Liputan6.com, Washington D.C - Salah satu peristiwa dalam sejarah, parade Liberty Loan di Philadelphia menyebabkan pandemi flu Spanyol di kota tersebut pada tanggal 28 September 1918. Sesudah berakhirnya pandemi tersebut, diperkirakan 20 hingga 50 juta orang meninggal di seluruh dunia.
Dikutip dari History.com, Senin (28/9/2026), influenza adalah virus yang sangat menular yang menyerang sistem pernapasan dan bisa bermutasi dengan sangat cepat untuk menghindari sistem kekebalan tubuh manusia. Umumnya, hanya lansia dan anak kecil yang rentan meninggal akibat flu tersebut. Walaupun pandemi virus ini pada tahun 1889 sudah menewaskan ribuan orang di seluruh dunia, baru di tahun 1918 dunia menyadari seberapa mematikannya flu tersebut.
Awal mula pandemi flu tahun 1918 yang memungkinkan adalah dari seekor burung atau hewan ternak di wilayah Midwest Amerika Serikat. Virus ini mungkin menyebar di antara burung, babi, domba, rusa besar moose, bison, dan rusa elk, hingga akhirnya bermutasi menjadi varian yang menyerang populasi manusia.
Advertisement
Bukti terbaik menunjukkan bahwa flu ini menyebar perlahan ke Amerika Serikat di setengah pertama tahun tersebut dan kemudian menyebar ke Eropa lewat sebagian dari 200 ribu tentara Amerika yang pergi ke sana untuk bertarung di Perang Dunia I. Pada bulan Juni, wabah ini terlihat hampir musnah dari Amerika Utara setelah menelan korban yang cukup besar.
Selama musim panas tahun 1918, flu tersebut dengan cepat menyebar ke seluruh Eropa. Salah satunya adalah Spanyol, yang kemudian seluruh dunia kenal sebagai flu Spanyol. Penyakit ini sangat tidak biasa karena menyerang orang-orang yang kuat dan sedang dalam puncak usia produktif, bukan bayi atau lansia. Di akhir musim panas, sekitar 10 ribu orang telah meninggal. Dalam kebanyakan kasus, pendarahan di hidung dan paru-paru menyebabkan korban meninggal dalam waktu tiga hari.
Â
Penyebaran Tak Terkendali
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3118951/original/019495100_1588576990-fluspanyol_tik.jpg)
Ketika musim gugur tiba, epidemi flu ini menyebar tak terkendali. Pelabuhan di seluruh dunia, biasanya lokasi pertama sebuah negara terjangkit, melaporkan masalah serius. Di Sierra Leone, 500 dari 600 pekerja pelabuhan kondisinya terlalu sakit untuk bekerja. Afrika, India, dan Timur Jauh melaporkan terjadinya wabah.
Penyebaran virus di antara banyaknya orang membuatnya menjadi lebih mematikan dan lebih mudah untuk menular akibat mutasi. Saat gelombang kedua flu melanda London dan Boston di bulan September, dampaknya jauh lebih parah dari yang ditimbulkan sebelumnya.
Ada 12 ribu prajurit di Massachusetts yang terjangkit flu di pertengahan September. Setiap divisi angkatan bersenjata melaporkan ratusan kematian setiap minggunya akibat flu tersebut.
Philadelphia adalah kota yang paling parah dampaknya di Amerika Serikat. Setelah parade Liberty Loan (perayaan untuk mempromosikan obligasi pemerintah yang membiayai perjuangan Sekutu di Eropa) pada 28 September, ribuan orang terinfeksi.
Kamar mayat di kota tersebut yang dibangun untuk menampung 36 jenazah, saat itu harus menghadapi kedatangan ratusan jenazah dalam beberapa hari. Seluruh kota menjalani karantina dan hampir 12 ribu warga kota tersebut meninggal dunia. Secara keseluruhan di Amerika serikat, lima dari setiap seribu orang menjadi koran wabah flu tersebut.
Di seluruh dunia, angka kematiannya jauh lebih buruk. Di Amerika Latin, 10 dari seribu orang meninggal. Di Afrika, jumlahnya 15 dari seribu orang dan di Asia sangat tinggi dengan 35 kematian dari seribu orang.
Estimasinya sekitar lebih dari 20 juta orang meninggal di India sendiri. 10 persen dari seluruh populasi di Tahiti tewas dalam waktu tiga minggu. Di Samoa Barat, 20 persen penduduknya meninggal dunia. Jumlah korban jiwa akibat flu lebih banyak dibanding jumlah korban jiwa dari seluruh pertempuran Perang Dunia I jika digabungkan.
Â
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321860/original/097207600_1786506941-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-12T105431.565.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354030/original/018131800_1789992594-cek_fakta_KM_Virgo_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9359577/original/013031200_1790564633-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-28T100252.716.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7368499/original/067001900_1780149167-Jepretan_Layar_2026-05-27_pukul_20.44.42.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3076001/original/073713300_1584098300-spanishflu1.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2995583/original/093783600_1576227057-coline-hasle-YCnycuWG7XY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358415/original/056465700_1790339608-IMG_2927.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358530/original/092817600_1790359243-WhatsApp_Image_2026-09-25_at_9.24.59_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357654/original/010090000_1790271446-1000443129.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356800/original/077671500_1790221190-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_09.33.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332646/original/012342700_1787713788-e321c65d-e224-4b30-b5f9-c7dc77968345.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3940632/original/006857000_1645419592-caterpillar_6020b_equipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355283/original/019472000_1790097211-WhatsApp_Image_2026-09-23_at_00.04.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3081166/original/047649300_1584627034-28b49d87-c2ea-4de3-ba78-288c357fd62a.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3513810/original/047148100_1626531375-yuan_1_eric-prouzet-UipokEnGOyE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5314560/original/008283300_1755091693-1000013598.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256831/original/037694900_1781171675-Penyanyi_Tasya_Kamila.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3910505/original/020707300_1642741792-20220121-FOTO---BERBAGI-SAYURAN-HERMAN-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5757035/original/061208800_1778659333-hantavirus.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5124885/original/086799300_1738907998-sick-woman-with-cough-throat-infection-bed-covering-his-face-while-coughing.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5213181/original/039160500_1746680400-kanselir_jerman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9359415/original/044415300_1790515252-Untitled.jpg)