Netanyahu dan Negara Arab Minta Trump Tunda Serangan ke Iran

Pejabat senior AS mengatakan, Trump belum sepenuhnya mengesampingkan opsi militer yang diajukan para komandannya.

Diterbitkan 16 Januari 2026, 14:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington D.C - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meminta Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menunda rencana serangan militer AS terhadap Iran, di tengah berlanjutnya gelombang protes nasional di negara tersebut.

Permintaan itu disampaikan dalam percakapan telepon antara Netanyahu dan Trump, menurut seorang pejabat senior AS, Kamis (15/1/2026).

Percakapan tersebut berlangsung pada hari yang sama ketika Trump menyatakan telah menerima informasi dari “sumber yang sangat penting di pihak lain” bahwa otoritas Iran telah menghentikan pembunuhan terhadap demonstran dan tidak melanjutkan rencana eksekusi.

Pernyataan itu dipandang sebagai sinyal bahwa Trump tengah menjauh dari opsi serangan militer yang sebelumnya dipertimbangkan selama beberapa hari terakhir, dikutip dari laman NY Times, Jumat (16/1).

Meski demikian, seorang pejabat senior AS mengatakan Trump belum sepenuhnya mengesampingkan opsi militer yang diajukan para komandannya. Keputusan akhir, kata pejabat itu, masih bergantung pada langkah selanjutnya yang diambil aparat keamanan Iran dalam merespons protes massal.

Sejumlah mitra Amerika Serikat di kawasan juga melobi Washington agar tidak melancarkan serangan. Qatar, Arab Saudi, Oman, dan Mesir telah menyampaikan pesan serupa kepada pemerintahan Trump dalam dua hari terakhir, menurut seorang pejabat negara Teluk. Negara-negara tersebut memperingatkan bahwa serangan AS terhadap Iran berisiko memicu konflik regional yang lebih luas.

Pada saat yang sama, negara-negara Arab itu juga menyampaikan pesan kepada Teheran agar tidak menyerang negara-negara di kawasan jika Amerika Serikat memutuskan untuk menyerang Iran.

Menurut pejabat tersebut, keempat negara telah mengoordinasikan pesan diplomatik mereka kepada Washington dan Teheran. Dua diplomat regional juga mengonfirmasi bahwa sejumlah negara Arab secara aktif mendesak AS menahan diri.

“Kami percaya pada dialog dan penyelesaian setiap perbedaan di meja perundingan,” kata Menteri Negara Arab Saudi Adel al-Jubeir dalam sebuah forum mineral di Riyadh.

Selain berbicara dengan Trump, Netanyahu juga melakukan pembicaraan dengan Wakil Presiden AS JD Vance pada Selasa, bertepatan dengan pertemuan para pembantu utama Trump di Gedung Putih untuk meninjau opsi militer terhadap Iran, kata pejabat AS.

Sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengonfirmasi Trump telah berbicara dengan Netanyahu, namun menolak mengungkapkan rincian pembicaraan tersebut. Kantor perdana menteri Israel tidak memberikan komentar.

Leavitt juga mengatakan AS menerima laporan bahwa Iran menunda eksekusi yang direncanakan, seraya menegaskan bahwa Washington telah memperingatkan Teheran akan adanya “konsekuensi serius” jika pembunuhan terhadap demonstran berlanjut.

 

Tindakan Keras Pemerintah

Dua pejabat Israel mengatakan otoritas pertahanan menilai tingkat pembunuhan demonstran di Iran telah menurun. Penurunan itu dikaitkan dengan tindakan keras pemerintah yang mematikan dan pemutusan akses internet secara luas, yang menyebabkan skala protes mengecil sejak Minggu. Protes anti-pemerintah telah berlangsung sejak akhir Desember dan dinilai sebagai salah satu yang terbesar dalam beberapa dekade terakhir.

Iran sempat menutup wilayah udaranya untuk penerbangan komersial pada Rabu malam, sebelum kembali membukanya.

Sementara Trump mengisyaratkan kemungkinan penundaan aksi militer, Pentagon memanfaatkan jeda tersebut untuk memperkuat kehadiran militer AS di kawasan. Kapal induk USS Abraham Lincoln beserta sejumlah kapal pengawal tengah berlayar dari Laut China Selatan menuju Timur Tengah, dengan estimasi perjalanan sekitar satu pekan.

Selain itu, AS juga menyiapkan pengerahan tambahan pesawat tempur, termasuk jet tempur, pesawat serang, dan pesawat pengisian bahan bakar, sebagian besar dari Eropa. Sejumlah pesawat dijadwalkan menggantikan unit yang ada di Timur Tengah, dengan kemungkinan perpanjangan masa tugas tergantung perkembangan situasi.

Pentagon juga mengirimkan tambahan sistem pertahanan udara, termasuk rudal pencegat, untuk melindungi pangkalan-pangkalan AS di kawasan, khususnya Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi potensi serangan balasan Iran jika AS melancarkan operasi militer.

Para pejabat AS mengatakan penguatan militer tersebut bertujuan menekan Iran agar tidak meningkatkan kekerasan terhadap demonstran, sekaligus memberi Trump lebih banyak opsi strategis. Washington juga bersiap menghadapi kemungkinan Iran menyerang aset militer AS di kawasan, termasuk pangkalan di Qatar serta pasukan di Irak dan Suriah. Israel juga dinilai berpotensi menjadi sasaran.

Selama konflik 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni lalu, yang juga melibatkan Amerika Serikat, Teheran meluncurkan sejumlah rudal balistik ke wilayah Israel.