23 Januari 1556: Gempa Magnitudo 8,0 Guncang Shaanxi, 830.000 Orang Tewas

Apa saja dampak yang dialami para warga akibat gempa bumi paling mematikan yang juga mengenai wilayah lainnya?

Diterbitkan 23 Januari 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beijing - Hari paling mematikan dalam sejarah di China, yang melanda Provinsi Shaanxi dengan menewaskan sekitar 830.000 korban akibat gempa yang berkekuatan tinggi mencapai magnitudo 8,0. Bencana ini terjadi pada 23 Januari 1556 yang juga menjadi gempa bumi paling mematikan telah merenggut ratusan ribu nyawa hanya dalam sehari.

Dampak dari gempa tersebut menyebabkan kerugian dan kehancuran di seluruh wiayah itu, termasuk bangunan-bangunan yang berdiri seperti rumah dan seluruh kota.

Struktur tanah yang sangat rentan mengakibatkan guncangan hebat, membuat para warga harus meninggalkan tempat tinggal mereka saat itu juga karena reruntuhan yang sangat parah membuat nyawa menjadi terancam dalam upaya melindungi diri setelah guncangan.

Selain itu, penderitaan tak berhenti setelah gempa bumi. Dalam pergantian bulan dan tahun berikutnya, banyak dari mereka yang mengalami penyakit, kelaparan, dan kekacauan sosial, serta hilangnya lahan pekerjaan mereka. Sementara itu, pemerintah kewalahan mengatasi kekacauan yang sekaligus menghadapi krisis kemanusiaan berskala besar, dilansir dari NDTV, Jumat (23/1/2026).

Dampak bencana gempa Shaanxi bahkan dinilai lebih buruk jika dibandingkan dengan ukuran populasi masa modern ini, dengan menewaskan lebih banyak nyawa manusia yang sebagian besar terjadi di bagian barat laut Tiongkok. Kuatnya guncangan juga dirasakan oleh wilayah yang kini dikenal sebagai Henan dan Gansu, bahkan meluas lebih jauh hingga ke pantai selatan Tiongkok.

Kemudian, gempa itu terjadi selama pemerintahan Kaisar Jiajing dari Dinasti Ming, sehingga gempa bumi paling mematikan ini memiliki julukan yang disebut sebagai gempa Jiajing.

 

Mencatat Sejarah Bencana

Sebuah plakat dibentuk dan didirikan tiga tahun kemudian untuk mengingat bencana yang menyapu seluruh manusia di wilayah terdampak, di mana menggambarkan bagaimana retakan muncul di tanah yang terbelah, air menyembur keluar, tembok kota dan rumah lenyap ke daam tanah, serta dataran tiba-tiba berubah menjadi perbukitan.

Kondisi setelah gempa bumi pun tampak terlihat berubah drastis, seperti luapan dari sungai Kuning dan sungai Wei dengan catatan melaporkan bahwa air sungai Kuning yang biasanya selalu berlumpur menjadi jernih selama beberapa hari.

Dengan demikian, gempa Shaanxi 1556 masih menjadi gempa bumi paling kelam dalam sejarah bencana alam dengan mengingatkan kepada kekuatan alam dan mudah rapuhnya peradaban manusia saat menghadapi bencana yang tak dapat dikendalikan oleh kekuatan manusia ini.