Eropa Diguncang Protes Menentang Serangan Israel terhadap Global Sumud Flotilla yang Menuju Gaza

Solidaritas untuk Palestina menggema dari Prancis hingga Yunani.

Diterbitkan 03 Oktober 2025, 11:31 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Brussels - Puluhan ribu orang di berbagai kota Eropa turun ke jalan pada Kamis (2/10/2025) untuk memprotes serangan Israel terhadap Global Sumud Flotilla—rangkaian kapal pembawa bantuan kemanusiaan menuju Gaza yang dicegat dan disita oleh Angkatan Laut Israel.

Flotilla, yang oleh penyelenggara digambarkan sebagai upaya terkoordinasi terbesar untuk mengirim bantuan lewat laut, diserang pada 1 Oktober saat mendekati perairan Gaza. Angkatan Laut Israel secara paksa mengambil alih puluhan kapal dan menahan ratusan penumpang, termasuk warga dari sejumlah negara Eropa.

Prancis

Di Prancis seperti dilansir kantor berita Anadolu, massa berkumpul di Place de la Republique yang bersejarah di Paris untuk mengecam serangan itu. Sambil mengibarkan bendera Palestina, mereka meneriakkan slogan seperti "Israel pergi, Palestina bukan milikmu" dan "Hidup Palestina".

Para pengunjuk rasa menuntut pembebasan aktivis flotilla, termasuk warga negara Prancis, yang masih ditahan oleh Israel.

Belgia

Di Belgia, ratusan orang berdemonstrasi di depan Kementerian Luar Negeri Belgia di Brussel dalam aksi yang diselenggarakan sejumlah kelompok masyarakat sipil. Dengan tema "All eyes on Gaza", para demonstran berbaris mengenakan kefiyeh dan membawa bendera Palestina sebagai simbol solidaritas.

Pawai berpindah dari Kementerian Luar Negeri Belgia menuju Lapangan Luksemburg di depan Parlemen Eropa, di mana massa meneriakkan "Bebaskan Palestina", "Solidaritas untuk Palestina", dan "Kebebasan untuk Gaza".

Para pengunjuk rasa mendesak lembaga Belgia maupun Uni Eropa agar meningkatkan dukungan terhadap flotilla dan rakyat Palestina.

Hentikan Genosida

Di Spanyol, aksi solidaritas digelar di 24 kota besar, dipimpin kelompok masyarakat sipil dan partai-partai politik sayap kiri. Madrid dan Barcelona menjadi pusat demonstrasi.

Ribuan orang berkumpul di depan Kementerian Luar Negeri Spanyol di Palacio de Santa Cruz, Madrid, menuntut pembebasan segera anggota flotilla yang ditahan serta mendesak pemerintah menjatuhkan sanksi lebih keras pada pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Teriakan "Boikot Israel", "Hentikan genosida", dan "Bebaskan Palestina" menggema di ibu kota, sementara sebagian pengunjuk rasa mencoba memblokir jalan utama hingga terjadi bentrokan singkat dengan polisi.

Di Barcelona, aksi berlangsung di pelabuhan tempat flotilla berangkat pada 30 Agustus, serta di depan Konsulat Israel. Keluarga warga Catalan yang ditahan ikut bergabung, menuntut tindakan diplomatik segera.

Demonstrasi dilaporkan pula mengguncang Valencia, Pamplona, Toledo, Seville, dan Bilbao, dengan perkiraan aksi akhir pekan akan menarik lebih banyak massa.

Kemarahan juga masuk ke ranah politik lokal. Di parlemen regional Madrid, partai sayap kiri Mas Madrid membentangkan bendera Palestina di dalam ruang sidang, memicu perdebatan dengan anggota Partai Populer yang berkuasa.Di parlemen Aragon, anggota dewan mengheningkan cipta untuk Gaza dan flotilla, sementara wakil dari partai sayap kanan jauh Vox keluar ruangan sebagai bentuk protes.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Spanyol Jose Manuel Albares dilaporkan melancarkan apa yang oleh media lokal disebut "diplomasi telepon", dengan menghubungi para menteri luar negeri dari sejumlah negara.

