Liputan6.com, Seoul - Sebanyak 59 warga Korea Selatan yang ditahan di Kamboja karena diduga terlibat dalam jaringan penipuan daring lintas negara akhirnya dipulangkan ke Seoul pada Sabtu (11/10/2025) pagi.
Mereka tiba di Bandara Internasional Incheon dengan tangan diborgol, dikawal ketat oleh aparat penegak hukum.
Pemulangan ini dilakukan beberapa hari setelah pemerintah Korea Selatan mengirimkan tim khusus ke Kamboja untuk membahas kasus penculikan dan eksploitasi warga negaranya di pusat-pusat penipuan digital di negara tersebut.
Advertisement
Menurut laporan PBB, sedikitnya 200.000 orang di Asia Tenggara terjerat dalam berbagai skema penipuan daring. Banyak dari mereka awalnya tergiur oleh janji pekerjaan bergaji tinggi, namun berakhir dipaksa bekerja dalam jaringan kriminal yang mengoperasikan penipuan finansial, kripto, hingga asmara daring.
Langkah cepat pemerintah Korea Selatan diambil setelah muncul laporan bahwa seorang mahasiswa Korea yang terlibat dalam skema serupa meninggal dunia akibat penyiksaan di Kamboja, seperti diberitakan Reuters. Selain 59 orang yang dipulangkan, lima warga Korea lainnya juga dideportasi karena pelanggaran pidana lain.
Sebagian besar dari mereka ditangkap dalam operasi besar-besaran oleh otoritas Kamboja, sementara lima lainnya menyerahkan diri dan melarikan diri dari jaringan tersebut, menurut laporan BBC Korea. Setibanya di Seoul, seluruhnya akan langsung dibawa ke kantor polisi untuk diperiksa.
Menurut pejabat yang dikutip Agence France-Presse (AFP), penangkapan terhadap kelompok ini dilakukan di dalam pesawat carteran tak lama setelah mereka naik. Berdasarkan hukum Korea Selatan, pesawat milik maskapai nasional dianggap sebagai bagian dari wilayah hukum Korea, sehingga aparat dapat menegakkan surat perintah penangkapan di dalamnya.
Penasihat Keamanan Nasional Korea Selatan, Wi Sung-lac, menyebut bahwa para warga yang dipulangkan itu terlibat baik secara sukarela maupun terpaksa dalam jaringan penipuan. “Sebagian besar dari mereka tetap harus dianggap telah melakukan tindakan kriminal,” ujarnya.
Kerja Sama Korsel dan Kamboja
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5053947/original/060982100_1734363139-Untitled.jpg)
Pemulangan ini juga bertepatan dengan penguatan kerja sama diplomatik antara Korea Selatan dan Kamboja dalam upaya memberantas kejahatan siber lintas negara. Melalui unggahan di media sosial, Perdana Menteri Kamboja Hun Manet menyampaikan bahwa ia telah bertemu dengan pejabat tinggi Korea Selatan untuk membahas upaya bersama dalam menekan dan memerangi penipuan daring.
“Kamboja dan Republik Korea akan terus memperkuat kolaborasi kami untuk mencegah, menekan, dan memerangi penipuan daring secara lebih efektif,” tulis Hun Manet.Pemulangan ini juga terjadi di tengah tindakan keras pemerintah Amerika Serikat terhadap kerajaan bisnis di Kamboja yang dituduh menjalankan skema penipuan kripto. Dalam operasi tersebut, pihak berwenang menyita lebih dari 14 miliar dolar AS (sekitar Rp220 triliun) dalam bentuk bitcoin.
Penipuan kripto hanyalah satu dari banyak bentuk kejahatan siber yang dioperasikan dari kawasan Asia Tenggara. Selain itu, ada pula modus penipuan asmara daring, di mana pelaku berpura-pura menjadi kekasih online untuk menipu korban dan menguras uang mereka.
PBB memperkirakan jaringan-jaringan semacam ini menghasilkan miliaran dolar setiap tahun bagi kelompok kriminal, menjadikannya salah satu ancaman terbesar bagi keamanan digital dan kemanusiaan di kawasan Asia Tenggara.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317472/original/091873000_1786014229-IMG_3312.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320374/original/084584100_1786347702-Screenshot_2026-08-10_130418.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9307902/original/001690200_1785120590-Pjs_Gubernur_BI_Destry_Destry_Damayanti-27_Juli_2026d.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528276/original/060137100_1782459682-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-26T143742.924.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4813938/original/075369100_1714122003-daniel-bernard-qjsmpf0aO48-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1409526/original/062736400_1479454522-Korea_Selatan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1409475/original/099185100_1479452337-Kamboja.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1122767/original/093692500_1453795825-20160126-Mengenal-Guryong_-Kawasan-Kumuh-di-Balik-Gempita-Gangnam-Style-AFP-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4918148/original/021523300_1723631128-20240814-Gelombang_Panas_Seoul-AFP_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259237/original/020699900_1781492590-charles-chen-hDkEPjvY4lE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5310039/original/090428800_1754652469-Upbit_2.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256941/original/035574200_1781177622-IMG_1647.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5555481/original/007026600_1776159118-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5369206/original/047420200_1759458941-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3046085/original/053383100_1581323844-20200210-Pasar-Saham-di-Asia-Turun-Imbas-Wabah-Virus-Corona-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4575133/original/042307900_1694670021-kereta_kim.jpg)