Filipina Tangkap Mantan Jenderal yang Menyerukan Pelengseran Presiden Marcos

Sang mantan jenderal ditahan oleh Kepolisian Nasional Filipina sesaat setelah kembali dari liburan di Thailand.

Diterbitkan 05 Januari 2026, 17:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Manila - Seorang mantan jenderal Angkatan Udara Filipina ditangkap pada Senin (5/1/2026) di Bandar Udara Internasional Ninoy Aquino atas tuduhan penghasutan setelah diduga mendorong militer untuk meninggalkan dukungan terhadap Presiden Ferdinand Marcos Jr.

Romeo Poquiz, mantan perwira tinggi berusia 67 tahun, sebelumnya secara terbuka menyerukan agar angkatan bersenjata menarik dukungan mereka dari Presiden Marcos di tengah mencuatnya skandal korupsi. 

Menteri Dalam Negeri Filipina Jonvic Remulla mengatakan kepada AFP bahwa Poquiz ditangkap setibanya dari Bangkok pada Senin pagi.

"Ia ditangkap atas tuduhan penghasutan yang berkaitan dengan pernyataan-pernyataannya baru-baru ini. Ia ditangkap saat tiba dari Bangkok pagi ini," ujar Remulla melalui pesan singkat.

Dalam konferensi pers terpisah, Kepala Kepolisian Filipina sementara Jose Nartatez menyatakan bahwa penahanan Poquiz dilakukan berdasarkan surat perintah penangkapan yang dikeluarkan pada 5 Desember.

Poquiz sendiri mengonfirmasi penangkapannya melalui sebuah unggahan di Facebook.

"Saya ditangkap oleh (Philippine National Police Criminal Investigation and Detection Group) di Terminal Bandara … Hidup rakyat Filipina!" tulisnya, seraya menambahkan bahwa dirinya dibawa ke markas besar kepolisian di Camp Crame, Manila.

Pengacara Poquiz, Ferdinand Topacio, menuturkan kepada AFP bahwa dirinya belum diizinkan bertemu dengan kliennya. Ia menegaskan bahwa seruan agar militer menarik dukungan dari Presiden Marcos tidak dapat dikategorikan sebagai hasutan langsung. Menurutnya, pernyataan tersebut lebih merupakan diskusi mengenai kemungkinan konsekuensi dari praktik korupsi dan penyelewengan.

"Ini menunjukkan bahwa pemerintah lebih memilih mengecam pihak yang berbicara tentang dugaan penyelewengan, ketimbang menindak mereka yang mencuri uang rakyat," kata Topacio. 

 

Militer Filipina Diklaim Tetap Solid

Pada Oktober lalu, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Filipina Jenderal Romeo Brawner mengatakan bahwa jajaran staf inti militer telah menolak pendekatan dari sejumlah perwira purnawirawan yang dipimpin Poquiz. Menurut Brawner, para perwira aktif menegaskan bahwa militer tetap "solid" dalam mendukung konstitusi.

Ia menambahkan bahwa sejumlah perwira purnawirawan diduga telah mendekati perwira-perwira muda untuk mendorong terjadinya kudeta atau pembentukan junta militer guna "mengatur ulang" masyarakat Filipina, tanpa menyebutkan identitas pihak-pihak yang terlibat. 

Dugaan dorongan terhadap intervensi militer tersebut muncul ketika negara itu tengah bergelut dengan proyek-proyek pengendalian banjir fiktif yang diyakini telah merugikan hingga miliaran peso.

Presiden Marcos, yang menjadikan penipuan berskala luas itu sebagai fokus utama pidato kenegaraannya pada Juli, sejak itu melihat baik kawan maupun lawan politiknya terseret dalam skandal tersebut. Sejumlah oposisi politik bahkan menyakinkan bahwa Marcos merupakan salah satu pihak yang diuntungkan dari praktik korupsi terkait.

Dalam acara penandatanganan anggaran nasional baru pada Senin, Presiden Marcos tidak menyinggung penangkapan Poquiz.