Liputan6.com, Seoul - Sistem pendidikan Korea Selatan baru-baru ini diguncang dengan kasus yang melibatkan pihak bimbingan belajar ilegal, pembobolan, serta upaya pencurian lembaran soal ujian oleh orang tua dan guru.
Kedua pelaku tersebut viral usai melakukan aksinya, dengan tujuan mempertahankan seorang siswa tetap menjadi yang terbaik di kelasnya.
Pada tanggal 4 Juli, sekitar pukul 02.00 dini hari waktu setempat, alarm berbunyi di sebuah sekolah perempuan di Andong, Gyeongsang Utara, dan rekaman CCTV menunjukkan dua perempuan mencoba mengakses kantor tempat penyimpanan lembaran soal ujian, dilansir dari Odditycentral, Jumat (8/8/2025).
Advertisement
Kedua pelaku ditangkap keesokan harinya, dan penyelidikan menemukan bahwa salah satu dari mereka adalah ibu dari seorang siswa berprestasi di sekolah tersebut, dan yang satunya adalah mantan guru di sana yang telah menjadi tutor siswa yang sama selama bertahun-tahun.
Surat kabar JoongAng Daily melaporkan, guru berusia 31 tahun yang terlibat dalam kasus ini ternyata masih memiliki akses ke sekolah, meski sudah tidak lagi mengajar sejak Februari 2024.
Ia berhasil masuk ke gedung sekolah pada malam hari dengan memanfaatkan pemindai sidik jari. Diduga, data biometriknya masih tersimpan dalam sistem keamanan sekolah, sehingga ia bisa keluar-masuk semaunya.
Dilihat dari hasil rekaman CCTV, guru tersebut bersama seorang perempuan berusia 48 tahun menyusuri lorong menuju ruang guru di lantai tiga, tempat soal-soal ujian disimpan.Meskipun berhasil memasukkan kode sandi dengan benar, sistem alarm tetap aktif dan langsung berbunyi, membuat keduanya panik dan kabur.
Sayangnya, seluruh aksi nekat itu terekam kamera. Mereka ditangkap hanya sehari setelah kejadian.
Semata-mata hanya untuk Peringkat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4373776/original/085608300_1679971553-bhjkb.jpg)
Dari hasil pemeriksaan polisi, diketahui bahwa rekan sang guru adalah ibu dari seorang siswi berprestasi di sekolah tersebut. Pihak kepolisian menduga keduanya telah lama bekerja sama demi menjaga nilai si anak tetap sempurna.
Guru tersebut rupanya pernah menjadi wali kelas sang siswi, dan kini diduga telah lama memberikan les privat yang dilarang oleh hukum di Korea Selatan.
Berdasarkan catatan transaksi bank, ia menerima bayaran sebesar 2 juta won (sekitar Rp23 juta) setiap menjelang ujian sejak tahun 2023.
Polisi meyakini uang itu merupakan imbalan atas bocoran soal yang diberikan kepada sang ibu.
Advertisement
Sistem Pendidikan di Korea Selatan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4813938/original/075369100_1714122003-daniel-bernard-qjsmpf0aO48-unsplash.jpg)
Kasus ini pun memberikan kesadaran akan sistem keamanan dalam dunia pendidikan di Korea Selatan, yang selama ini dikenal ketat dan kompetitif.
Pihak sekolah membuka suara mengenai kasus ini. Mereka mengonfirmasi bahwa guru berusia 31 tahun itu ternyata sudah setidaknya tujuh kali masuk ke sekolah setelah resmi mengundurkan diri pada Februari tahun lalu.
Ini menjadi bukti pendukung kalau aksinya ini bukan hanya sekali.
Bukan cuma itu, ia juga diduga menyuap manajer fasilitas sekolah agar bisa masuk seenaknya. Polisi bahkan menemukan bahwa sang manajer turut membantu menghapus rekaman CCTV untuk menghilangkan jejak.
“Susah dipercaya kejadian kayak di drama Korea bisa benar-benar terjadi di lingkungan kita,” kata seorang wali murid.
“Rumornya sih, semua ini demi si anak bisa masuk sekolah kedokteran,” tambahnya.
Saat ini, polisi masih menyelidiki keduanya dengan berbagai tuduhan, termasuk masuk tanpa izin ke fasilitas khusus dan mengganggu operasional sekolah.
Sementara itu, sang siswa yang diduga mendapat keuntungan dari aksi mereka. Ia dikeluarkan dari sekolah dan semua hasil ujiannya pun dinyatakan tidak sah.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564063/original/036332000_1776924981-cek_fakta_-_BSU_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5496891/original/097309800_1770608635-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-09T103958.761.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710243/original/038928400_1782790135-IMG_3966.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715404/original/084148600_1782803575-Cek_fakta_bsu_25_juta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3884974/original/049169400_1759077558-1000617200.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4175059/original/062461200_1664428869-Gedung_Sekolah_Berkonsep_Net_Zero_Carbon-HERMAN__4_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1409526/original/062736400_1479454522-Korea_Selatan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1238139/original/082014900_1521205275-pp.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8593999/original/023505700_1782562806-ekuador.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560483/original/094482200_1782508278-000_B8GH2KY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776140/original/038104800_1782846348-063_2284057834.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776135/original/014006000_1782843284-063_2284049459.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776134/original/059322300_1782843171-000_B8UA24W.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3299157/original/094356500_1605660408-AP20322768020969.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8505254/original/095572100_1782426499-063_2283328466.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710453/original/039368100_1782790641-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8378845/original/006458400_1782257129-England_s_Harry_Kane.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389795/original/062452300_1782269925-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260740/original/033303400_1781654609-063_2281951293.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715414/original/056650500_1782804083-AP26180851266408.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8648213/original/089479800_1782659469-LJS_x_Ocean_Star_200_Event_Photo_Franz_Linder.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5369206/original/047420200_1759458941-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3046087/original/088905900_1581323845-20200210-Pasar-Saham-di-Asia-Turun-Imbas-Wabah-Virus-Corona-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8650687/original/066270800_1782664551-South_Korea_head_coach_Hong_Myung-bo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8621093/original/089503900_1782612244-063_2283639746.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4947987/original/074651000_1726736254-fotor-ai-20240919153528.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8526854/original/004442800_1782457565-Hong_Myung-bo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1630299/original/099218000_1498026113-20170621-Drone-Milik-Korea-Utara-Jatuh-di-Korea-Selatan-AFP-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5313720/original/013816600_1755053631-Untitled.jpg)