Swiss

Di Swiss, ribuan orang berdemo di Lapangan Lisa Girardin, Jenewa, sambil meneriakkan slogan dalam bahasa Prancis, Arab, dan Inggris. Mereka menuntut diakhirinya blokade Israel dan menegaskan hak atas pengiriman bantuan kemanusiaan tanpa hambatan ke Gaza.

Aksi serupa terjadi di Bern, Basel, Lugano, Lucerne, dan Zurich. Demonstrasi di Jenewa berlangsung sekitar dua jam di bawah pengawasan ketat polisi dan berakhir tanpa insiden.

Bebaskan Palestina

Di Inggris, ratusan orang berkumpul di Parliament Square, London, sebelum berbaris menuju Whitehall, lokasi kantor-kantor pemerintah. Para demonstran yang membawa bendera Palestina berteriak "Bebaskan Palestina" dan "Jangan bom Gaza".

Ketika massa memadati jalan, lalu lintas terhenti, bahkan beberapa sopir bus membunyikan klakson sebagai tanda dukungan.

Polisi kemudian menghalangi para demonstran bergerak ke Trafalgar Square, yang berujung pada konfrontasi dan beberapa penangkapan. Aksi yang lebih kecil juga dilaporkan di bagian lain ibu kota.

Yunani

Di Yunani, ribuan orang berbaris di Athena menuju Kedutaan Besar Israel, sambil meneriakkan "Akhiri genosida di Gaza" dan "Buka blokade, bebaskan Palestina".

Penyelenggara membacakan pernyataan bersama yang mengecam Israel karena melanggar hukum internasional serta menegaskan bahwa misi flotilla adalah upaya sah untuk mengirim bantuan kemanusiaan.

Protes paralel berlangsung di Thessaloniki, Patras, Chania, Lesbos, Chios, Volos, dan Larissa, dengan peserta menuntut pembebasan segera 27 warga Yunani yang ditahan di atas flotilla.

 

 

Serangan Israel

Menurut keterangan penyelenggara, Angkatan Laut Israel menyerang flotilla ketika kapal-kapal itu mendekati pantai Gaza pada Rabu malam dan menahan sedikitnya 443 aktivis di dalamnya.

International Committee to Break the Siege on Gaza (ICBSG) mengonfirmasi bahwa 22 kapal telah diserang dan disita oleh Israel, serta 19 kapal diyakini telah diserang namun belum terdokumentasi.

Dari empat kapal yang masih tersisa, dua kapal pendukung telah berbalik arah, sementara kapal Marinet tetap melanjutkan perjalanan menuju Gaza meski masih jauh karena terlambat berlayar akibat gangguan teknis.

Flotilla ini, yang mayoritas membawa bantuan kemanusiaan dan pasokan medis, berlayar pada akhir Agustus. Ini adalah pertama kalinya dalam beberapa tahun sekitar 50 kapal bersama-sama berlayar menuju Gaza, dengan ratusan pendukung sipil di atasnya. Israel telah mempertahankan blokade terhadap Gaza—wilayah berpenduduk hampir 2,4 juta jiwa—selama hampir 18 tahun, dan memperketat pengepungan pada Maret lalu ketika menutup perbatasan serta menghentikan masuknya makanan dan obat-obatan, mendorong wilayah itu ke kelaparan.

Sejak Oktober 2023, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 66.200 warga Palestina di Gaza, di mana sebagian besar perempuan dan anak-anak. PBB dan kelompok-kelompok hak asasi manusia berulang kali memperingatkan bahwa Gaza sedang dijadikan wilayah yang tidak layak huni, dengan kelaparan dan penyakit yang terus menyebar dengan cepat.