Pengakuan WNI di Rusia Saat Gempa Magnitudo 8,8 Guncang Kamchatka

Ketua PERMIRA Rusia Akbar Rizki menceritakan pengalamannya terkait gempa magnitudo 8,8 yang melanda Kamchatka.

Diterbitkan 30 Juli 2025, 17:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Moskow - Gempa berkekuatan magnitudo 8,8 mengguncang wilayah Kamchatka, Rusia Timur, disusul gempa susulan bermagnitudo 7,0. Meski tergolong kuat dan menjadi yang terbesar sejak tahun 1952, mahasiswa dan warga negara Indonesia (WNI) di Rusia dilaporkan dalam kondisi aman.

Ketua Persatuan Mahasiswa Indonesia di Rusia (PERMIRA), Akbar Rizki, memastikan tidak ada dampak yang dirasakan oleh WNI di Moskow maupun Vladivostok.

"Saya tinggal di Moskow, dan sejauh ini aktivitas warga berjalan normal seperti biasa. Tidak ada dampak langsung yang kami rasakan," ujarnya saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (30/7/2025).

Vladivostok merupakan wilayah yang relatif dekat dengan pusat gempa di Kamchatka. Namun, Akbar menyebut, tidak ada getaran yang dirasakan di wilayah tersebut.

"Saya sudah menghubungi teman-teman mahasiswa di Vladivostok, mereka bilang tidak merasakan getaran sama sekali. Kondisi di sana sangat aman," jelasnya.

Menurut Akbar, saat ini terdapat sekitar 18 mahasiswa Indonesia yang menetap di Vladivostok.

Himbauan Resmi dari KBRI

Meski belum ada himbauan resmi, KBRI Moskow tetap memantau situasi. Akbar menambahkan bahwa pihak konsuler KBRI telah menyampaikan agar WNI tetap waspada dan segera menghubungi hotline KBRI jika terjadi keadaan darurat.

“Dari pihak KBRI memang belum ada pengumuman resmi, tapi saya sempat komunikasi dengan pihak konsuler, dan mereka menyampaikan WNI di wilayah terdampak diminta tetap berhati-hati,” ucapnya.

Gempa Terkuat

Mengutip media lokal Rusia seperti RBC dan Ria.ru, gempa yang terjadi di Semenanjung Kamchatka ini disebut sebagai gempa terkuat dalam beberapa dekad e terakhir.

Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia serta Gubernur Kamchatka, Vladimir Solodov, menyatakan bahwa skala gempa kali ini mengingatkan pada peristiwa serupa yang terakhir terjadi pada 1952.