Tolak Diperiksa, Mantan Presiden Korea Selatan Lepas Seragam Tahanan dan Berbaring di Lantai Sel

Yoon Suk Yeol adalah presiden Korea Selatan pertama yang ditahan saat masih menjabat.

Diperbarui 02 Agustus 2025, 07:48 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Seoul - Mantan Presiden Korea Selatan yang dipenjara, Yoon Suk Yeol, kembali menolak menjalani pemeriksaan oleh penyidik pada Jumat (1/8/2025).

Kali ini, dia menggunakan cara baru untuk melawan: melepas seragam tahanan dan berbaring di lantai ruang tahanannya.

Yoon, yang dicopot dari jabatannya pada April karena menerapkan darurat militer, kini menjalani persidangan atas dakwaan pemberontakan dan tuduhan lain. Dia juga diselidiki dalam kasus yang tidak langsung terkait dekrit darurat militer pada 3 Desember 2024, namun melibatkan dirinya, istrinya, dan sejumlah pihak lain.

Pada Jumat, Min Joong-ki, penasihat khusus yang ditunjuk oleh rival liberalnya yang kini menjadi presiden, Lee Jae Myung, mengirimkan penyidik untuk menjemput Yoon dari pusat penahanan dekat Seoul setelah dia dua kali menolak permintaan untuk hadir dalam pemeriksaan.

Tim Min ditugaskan untuk menyelidiki dugaan keterlibatan istri Yoon, Kim Keon Hee, termasuk tuduhan bahwa dia bersama suaminya menyalahgunakan pengaruh dalam proses penunjukan calon legislatif partai penguasa pada pemilu tahun 2022.

Tim Min memiliki surat perintah penahanan dari pengadilan yang memberi wewenang kepada mereka untuk membawa Yoon keluar dari fasilitas penahanan secara paksa, namun mereka berharap kerja sama sukarela dari Yoon.

"Tanpa mengenakan seragam tahanan, tersangka berbaring di lantai dan memberikan perlawanan keras terhadap penahanan," kata asisten penasihat khusus, Oh Jeong-hee, dalam jumpa pers seperti dilansir AP.

Menteri Kehakiman Jung Sung-ho secara terpisah mengungkapkan kepada anggota parlemen bahwa Yoon sempat melepas celana pendek dan kaus tahanannya, lalu memakainya kembali setelah para penyidik pergi.

Oh menuturkan bahwa timnya menahan diri untuk tidak menggunakan kekerasan demi alasan keselamatan, namun telah memberi tahu Yoon bahwa mereka akan mengeksekusi surat perintah tersebut pada kesempatan berikutnya. Dia mengimbau Yoon untuk bekerja sama karena masyarakat Korea Selatan secara cermat mengamati apakah hukum ditegakkan secara adil kepada semua orang.

Protes dari Pengacara Yoon

Laporan media lokal menyebutkan, pengacara Yoon, Yu Jeong-hwa, menuduh tim penasihat khusus telah merusak martabat dan kehormatan kliennya dengan mengungkapkan detail soal pakaian yang dikenakan Yoon di dalam tahanan.

Tim kuasa hukum Yoon sebelumnya mengatakan kliennya tidak dapat menghadiri persidangannya maupun menjalani pemeriksaan oleh penyidik karena masalah kesehatan.

Dalam pernyataan yang dirilis pada Kamis (31/7), mereka menyebutkan Yoon mengalami gangguan kardiovaskular, sistem saraf otonom, dan penglihatan. Mengutip pernyataan dari rumah sakit yang tidak disebutkan namanya, mereka mengaku bahwa Yoon berisiko mengalami kebutaan karena tidak mendapat perawatan medis selama tiga bulan terakhir.

Dekrit darurat militer yang diberlakukan Yoon, yang mengerahkan tentara bersenjata ke jalan-jalan Seoul, hanya berlangsung selama beberapa jam sebelum akhirnya dibatalkan secara bulat oleh parlemen.

Yoon berdalih bahwa dekrit tersebut adalah upaya putus asa untuk menarik dukungan publik dalam perjuangannya melawan "kejahatan" dari Partai Demokrat—partai oposisi utama saat itu yang dipimpin oleh Lee—yang telah menggagalkan agenda pemerintahannya, memakzulkan pejabat tinggi, dan memangkas anggaran yang diusulkan pemerintah.