Pria di Rusia Ganti Nama Tiap Tahun Demi Kabur dari Bayar Tunjangan Anak

Sampai sejauh apa pria asal Rusia ini rela pergi demi menghindari tanggung jawab kepada anaknya?

Diterbitkan 16 November 2025, 19:16 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Moskow - Anak yang telah dititipkan kepada orang tua berarti menandakan mampu untuk menjaga dan merawatnya, meski ada saja orang yang bersikap sangat keji dalam hal membayar tunjangan anak.

Seorang pria Rusia mengganti nama lengkapnya setiap tahun hanya untuk menghindari pemberian nafkah kepada anaknya. Ia mengganti nama belakang, nama depan, dan patronimiknya setahun sekali, dilansir dari Oddity Central, Minggu (16/11/2025).

Kepala layanan juru sita di wilayah tersebut, Roman Korenev, yang bertugas menagih pembayaran tunjangan anak di Tyumen, Rusia, mengungkap kasus pria yang namanya tidak disebutkan itu sangat absurd.

Korenev membagikan kisahnya kepada media Rusia 72.RU, yang mengatakan bahwa setiap tahun ia kembali menggunakan nama lamanya dan mengulang seluruh proses dari awal.

Setelah identitas barunya diperbarui dan tercatat, ia berharap utang tunjangan anaknya yang menjadi kewajiban sebagai seorang ayah ikut terhapus dan tidak dapat melacaknya lagi.

Modus Terbongkar

Namun, usahanya tidak bertahan lama. Ketika nama seseorang berubah, kantor catatan sipil melaporkan informasi ini kepada petugas pengadilan, sehingga debitur tidak dapat menghindarinya lagi.

Tindakannya harus diselesaikan secara hukum. Petugas pengadilan Tyumen kepada wartawan, mengatakan bahwa penduduk setempat secara rutin menggunakan trik konyol untuk menghindari kewajiban mereka yang telah berpisah dengan anaknya, dan harus memberikan nafkah secara rutin.

Padahal, menjadi seorang ayah adalah hal luar biasa, yang mana anak akan mengikuti sosoknya dan terkadang selalu melihatnya sebagai panutan dalam hidup.

Sayangnya, tidak semua ingin menjalankan komitmen dalam menjaga anak-anaknya. Kebohongan untuk tidak membayar tunjangan juga ada yang memalsukan kematiannya sendiri, hingga memalsukan tes DNA agar terhindar dari membayar tunjangan anak. 

 

 

Berujung Pengadilan Hukum

Ketakutan seseorang pun berusaha mencegah petugas pengadilan masuk ke rumahnya, yang mengaku sedang menderita agorafobia, yaitu gangguan kecemasan berlebihan terhadap ruang terbuka, sehingga petugas pengadilan tidak bisa memasuki rumahnya.

Tetapi, triknya kali ini terbongkar setelah diketahui memiliki dua apartemen dan salah satunya sedang dalam proses penyitaan.

Meskipun hampir banyak yang memberikan berbagai alasan dan melakukan berbagai cara untuk menghindari juru sita. Debitur akan tetap terlacak karena adanya sistem pencatatan sipil dan pengawasan pengadilan yang memantau perubahan data mereka.

Â