Kisah Dokter di Gaza Usai 665 Hari Ditahan Israel: Mencoba Bangkit Meski Tanpa Peralatan dan Obat-obatan Memadai

Muhanna, yang merupakan salah satu dokter spesialis anestesi dan konsultan perawatan darurat paling senior di Gaza, ditahan oleh pasukan Israel pada Desember 2023, ketika Rumah Sakit al-Awda sedang berada dalam kondisi pengepungan.

Diterbitkan 13 Januari 2026, 09:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Gaza - Satu-satunya hal yang membuat Ahmed Muhanna mampu bertahan selama 22 bulan di dalam penjara dan pusat-pusat penahanan Israel adalah mimpinya untuk kembali kepada keluarganya dan ke Gaza. Namun, ketika ia akhirnya dibebaskan setelah 665 hari sebagai tahanan dan tiba di rumah, ia mendapati bahwa seluruh tempat yang selama ini hidup dalam ingatannya telah dilenyapkan.

Selama berada di penjara, Muhanna mengisahkan bahwa ia dan para tahanan lainnya sepenuhnya terputus dari dunia luar. Saat dibebaskan, ia diantar melintasi perbatasan dan melewati wilayah Gaza hingga tiba di tempat kerjanya, Rumah Sakit al-Awda. Skala kehancuran yang ia saksikan di sepanjang perjalanan tersebut, katanya, "membuat kulit saya merinding … dada terasa sesak dan air mata mulai mengalir."

Kini, hampir tiga bulan setelah pembebasannya dan meskipun gencatan senjata secara resmi masih berlaku, ia mengatakan bahwa dirinya dan rekan-rekannya menghadapi tekanan hebat. Sistem layanan kesehatan yang telah hancur kini berjuang menangani gelombang penyakit dan kematian yang sebenarnya dapat dicegah. 

Muhanna menuturkan bahwa ia kembali ke rumah sakit yang kehilangan sebagian besar staf, peralatan medis, dan obat-obatan.

Selama ia ditahan, menurut Muhanna, 75 rekan kerjanya di Rumah Sakit al-Awda tewas. Berdasarkan data dari organisasi non-pemerintah Healthcare Workers Watch, sejak 7 Oktober 2023, sebanyak 1.200 tenaga kesehatan Palestina telah dibunuh dan 384 orang ditahan oleh militer Israel.

"Saya merasakan rasa sakit dan kesedihan yang mendalam atas apa yang kami hadapi," ungkap Muhanna seperti dikutip dari laporan The Guardian.

Meski gencatan senjata masih berlaku, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 77 persen populasi Gaza, termasuk 100.000 anak-anak masih menghadapi tingkat kerawanan pangan akut yang tinggi. Muhanna dan stafnya terus merawat anak-anak yang mengalami malnutrisi parah, yang kemudian mengembangkan masalah medis kompleks akibat kondisi tersebut.

Sejumlah organisasi hak asasi manusia internasional, termasuk sebuah komisi PBB, telah menyimpulkan bahwa Israel telah melakukan genosida di Gaza, dengan dasar antara lain pemblokiran bantuan kemanusiaan dan penghancuran sistematis terhadap sistem layanan kesehatan.

"Penargetan militer secara sengaja terhadap sistem kesehatan telah berhasil, tidak hanya menghancurkan infrastrukturnya, tetapi juga kini merampas akses masyarakat terhadap layanan medis dan meningkatkan angka kematian," ujar Muhanna.

 

Masih Memiliki Motivasi

Menurut Kantor Hak Asasi Manusia PBB (OHCHR), 94 persen rumah sakit di Gaza telah rusak atau hancur, sehingga pasien—termasuk bayi baru lahir—tidak mendapatkan perawatan penting. Laporan tersebut menegaskan bahwa meskipun ada gencatan senjata, Israel tetap mencegah masuknya pasokan medis dan nutrisi yang sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup warga sipil.

Muhanna menggarisbawahi bahwa kondisi ini menyebabkan kematian yang seharusnya dapat dicegah.

Situasi kini semakin memburuk setelah Israel mengumumkan pencabutan izin operasional terhadap 37 organisasi non-pemerintah internasional (INGO) yang bekerja di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki, dengan alasan organisasi-organisasi tersebut tidak memenuhi persyaratan dalam aturan pendaftaran baru. Di antara organisasi yang terdampak terdapat lembaga bantuan medis, termasuk Medecins Sans Frontieres (MSF) atau Doctors Without Borders.

