Dino Patti Djalal Puji Peran Anwar Ibrahim dalam Diplomasi ASEAN

Dino mengaku tak suka dengan kehadiran Trump dalam forum ASEAN yang berorientasi pada pencitraan pribadi ketimbang substansi diplomasi kawasan.

Diterbitkan 25 November 2025, 18:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menilai Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim seharusnya mendapatkan apresiasi internasional atas keberhasilannya memediasi kesepakatan perdamaian ASEAN.

Menurut Dino, peran Anwar Ibrahim layak diakui lebih tinggi dibanding keterlibatan tokoh global seperti Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Dalam pandangannya, kehadiran Trump pada forum terkait ASEAN kala itu lebih berorientasi pada pencitraan pribadi ketimbang substansi diplomasi kawasan. Dino menyebut langkah Trump datang ke ASEAN dilakukan demi membangun narasi sebagai kandidat peraih Nobel Perdamaian.

“Saya tidak suka Presiden Trump ingin datang ke ASEAN untuk membingkai dirinya sebagai kandidat Nobel. ASEAN adalah ASEAN, kita punya banyak masalah dan sebagainya,” ujar Dino dalam oress briefing bersama awak media di Jakarta pada Selasa (25/11/205).

Ia menilai proses pendamaian dalam isu kawasan merupakan hasil kerja negara-negara ASEAN, bukan individu dari luar kawasan. Karena itu, sosok Anwar Ibrahim disebut lebih layak mendapat sorotan global.

“Malaysia, Perdana Menteri Anwar Ibrahim, yang seharusnya dipuji dan diberi penghargaan karena telah menengahi kesepakatan damai. Karena dia adalah ketua dan dialah yang membuat keputusan,” tegas Dino.

Selain Trump, Dino juga menyebut Tiongkok sebagai pihak yang turut memberi kontribusi. Meski demikian, ia menilai Beijing menunjukkan sikap diplomasi yang lebih tenang dan bijaksana.

“Tiongkok pun punya peran, tapi mereka cukup hebat. Mereka berada di belakang layar dan mereka tahu hal-hal ini perlu ditangani dengan bijaksana,” katanya.

Dino berharap prinsip bahwa ASEAN harus menjadi pemimpin dalam penyelesaian konflik di kawasan tetap dijaga. Ia menekankan ASEAN tidak boleh bergantung pada kekuatan luar untuk mengatasi persoalan regional seperti konflik Laut China Selatan hingga krisis Myanmar.

“Saya berharap ASEAN akan selalu menjadi penggerak dalam mengelola konflik regional di kawasan kita sendiri… itulah yang kami yakini,” pungkasnya.