Venus Disebut Lebih Mirip Bumi, Begini Penjelasannya

Magellan memetakan hampir 98 persen permukaan Venus menggunakan radar, karena cahaya tampak tidak dapat menembus atmosfer tebal planet tersebut. Para ilmuwan menyelidiki fitur geologi raksasa yang disebut coronae, yakni struktur melingkar besar di permukaan Venus.

Diterbitkan 17 Mei 2025, 05:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Selama ini, Venus dikenal sebagai planet yang ekstrem karena memiliki suhu permukaan yang sangat panas, bahkan mencapai sekitar 475 derajat Celsius. Planet ini juga memiliki tekanan atmosfer sekitar 92 kali lebih besar dibandingkan bumi, setara dengan tekanan yang ada di kedalaman hampir satu kilometer di bawah laut.

Selain itu, atmosfer Venus sebagian besar terdiri dari karbon dioksida dengan awan tebal asam sulfat. Hal ini menciptakan hujan asam yang sangat korosif dan jelas tak ramah bagi kehidupan seperti yang kita kenal.

Namun, sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances mengungkapkan bahwa planet ini ternyata lebih mirip Bumi daripada yang selama ini kita bayangkan. Melansir laman Science Alert pada Jumat (16/05/2025), penelitian ini berasal dari analisis data lama milik NASA yang dikumpulkan oleh wahana antariksa Magellan pada awal 1990-an.

Magellan memetakan hampir 98 persen permukaan Venus menggunakan radar, karena cahaya tampak tidak dapat menembus atmosfer tebal planet tersebut. Para ilmuwan menyelidiki fitur geologi raksasa yang disebut coronae, yakni struktur melingkar besar di permukaan Venus.

Awalnya, para peneliti mengira coronae adalah kawah akibat tumbukan meteorit. Namun, analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa coronae adalah hasil dari aktivitas vulkanik dalam planet tersebut.

Penemuan ini penting karena menjadi indikasi bahwa Venus tidak sepenuhnya "mati secara geologis" seperti yang sebelumnya diasumsikan. Coronae, yang dalam bahasa Latin berarti "mahkota", memiliki bentuk yang mencolok, lingkaran besar dengan bagian tengah yang amblas dan retakan-retakan konsentris yang menyebar dari pusatnya.

Diameter coronae bisa mencapai ratusan kilometer. Fenomena ini diyakini terjadi ketika material panas dari dalam planet naik ke atas, proses yang disebut mantle plume.

Fenomena ini mendorong permukaan ke atas membentuk semacam kubah. Kubah ini kemudian runtuh ke dalam, dan lava merembes keluar, membentuk cincin yang khas.

Tim peneliti mengembangkan model komputer untuk memahami bagaimana plume panas menciptakan coronae. Mereka lalu membandingkan hasil model ini dengan data gravitasi dan topografi dari misi Magellan.

Hasilnya mencengangkan, dari 75 coronae yang dianalisis, 52 di antaranya berada di atas struktur yang menunjukkan adanya plume aktif, aterial panas dan ringan yang masih naik dari kedalaman planet. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas geologis di Venus masih berlangsung hingga hari ini.

Sementara bumi memiliki sistem lempeng tektonik, di mana kerak planet bergerak, bertubrukan, dan menyusup ke dalam mantel, menghasilkan gempa bumi, pegunungan, dan daur ulang material kerak. Venus, meskipun tidak menunjukkan tanda-tanda sistem lempeng tektonik yang aktif, ternyata tetap menunjukkan dinamika internal yang signifikan.

 

2 Proses Utama Geologis

Para peneliti percaya bahwa dua proses utama geologis yang terjadi di Bumi juga mungkin terjadi di Venus, meskipun melalui mekanisme berbeda. Subduksi di Bumi terjadi saat satu lempeng tektonik menyusup di bawah yang lain.

Di Venus, subduksi mungkin terjadi akibat dorongan dari bawah yang menyebabkan kerak menyebar, bertubrukan, lalu sebagian terdorong ke bawah. Lalu, lithospheric dripping adalah proses di mana bagian bawah kerak planet yang memanas, menjadi lebih padat, dan mulai "menetes" ke dalam mantel.

Proses ini terjadi secara perlahan dan meninggalkan jejak topografi yang bisa diidentifikasi lewat radar gravitasi. Penemuan ini bukan hanya membuka wawasan baru tentang dinamika Venus, tapi juga memberikan petunjuk tentang masa lalu bumi.

Beberapa ilmuwan berspekulasi bahwa Venus mungkin dulunya memiliki iklim yang lebih ramah dan geologi aktif seperti bumi, sebelum berubah menjadi dunia panas yang tidak bersahabat seperti sekarang. Meskipun kondisi ekstrem Venus membuat eksplorasi langsung sangat sulit, teknologi pemetaan jarak jauh seperti yang digunakan oleh Magellan memungkinkan ilmuwan terus mempelajari planet ini dari jauh.

Studi coronae menjadi langkah awal untuk memahami bagaimana planet berbatu bisa berevolusi secara berbeda, dan mungkin menjadi cerminan masa depan bumi bila kehilangan keseimbangan iklim dan geologi alaminya.

(Tifani)