"Hari ini, tidak ada satu pun mesin MRI yang berfungsi di Gaza. Hanya ada satu pemindai CT," ungkap Muhanna.

Kondisi ini membuat para dokter, yang sangat bergantung pada peralatan tersebut, kesulitan mengambil keputusan medis yang tepat dalam kasus-kasus yang mengancam nyawa.

Ia mengatakan bahwa pasien kanker menderita karena tumor mereka terus berkembang sementara pengobatan yang tersedia diblokir dan telah terjadi peningkatan kasus gagal ginjal akibat kekurangan mesin dialisis.

"Saya seorang dokter, tetapi saya tidak berdaya dan tidak mampu melakukan apa pun untuk menolong orang-orang," tutur Muhanna.

Namun, diakuinya bahwa justru kondisi inilah yang memotivasinya untuk terus bekerja.

Derita di Tahanan Israel

Sejak mulai bekerja kembali segera setelah dibebaskan, Muhanna mengatakan bahwa ia belum memiliki waktu untuk beristirahat atau memproses trauma yang dialaminya selama berada di fasilitas penahanan Israel. Ia mengaku disiksa, dihina, serta tidak diberi makanan dan perawatan medis.

Sebuah laporan PBB terbaru menyatakan bahwa dalam praktiknya, Israel menjalankan penyiksaan secara terorganisir, sehingga pola tersebut dinilai sebagai kebijakan negara, meskipun tidak dinyatakan secara resmi.

Pada awal penahanannya, Muhanna dibawa ke pusat penahanan Sde Teiman, tempat selama 24 hari matanya terus-menerus ditutup dan tangannya diborgol. Saat dipindahkan ke fasilitas penahanan di al-Naqab, ia mengatakan dirinya dipukuli dengan sangat brutal oleh pasukan Israel hingga salah satu tulang rusuknya patah. Ia mengaku meminta obat pereda nyeri, namun tidak diberikan apa pun.

"Tidak ada layanan medis sama sekali," ujarnya.

Ia mengungkapkan lebih jauh bahwa dirinya menyaksikan dua orang meninggal dunia akibat tidak adanya perawatan medis, yang menurutnya sepenuhnya dapat dicegah, termasuk seorang pria berusia 37 tahun yang menunjukkan tanda-tanda sumbatan saluran pencernaan.

"Saya mendatangi penjaga penjara dan memberi tahu mereka bahwa dia harus segera dibawa ke klinik dan mungkin memerlukan operasi darurat," kenang Muhanna. Namun, menurutnya, para penjaga tidak melakukan apa pun.

"Ia kesakitan sepanjang malam … perutnya membengkak dan ia mulai memuntahkan kotoran karena sumbatan usus tersebut," cerita Muhanna.

Muhanna mengatakan bahwa ia selalu merasa lapar karena para tahanan hanya diberi makanan dalam jumlah sangat sedikit. Pada suatu waktu, ia ditempatkan bersama 40 tahanan lain dalam sebuah tenda kecil yang dikelilingi pagar, tanpa akses ke kamar mandi dari pukul 16.00 hingga 05.00 setiap hari.

"Itu tidak kurang dari sebuah tragedi," ujarnya.

Faktanya, Muhanna tidak pernah didakwa atas tuduhan apa pun.

Saat dibebaskan, ia dibawa kembali ke Gaza.

"Orang pertama yang saya cari adalah ibu saya," katanya. "Saya memeluknya erat. Saya sangat mengkhawatirkannya … Kami tetap berpelukan selama lima menit sebelum akhirnya ada yang mampu memisahkan kami."

Bertemu kembali dengan istri dan anak-anaknya, menurutnya, terasa seperti hidup kembali.

"Itu adalah momen kebahagiaan yang tidak terlukiskan," ujarnya.

Putri tengahnya, Salma, yang masih sangat kecil ketika ia ditahan, kini hampir setinggi dirinya.

Saat berusaha pulih dari trauma penahanan dan menghadapi krisis medis besar yang melanda Gaza, Muhanna mengakui bahwa ia tidak memiliki banyak harapan untuk masa depan.

"Tidak ada masa depan bagi anak-anak saya di sini," tegas Muhanna. "Saya ingin mereka aman, memiliki masa depan, bisa belajar di universitas yang baik, dan bekerja dengan layak. Ketika saya tidak berada di rumah sakit, saya sering mencoba memikirkan tempat untuk membawa mereka keluar bersama, tetapi tidak ada tempat untuk dituju. Tidak ada ruang hijau. Gaza dulu memiliki kehidupan—restoran dan pantai—namun sekarang tidak ada yang tersisa."