Kabel Bawah Laut di Laut Merah Terputus, Ganggu Akses Internet Asia dan Timur Tengah

Negara mana saja yang terdampak peristiwa putusnya kabel bawah laut ini? Berikut selengkapnya.

Diperbarui 09 September 2025, 12:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Dubai - Putusnya kabel bawah laut di Laut Merah mengganggu akses internet di beberapa bagian Asia dan Timur Tengah, kata para ahli pada hari Minggu (7/9/2025), meskipun penyebab insiden itu belum segera jelas.

Ada kekhawatiran bahwa kabel-kabel tersebut menjadi sasaran dalam serangkaian serangan di Laut Merah oleh pemberontak Houthi Yaman, yang menggambarkan aksi itu sebagai upaya memberi tekanan pada Israel agar mengakhiri perangnya melawan Hamas di Gaza.

Kabel bawah laut merupakan salah satu tulang punggung internet, bersama dengan sambungan satelit dan kabel darat. Biasanya, penyedia layanan internet memiliki beberapa titik akses dan akan mengalihkan lalu lintas jika salah satunya gagal, meskipun hal itu dapat memperlambat akses bagi pengguna.

Microsoft mengumumkan melalui laman resminya bahwa kawasan Timur Tengah mungkin mengalami peningkatan latensi akibat terputusnya kabel serat optik bawah laut di Laut Merah. Perusahaan yang berbasis di Redmond, Washington, itu tidak segera merinci lebih jauh, namun mengatakan lalu lintas internet yang tidak melalui Timur Tengah tidak terdampak.

NetBlocks, lembaga pemantau akses internet, seperti dilansir AP menyebutkan bahwa serangkaian gangguan kabel bawah laut di Laut Merah telah menurunkan konektivitas internet di sejumlah negara, termasuk India dan Pakistan. Lembaga itu menyalahkan gangguan yang memengaruhi sistem kabel South East Asia–Middle East–Western Europe 4 (SMW4) dan India-Middle East-Western Europe (IMEWE) di dekat Jeddah, Arab Saudi.

Kabel SMW4 dijalankan oleh Tata Communications, bagian dari konglomerat India. Kabel IMEWE dijalankan oleh konsorsium lain di bawah pengawasan Alcatel Submarine Networks. Kedua perusahaan tidak menanggapi permintaan komentar.

Pakistan Telecommunications Co. Ltd., raksasa telekomunikasi di negara itu, menyatakan dalam keterangan pada Sabtu (6/9) bahwa telah terjadi putusnya kabel.

Arab Saudi tidak mengakui adanya gangguan dan pihak berwenang di sana tidak menanggapi permintaan komentar.

Di Kuwait, pihak berwenang mengaku kabel FALCON GCX yang melewati Laut Merah juga terputus, menyebabkan gangguan di negara kecil penghasil minyak itu. GCX tidak menanggapi permintaan komentar lebih jauh.

Di Uni Emirat Arab, tempat Dubai dan Abu Dhabi berada, pengguna internet pada jaringan milik negara Du dan Etisalat mengeluhkan lambatnya kecepatan internet. Namun, pemerintah tidak mengumumkan adanya gangguan.

Kecelakaan atau Serangan

Kabel bawah laut dapat terputus akibat jangkar kapal yang terjatuh, namun juga bisa menjadi sasaran serangan. Perbaikan bisa memakan waktu berminggu-minggu karena kapal dan kru harus memposisikan diri tepat di atas kabel yang rusak.

Putusnya kabel ini terjadi ketika pemberontak Houthi Yaman masih gencar melakukan serangkaian serangan yang menargetkan Israel terkait perang Israel-Hamas di Gaza. Israel sendiri meresponsnya dengan serangan udara.

Pada awal 2024, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan berada dalam pengasingan menuduh Houthi merencanakan serangan terhadap kabel bawah laut di Laut Merah. Beberapa kabel terputus, kemungkinan akibat kapal yang diserang oleh Houthi menyeret jangkarnya, namun pihak pemberontak membantah bertanggung jawab. Pada Minggu pagi, saluran satelit al-Masirah milik Houthi menyiarkan laporan NetBlocks yang menyebut telah terjadi pemutusan kabel.

Moammar al-Eryani, menteri informasi dari pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan berbasis di Yaman selatan, mengatakan bahwa pemutusan kabel tidak dapat dipisahkan dari serangkaian serangan langsung yang dilakukan oleh Houthi.

"Apa yang terjadi hari ini di Laut Merah seharusnya menjadi alarm bagi komunitas internasional, yang harus mengambil sikap tegas untuk menghentikan ancaman yang terus meningkat ini dan melindungi infrastruktur digital yang menjadi urat nadi dunia modern," kata al-Eryani.

Serangan Houthi terhadap Kapal

Sejak November 2023 hingga Desember 2024, Houthi menargetkan lebih dari 100 kapal dengan rudal dan drone terkait perang Israel-Hamas di Gaza. Dalam serangan mereka sejauh ini, Houthi telah menenggelamkan empat kapal dan menewaskan sedikitnya delapan pelaut.

Houthi yang didukung Iran menghentikan serangan mereka selama gencatan senjata singkat dalam perang tersebut. Mereka kemudian menjadi sasaran kampanye serangan udara intensif selama berminggu-minggu yang diperintahkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebelum dia menyatakan bahwa gencatan senjata telah dicapai dengan pemberontak. Houthi menenggelamkan dua kapal pada Juli, menewaskan sedikitnya empat orang di dalamnya, dengan lainnya diyakini ditahan oleh pihak pemberontak.

Serangkaian serangan terbaru Houthi terjadi di tengah ketidakpastian mengenai kemungkinan gencatan senjata baru dalam perang Israel-Hamas. Pada saat yang sama, masa depan pembicaraan antara AS dan Iran tentang program nuklir Iran yang melemah juga dipertanyakan, menyusul perang 12 hari yang dilancarkan Israel terhadap republik Islam tersebut. Dalam konflik itu, AS membombardir tiga fasilitas nuklir Iran.

Â