AS Sita Kapal Tanker Minyak di Lepas Pantai Venezuela, Tekanan terhadap Maduro Meningkat

Amerika Serikat menyebut akan terus mengejar pergerakan ilegal minyak Venezuela yang dikenai sanksi.

Diterbitkan 21 Desember 2025, 17:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington D.C - Amerika Serikat menyita sebuah kapal tanker minyak di perairan internasional lepas pantai Venezuela. Penyitaan tersebut dikonfirmasi langsung oleh Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Kristi Noem pada Sabtu (20/12/2025), di tengah eskalasi tekanan Washington terhadap sektor energi Venezuela.

Langkah ini dilakukan hanya beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan penerapan “blokade total” terhadap seluruh kapal tanker minyak yang dikenai sanksi dan keluar-masuk Venezuela, dikutip dari laman CNA, Minggu (21/12/2025).

Penyitaan terbaru ini menjadi yang kedua dalam beberapa pekan terakhir, bersamaan dengan peningkatan signifikan kehadiran militer AS di kawasan Karibia.

Dalam pernyataan yang diunggah di media sosial, Noem mengatakan kapal tersebut disita oleh Penjaga Pantai AS setelah terdeteksi terakhir kali berlabuh di Venezuela.

“Amerika Serikat akan terus mengejar pergerakan ilegal minyak yang dikenai sanksi dan digunakan untuk mendanai terorisme narkoba di kawasan ini,” ujar Noem.

“Kami akan menemukan Anda, dan kami akan menghentikan Anda.”

Sejumlah pejabat AS sebelumnya mengonfirmasi kepada Reuters bahwa kapal tersebut memang telah disita. Namun, Penjaga Pantai AS dan Pentagon belum memberikan penjelasan lebih lanjut dan mengarahkan pertanyaan ke Gedung Putih. Hingga berita ini diturunkan, Gedung Putih, Kementerian Perminyakan Venezuela, dan perusahaan minyak negara PDVSA belum memberikan tanggapan resmi.

Perusahaan manajemen risiko maritim asal Inggris, Vanguard, menyebut kapal yang disita diduga adalah tanker berbendera Panama bernama Centuries, yang dicegat di wilayah timur Barbados, Laut Karibia. Menurut Jeremy Paner, mantan penyelidik Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) AS, kapal tersebut sejatinya tidak masuk dalam daftar sanksi Washington.

“Penyitaan kapal yang tidak dikenai sanksi ini menunjukkan eskalasi lebih lanjut tekanan pemerintahan Trump terhadap Venezuela,” kata Paner. Ia juga menilai langkah tersebut bertentangan dengan pernyataan Trump sebelumnya yang menyebut blokade hanya berlaku bagi kapal tanker yang telah dikenai sanksi.

Pada Selasa lalu, Trump menyatakan telah memerintahkan “blokade penuh” terhadap seluruh kapal tanker minyak yang dikenai sanksi dan beroperasi di jalur Venezuela. Sejak penyitaan pertama pekan lalu, puluhan kapal tanker bermuatan jutaan barel minyak dilaporkan memilih bertahan di perairan Venezuela, menghindari risiko disita oleh otoritas AS.

Akibatnya, ekspor minyak mentah Venezuela tercatat menurun tajam. Meski demikian, tidak semua kapal pengangkut minyak Venezuela berada di bawah sanksi. Sejumlah pengiriman masih dilakukan oleh kapal yang mengangkut minyak dari Iran dan Rusia, serta oleh perusahaan yang memperoleh izin khusus, termasuk Chevron asal AS.

 

China Jadi Pembeli Terbesar Minyak Mentah Venezuela

China tetap menjadi pembeli terbesar minyak mentah Venezuela, dengan kontribusi sekitar 4 persen dari total impor minyaknya. Analis memperkirakan pengiriman pada Desember mencapai rata-rata lebih dari 600.000 barel per hari.

Untuk sementara, pasokan minyak global dinilai masih mencukupi. Namun, analis memperingatkan bahwa jika blokade bertahan lama dan hampir satu juta barel pasokan harian hilang dari pasar, harga minyak berpotensi terdorong naik.

Sejak AS menjatuhkan sanksi energi terhadap Venezuela pada 2019, para pedagang dan kilang yang membeli minyak negara tersebut banyak menggunakan “armada bayangan”—kapal tanker yang menyamarkan identitas dan lokasi mereka. Armada ini dinilai sangat rentan terhadap tindakan penegakan hukum AS.

Dokumen internal PDVSA menunjukkan kapal Centuries—yang menggunakan nama samaran Crag—memuat sekitar 1,8 juta barel minyak mentah Merey untuk dikirim ke China. Kapal tersebut meninggalkan perairan Venezuela pada Rabu lalu dan sempat dikawal singkat oleh angkatan laut Venezuela.

Hingga pekan ini, dari lebih 70 kapal tanker armada bayangan yang beroperasi di perairan Venezuela, sekitar 38 telah dikenai sanksi Departemen Keuangan AS. Setidaknya 15 di antaranya tercatat membawa minyak mentah dan produk bahan bakar.

Kampanye tekanan pemerintahan Trump terhadap Presiden Venezuela Nicolás Maduro juga disertai peningkatan aktivitas militer AS di kawasan. Dalam beberapa bulan terakhir, AS dilaporkan melakukan lebih dari dua lusin operasi militer di Samudra Pasifik dan Laut Karibia dekat Venezuela, yang menewaskan sedikitnya 100 orang.