Venus Ternyata Masih Aktif Secara Geologis, Ini Temuan Terbaru NASA

Para ahli menemukan proses geologis Venus setelah lebih dari 30 tahun sejak wahana Magellan milik NASA pertama kali memetakan permukaannya dengan radar

Diterbitkan 29 Mei 2025, 05:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) menemukan tanda-tanda bahwa planet Venus masih aktif secara geologis. Selama ini, Venus sering dianggap sebagai planet mati dan tidak aktif.

Sebab, tidak ada bukti yang cukup kuat mengenai dinamika internal dalam planet ini. Namun, temuan baru ini membalikkan asumsi lama tersebut dan membuka perspektif baru dalam studi planet tetangga bumi ini.

Melansir laman SciTechDaily pada Rabu (28/05/2025), hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan oleh jurnal Science Advances pada 14 Mei 2025. Para ilmuwan menyatakan bahwa permukaan Venus ternyata masih dibentuk oleh aktivitas geologi dari dalam planet itu sendiri.

Para ahli menemukan proses geologis Venus setelah lebih dari 30 tahun sejak wahana Magellan milik NASA pertama kali memetakan permukaannya dengan radar. Para ilmuwan menemukan bukti adanya material panas yang naik dari interior Venus, sebuah indikasi kuat bahwa proses geologi masih berlangsung.

Penemuan ini memperkuat dugaan bahwa Venus memiliki dinamika internal yang lebih kompleks dan aktif. Bahkan, proses ini menyerupai bumi dalam beberapa hal, meskipun Venus tidak memiliki sistem tektonik lempeng yang seperti di Bumi.

Penelitian ini berfokus pada puluhan struktur berbentuk cincin besar di permukaan Venus yang disebut coronae. Struktur ini terbentuk ketika batuan panas dari mantel dalam mendorong kerak ke atas dan menyebabkan permukaan runtuh, membentuk pola melingkar yang khas.

Tim ilmuwan yang dipimpin oleh Anna Gülcher dan Sebastian Cascioli dari ETH Zurich, mensimulasikan berbagai skenario pembentukan coronae dan membandingkannya dengan data dari radar Magellan. Hasil simulasi tersebut menunjukkan kesesuaian yang mengejutkan.

Dari 75 coronae yang dianalisis, 52 di antaranya tampak berada di atas gumpalan mantel panas yang naik ke permukaan. Fenomena ini menunjukkan adanya proses aktif yang sedang terjadi.

 

Bukan Planet Geologis Mati

Hal ini menandakan bahwa Venus bukan planet geologis mati, melainkan masih memiliki aktivitas internal yang signifikan. Secara keseluruhan, Venus diketahui memiliki ratusan coronae, dan sebagian besar berada di wilayah dengan kerak yang tipis dan panas.

Simulasi terbaru memperkirakan bahwa kerak Venus bisa retak atau bahkan mencair jika ketebalannya sekitar 65 kilometer, dan di beberapa tempat mungkin lebih tipis dari itu. Proses pencairan dan pelepasan kerak ini berperan dalam membentuk struktur permukaan Venus, serta berpotensi mendaur ulang air dan material lain ke dalam interior planet.

Tak hanya berdampak pada struktur geologi, aktivitas ini juga bisa memengaruhi atmosfer Venus yang terkenal padat dan panas, dengan suhu permukaan mencapai lebih dari 460 derajat Celsius dan tekanan 92 kali lebih besar dari Bumi. Aktivitas vulkanik yang masih berlangsung bisa menjadi sumber gas-gas tertentu seperti sulfur dioksida di atmosfernya.

Temuan ini menjadi landasan penting bagi misi-misi eksplorasi Venus di masa depan. NASA sedang mempersiapkan dua misi besar, VERITAS (Venus Emissivity, Radio Science, InSAR, Topography, and Spectroscopy) yang akan memetakan permukaan Venus dengan resolusi dua hingga empat kali lebih tinggi dibanding misi sebelumnya.

Sementara itu, misi DAVINCI (Deep Atmosphere Venus Investigation of Noble gases, Chemistry, and Imaging) yang dijadwalkan meluncur pada 2029 untuk menyelidiki komposisi atmosfer dan kimia permukaan Venus lebih dalam. Selain NASA, Badan Antariksa Eropa (ESA) juga merencanakan misi EnVision pada awal dekade 2030-an.

Misi ini akan membawa radar dan spektrometer untuk melakukan pemetaan resolusi tinggi serta meneliti aktivitas geologis dan sejarah vulkanisme di Venus.

(Tifani)