Cegah Kecelakaan Air pada Anak dengan Langkah Keselamatan Ini

Para orang tua diminta untuk waspada dan berhati-hati agar anak terhidar dari kecelakaan air.

Diterbitkan 31 Desember 2025, 13:16 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Meski musim panas hampir berakhir, cuaca hangat masih melanda banyak wilayah dan aktivitas berenang tetap menjadi pilihan keluarga untuk menghabiskan waktu luang.

Namun di balik aktivitas tersebut, risiko tenggelam pada anak-anak masih menjadi ancaman serius yang menuntut perhatian orang tua dan pengasuh, dikutip dari laman Poolsafely.gov, Rabu (31/12/2025).

Tenggelam tercatat sebagai penyebab utama kematian tidak disengaja pada anak usia satu hingga empat tahun, serta penyebab kematian tidak disengaja kedua terbesar pada anak usia lima hingga 14 tahun. Data kampanye Pool Safely dari Komisi Keamanan Produk Konsumen Amerika Serikat (CPSC) menunjukkan, rata-rata 379 anak meninggal akibat tenggelam di kolam renang dan spa setiap tahun.

CPSC menegaskan, risiko tersebut meningkat ketika anak-anak berada di sekitar air tanpa pengawasan memadai, baik di pantai, danau, kolam umum, maupun kolam renang di halaman rumah. Kondisi ini menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya penggunaan kolam renang pribadi dalam beberapa tahun terakhir.

Data juga menunjukkan ketimpangan risiko di antara kelompok masyarakat. Angka kematian akibat tenggelam lebih tinggi di kalangan anak-anak dari kelompok minoritas, khususnya Afrika-Amerika dan Hispanik. Menurut USA Swimming Foundation, mitra kampanye Pool Safely, sekitar 64 persen anak Afrika-Amerika tidak bisa berenang atau memiliki kemampuan berenang yang sangat terbatas. Ironisnya, 65 persen dari mereka menyatakan ingin berenang lebih sering.

Isu ini turut disorot dalam film dokumenter berjudul A Film Called Blacks Can’t Swim, yang mengulas hambatan budaya, sosial, dan ekonomi yang membuat banyak orang dewasa kulit hitam tidak pernah belajar berenang. Sutradara film tersebut, Ed Accura, mengungkapkan bahwa stereotip dan minimnya akses menjadi faktor utama rendahnya kemampuan berenang di komunitas tersebut.

Accura menyebut keputusannya belajar berenang muncul dari kesadaran bahwa ia tidak akan mampu menolong anaknya jika terjadi keadaan darurat di air. Pengalaman itu, menurutnya, menjadi pengingat penting bagi orang tua untuk membiasakan anak berada di air sejak usia dini, sekaligus mengajarkan keselamatan dengan cara yang menyenangkan.

CPSC melalui kampanye Pool Safely kembali mengingatkan sejumlah langkah keselamatan yang dinilai krusial dan perlu diterapkan sepanjang tahun. Orang tua dan pengasuh diminta mendaftarkan anak ke kelas renang sedini mungkin agar menguasai keterampilan dasar, seperti mengapung, menginjak air, dan mencapai tepi kolam. Berbagai pilihan kelas gratis atau berbiaya rendah tersedia melalui pusat komunitas, YMCA, maupun dinas taman dan rekreasi setempat.

Pengawasan ketat juga ditekankan sebagai kunci utama pencegahan. Anak-anak tidak boleh ditinggalkan sendirian di dalam atau di sekitar air, meski hanya sesaat. CPSC menganjurkan penunjukan satu orang dewasa sebagai “Pengawas Air” khusus yang fokus mengawasi anak tanpa terdistraksi oleh ponsel atau aktivitas lain.

 

Patuh pada Imbauan Penjaga Pantai

Selain itu, orang tua diingatkan untuk tidak sepenuhnya bergantung pada penjaga pantai, karena area pengawasan bisa terbatas. Jika seorang anak hilang, pencarian pertama harus segera difokuskan ke area air.

Bahaya lain yang disoroti adalah saluran pembuangan kolam dan spa. Anak-anak perlu diajarkan untuk tidak bermain di dekat lubang hisap, karena daya sedotnya dapat menjebak bahkan orang dewasa. CPSC menekankan pentingnya penutup saluran pembuangan yang memenuhi standar keselamatan federal dan meminta masyarakat menghindari kolam atau spa dengan penutup yang rusak atau hilang.

Langkah pengamanan tambahan juga dianjurkan, termasuk pemasangan pagar setinggi minimal 1,2 meter yang mengelilingi kolam, gerbang yang menutup dan mengunci otomatis, alarm pintu dari rumah ke kolam, serta penutup kolam dan spa yang berfungsi baik.

Terakhir, CPSC mendorong orang tua dan pengasuh untuk mempelajari teknik pertolongan pertama dan resusitasi jantung paru (CPR) bagi anak-anak. Dalam banyak kasus tenggelam, orang terdekat menjadi penolong pertama sebelum bantuan medis tiba. Pelatihan CPR anak tersedia melalui rumah sakit, pusat komunitas, dan Palang Merah Amerika.

Dengan risiko yang masih tinggi, otoritas keselamatan menegaskan bahwa pencegahan tenggelam bukan hanya isu musiman, melainkan tanggung jawab bersama yang harus dijalankan setiap saat.