Serangan Israel ke Gaza di Tengah Gencatan Senjata, 5 Orang Tewas

Apa alasan penyerangan Israel meski gencatan senjata telah disepakati?

Diterbitkan 15 Oktober 2025, 11:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Gaza - Meskipun kesepakatan gencatan senjata antara Hamas dan Israel telah dicapai, kekerasan kembali pecah di Gaza.

Sedikitnya lima warga Palestina tewas dalam serangan pasukan Israel di Kota Gaza, menurut laporan sumber medis dikutip dari Al Jazeera, Rabu (15/10/2025).

Sumber dari Rumah Sakit Al-Ahli Arab menyebutkan, kelima korban tewas akibat tembakan di lingkungan Shujayea pada Selasa (14/10).

Militer Israel mengklaim bahwa pasukannya menembak untuk “meredakan ancaman” dari sekelompok orang yang mendekati posisi mereka di Gaza utara.

Dalam pernyataannya, militer Israel menuturkan bahwa pasukannya melepaskan tembakan ke arah “tersangka” yang diduga melintasi “garis kuning” — area penempatan ulang yang ditetapkan sesuai kesepakatan gencatan senjata yang berlaku sejak Jumat lalu.

Gencatan Senjata yang Rawan Runtuh

Pekan lalu, Hamas dan Israel menyetujui penghentian sementara pertempuran. Kesepakatan itu mencakup pemulangan seluruh tawanan Israel, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal, dengan imbalan pembebasan sekitar 2.000 tahanan Palestina di penjara-penjara Israel.

Tahap pertama perjanjian juga mencakup penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah Gaza. Tentara diharuskan mundur dari garis depan menuju area “garis kuning”. Namun, menurut peta yang dibagikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, sekitar 58 persen wilayah Gaza masih berada di bawah kendali Israel.

Pemerintah Israel sendiri belum memberikan komitmen untuk sepenuhnya menarik pasukannya dari Gaza. Dokumen Gedung Putih bahkan menyebut Israel dapat tetap mempertahankan kehadiran militernya di zona penyangga hingga “tidak ada lagi ancaman teror yang muncul kembali” — celah yang, menurut para pengamat, bisa membuat pasukan Israel bertahan tanpa batas waktu.

 

Ketegangan Masih Tinggi di Gaza

Shujayea, salah satu distrik padat penduduk di Gaza, disebut sebagai area yang akan tetap dijaga ketat oleh pasukan Israel. Tembakan pada Selasa pagi menjadi bukti rapuhnya situasi di lapangan. Koresponden Al Jazeera melaporkan bahwa suara senjata terdengar saat warga mencoba mendekati wilayah yang diklaim sebagai zona militer.

Sementara itu, para pengungsi Palestina yang berulang kali berpindah selama perang kini mulai mencoba kembali ke rumah mereka, meski situasi keamanan masih genting.

Selain itu, isu perlucutan senjata Hamas menjadi salah satu titik rawan dalam kelanjutan gencatan senjata ini. Israel menegaskan bahwa Hamas harus menyerahkan seluruh persenjataannya — tuntutan yang hingga kini belum direspons secara penuh oleh kelompok tersebut.

Ketegangan juga meningkat di antara faksi-faksi bersenjata di Gaza. Pada Minggu lalu, Kementerian Dalam Negeri Gaza melaporkan sedikitnya 27 orang tewas, termasuk delapan anggota Hamas, dalam bentrokan antara pasukan keamanan Hamas dan sebuah klan bersenjata. Insiden serupa kembali dilaporkan pada Selasa, memperlihatkan betapa rapuhnya stabilitas di wilayah itu.