusul dugaan penyesatan publik dalam siaran daring, dikutip dari laman Oddity Central, Selasa (3/3/2026).

Kontroversi bermula ketika warganet mencurigai kejanggalan dalam tayangan yang dibawakan penjaga harimau, Zhang Lina. Dalam siaran langsung, ia menampilkan anak harimau Siberia bernama Nuannuan. Namun sejumlah penonton menyadari rekaman yang digunakan diduga merupakan video lama atau memperlihatkan anak harimau lain.

Belakangan terungkap Nuannuan diduga telah mati akibat distemper kucing, penyakit menular berbahaya pada hewan. Fakta tersebut disebut tidak disampaikan kepada publik.

Kebun binatang mengenakan tiket masuk 20 yuan untuk dewasa dan 10 yuan untuk anak-anak. Namun sumber pemasukan utama disebut berasal dari donasi virtual penonton siaran langsung. Dalam sejumlah video di akun Zhang yang memiliki 2,7 juta pengikut, ia meminta tip daring untuk “memberi makan” harimau.

Zhang menyebut kebun binatang memelihara lebih dari 20 harimau dan setiap donasi sekitar 25 yuan dapat membeli seekor ayam. Ia juga menyatakan biaya perawatan seekor harimau mencapai 200 yuan per hari.

 

Bantah Tudingan Penipuan

Setelah kasus mencuat, Zhang membantah tudingan penipuan. Ia mengaku tidak berniat memanfaatkan kematian Nuannuan, melainkan ingin menghindari kesedihan penonton. Menurutnya, keputusan menyembunyikan kematian harimau tersebut berasal dari direktur kebun binatang, Wu Shuling, termasuk ide menamai anak harimau lain dengan nama yang sama.

Zhang menambahkan, seorang sponsor rutin mengirimkan 2.600 yuan per bulan untuk Nuannuan dan telah diberi tahu soal kematiannya.

Kasus ini memicu perdebatan luas di media sosial Tiongkok. Seorang pengguna menulis, “Ketika kebun binatang menyiarkan hewan demi uang, kejujuran menjadi yang paling rentan.” Sementara lainnya berkomentar, “Tidak mudah bagi kebun binatang swasta untuk bertahan dan menjaga hewan tetap hidup serta sehat.”

Penyelidikan lebih lanjut masih berlangsung. Otoritas setempat menyatakan akan memastikan transparansi pengelolaan dana dan kesejahteraan satwa di fasilitas tersebut.