Said Abdullah: Duet Destry-Aida di BI Jamin Kepastian Pasar Keuangan

Prabowo ajukan Destry Damayanti dan Aida S. Budiman ke DPR untuk puncak BI. Said Abdullah menyebut langkah ini teknokratis dan anti-politisasi.

Diterbitkan 18 Agustus 2026, 19:09 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto resmi mengajukan Destry Damayanti sebagai calon Gubernur Bank Indonesia dan Aida S. Budiman sebagai calon Deputi Gubernur Senior BI kepada DPR RI. Penunjukan dua figur berlatar teknokrat ini dinilai memperkuat kepastian di pasar keuangan.

Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR, Said Abdullah, menyambut baik komposisi Destry–Aida. Menurutnya, pilihan tersebut berbasis kapabilitas dan menjadi sinyal positif bagi pelaku pasar.

"Pilihan Presiden Prabowo mengajukan Destry dan Aida adalah pilihan teknokrasi. Langkah ini menepis anggapan politisasi BI, dan komitmen untuk menjaga pasar keuangan tetap kondusif, disisi yang lain, tentu ini bisa kita maknai penghormatan terhadap independensi BI," kata Said Abdullah dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (18/8/2026).

Rekam Jejak dan Stabilitas Pasar

Said menilai, rekam jejak panjang Destry dan Aida di sektor keuangan menjadi modal penting untuk mengukuhkan kepercayaan pasar. Keduanya dikenal lama berkecimpung dalam perumusan kebijakan makroekonomi.

Ia menunjuk stabilitas pasar ketika Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatan Gubernur BI. Saat masa transisi tersebut, kepemimpinan harian ditangani Destry bersama tim, dan kondisi pasar tetap terjaga.

Menurut Said, kepercayaan yang terbentuk dari pengalaman keduanya membuat proses suksesi di bank sentral berlangsung mulus tanpa mengganggu sentimen pelaku pasar.

Tantangan BI dan Sinkronisasi Kebijakan

Di tengah gejolak ekonomi global, Said mengingatkan tantangan BI tidak ringan. Selain menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi, bank sentral kini memikul mandat tambahan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi serta memajukan UMKM.

Ia menekankan pentingnya merumuskan core kebijakan yang menyatukan arah moneter BI dengan kebijakan fiskal pemerintah. Sebagai ilustrasi, ia menyebut praktik China yang sengaja melemahkan Yuan untuk mendongkrak ekspor, dan Amerika Serikat yang memilih memperkuat Dolar AS guna menekan inflasi.

Menurutnya, Indonesia perlu menentukan fokus serupa: apakah akan mengarahkan kebijakan untuk mendukung ekspor komoditas, atau menekan inflasi pangan dan energi yang berbasis impor.

"Saya percaya, mengingat relasi Purbaya, Menteri Keuangan dan Destry, calon Gubernur BI sudah terjadi lama, bahkan bisa jadi mereka berdua sudah level soulmate. Harusnya tidak sulit bagi keduanya untuk untuk bekerja bersama, merumuskan core kebijakan, dan berbagi peran," ujar Said.

DPR RI bersiap menindaklanjuti surat Presiden terkait pencalonan pimpinan BI tersebut guna memberi kepastian arah kebijakan moneter bagi pelaku pasar ke depan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6