Irak Gali Kuburan Massal Korban Kekejaman ISIS, Diduga Berisi 4 Ribu Jenazah

Proses penggalian kuburan massal ini melibatkan pemerintah setempat hingga ahli forensik.

Diterbitkan 18 Agustus 2025, 16:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Baghdad - Pemerintah Irak mulai menggali sebuah lokasi yang diyakini sebagai salah satu kuburan massal terbesar peninggalan kelompok ISIS. Kuburan ini diduga menampung ribuan korban pembantaian yang dilakukan kelompok ekstremis tersebut ketika menguasai sebagian besar wilayah Irak pada 2014, sebelum akhirnya dikalahkan tiga tahun kemudian.

Penggalian dilakukan di kawasan al-Khafsa, sekitar 20 kilometer di selatan Mosul, kota terbesar kedua di Irak. Proses ini melibatkan pemerintah daerah, lembaga peradilan, tim forensik, Yayasan Syuhada Irak, serta direktorat khusus penanganan kuburan massal, demikian laporan Kantor Berita Pemerintah Irak, Minggu (17/8/2025).

Lokasi al-Khafsa sendiri merupakan lubang runtuhan sedalam sekitar 150 meter dan lebar lebih dari 100 meter. Para penyelidik meyakini tempat itu menjadi saksi salah satu pembantaian paling mengerikan yang dilakukan ISIS, dikutip dari laman Al Jazeera, Senin (18/8).

"Kami mulai bekerja pada 9 Agustus atas permintaan pemerintah Provinsi Nineveh," kata Ahmad Qusay al-Asady, kepala departemen penggalian kuburan massal di Yayasan Syuhada, kepada Associated Press.

Untuk tahap awal, tim hanya akan mengumpulkan sisa-sisa jenazah yang terlihat di permukaan serta bukti-bukti lain yang mungkin ditemukan. Ekshumasi penuh -- atau penggalian menyeluruh -- baru bisa dilakukan setelah Irak mendapatkan dukungan internasional.

Menurut al-Asady, hal itu diperlukan karena lokasi dipenuhi air belerang dan persenjataan yang belum meledak. Kondisi air yang menggenang juga dikhawatirkan mempercepat kerusakan jenazah sehingga menyulitkan identifikasi DNA.

"Al-Khafsa adalah situs yang sangat rumit," ujarnya.

Pemerintah memperkirakan kuburan massal tersebut menyimpan sedikitnya 4.000 jenazah, meski jumlah pastinya bisa lebih banyak. Sekitar 70 persen dari jasad yang diduga terkubur di sana diyakini merupakan anggota tentara dan polisi Irak, sementara sisanya adalah warga sipil, termasuk komunitas Yazidi yang menjadi target kekejaman ISIS.

 

Laporan dari Saksi Mata

Sejumlah saksi menyebut para pejuang ISIS kerap membawa tahanan dengan bus ke lokasi itu untuk dieksekusi.

“Banyak dari mereka dipenggal,” kata al-Asady.

Rabah Nouri Attiyah, seorang pengacara yang menangani lebih dari 70 kasus orang hilang di Nineveh, menyebut al-Khafsa kemungkinan adalah “kuburan massal terbesar dalam sejarah modern Irak.”

ISIS, yang pada masa jayanya menguasai wilayah seluas setengah dari Britania Raya di Irak dan Suriah dengan Raqqa sebagai pusatnya, terkenal dengan kekejaman brutal. Pada 2014, kelompok itu membantai ribuan warga Yazidi dan memperbudak ribuan perempuan mereka di Sinjar, Irak utara. Hingga kini, komunitas Yazidi masih berjuang memulihkan diri dari luka mendalam akibat tragedi tersebut.

Selain penggalian di al-Khafsa, otoritas Irak juga terus menyingkap kuburan-kuburan massal dari era Saddam Hussein, diktator yang digulingkan lewat invasi pimpinan AS pada 2003.