Profil Presiden Myanmar Myint Swe yang Meninggal Dunia di Usia 74 Tahun

Myint Swe menghembuskan napas terakhirnya hari ini, Kamis (7/8/2025) di rumah sakit militer Myanmar.

Diperbarui 07 Agustus 2025, 12:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Naypyidaw - Myint Swe, presiden Myanmar yang naik ke tampuk kekuasaan usai kudeta militer menggulingkan pemerintahan sipil Aung San Suu Kyi, meninggal dunia pada Kamis (7/8/2025) di usia 74 tahun.

Kabar duka ini dikonfirmasi oleh kantor informasi militer Myanmar, dikutip dari laman AP, Kamis (7/8).

Myint Swe menghembuskan napas terakhirnya di sebuah rumah sakit militer di ibu kota Naypyitaw. Militer menyebutkan bahwa pemakamannya akan dilakukan dengan upacara kenegaraan, meski tanggal pastinya belum diumumkan.

Kondisi kesehatan Myint Swe memang telah menurun drastis sejak tahun lalu. Pada Juli 2024, media pemerintah melaporkan bahwa ia menderita gangguan neurologis dan neuropati perifer yang membuatnya kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari, termasuk makan. Ia sempat dirawat intensif sejak 24 Juli lalu dan akhirnya menyerahkan wewenang kepresidenan kepada pemimpin junta militer, Jenderal Senior Min Aung Hlaing.

Profil Myint Swe

Myint Swe lahir di Myanmar pada 24 Juni 1951. Myint Swe adalah seorang jenderal purnawirawan yang memiliki karier panjang dalam militer Myanmar (Tatmadaw). Ia pernah menjabat sebagai Kepala Komando Regional Yangon, dan dikenal sebagai salah satu tokoh militer yang paling dipercaya oleh pimpinan junta.

Setelah pensiun dari militer, Myint Swe terjun ke ranah pemerintahan dan politik. Ia menjabat sebagai Ketua Menteri Yangon Region dari 2011 hingga 2016. Pada tahun 2016, ia ditunjuk sebagai Wakil Presiden Myanmar di bawah pemerintahan sipil yang dipimpin oleh Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD).

 

Presiden di Tengah Kudeta

Myint Swe ditunjuk sebagai pelaksana tugas presiden pada 1 Februari 2021, tepat ketika militer menangkap Presiden Win Myint dan pemimpin de facto Aung San Suu Kyi. Sebagai wakil presiden pertama dari partai pro-militer, ia naik menggantikan posisi Win Myint yang ditahan, meski legalitas langkah ini sempat dipertanyakan karena Win Myint tidak pernah secara resmi mengundurkan diri atau dinyatakan tidak mampu.

Dalam posisi barunya, Myint Swe menjadi kepala Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional, sebuah badan yang secara teori bersifat konstitusional, tetapi pada praktiknya berada di bawah kendali penuh militer. Dari posisi ini, ia menandatangani dekrit keadaan darurat yang secara efektif menyerahkan kekuasaan kepada Min Aung Hlaing.

Sepanjang masa jabatannya, Myint Swe lebih banyak menjalankan fungsi-fungsi simbolik dan administratif, sementara kekuasaan riil berada di tangan Min Aung Hlaing.

 

Karier Militer dan Rekam Jejak Politik

Sebelum terjun ke politik, Myint Swe adalah jenderal kawakan dan sekutu dekat pemimpin militer lama, Than Shwe. Ia pernah menjabat sebagai kepala menteri Yangon pada masa pemerintahan kuasi-sipil dari 2011 hingga 2016. Sebelumnya, ia juga lama menjabat sebagai komandan regional militer di bawah rezim militer sebelum transisi politik Myanmar.

Namanya pernah mencuat dalam sejarah kelam Myanmar saat memimpin penindakan brutal terhadap Revolusi Saffron tahun 2007, ketika demonstrasi damai oleh biksu Buddha berujung pada kekerasan. Puluhan tewas dan ratusan lainnya ditahan saat itu.

Ia juga terlibat dalam beberapa manuver politik penting militer Myanmar, termasuk penangkapan keluarga mantan diktator Ne Win pada 2002, serta penahanan mantan Perdana Menteri Jenderal Khin Nyunt pada 2004. Setelah itu, Myint Swe mengambil alih kendali atas jaringan intelijen militer yang sebelumnya dipimpin Khin Nyunt.

Atas perannya dalam kudeta 2021, ia termasuk dalam daftar sanksi yang dijatuhkan oleh Departemen Keuangan AS bersama para pemimpin militer lainnya.

Myint Swe meninggalkan seorang istri dan dua orang anak.