28 April 1994: Vonis Penjara Agen Ganda CIA Aldrich Ames, Nekat Jual Informasi Rahasia ke KGB Demi Lunasi Utang

Aldrich Ames mengaku menjual informasi rahasia CIA ke Uni Soviet dan Rusia. Ames mengungkapkan bahwa ia mulai memberikan nama mata-mata CIA kepada KGB pada April 1985 karena butuh uang untuk melunasi utang.

Diterbitkan 28 April 2025, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Virginia - Laporan sejarah mencatat bahwa pada 28 April 1994, mantan agen CIA, Aldrich Ames, mengaku menjual rahasia negara kepada Uni Soviet, yang kemudian berlanjut ke Rusia. Kasus ini dianggap sebagai salah satu skandal spionase paling merusak dalam sejarah Amerika Serikat (AS).

Hari itu, 31 tahun yang lalu, pengadilan di Arlington, Virginia, menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat kepada Ames. Vonis tersebut tetap dijatuhkan meski Ames sempat mengajukan kesepakatan pembelaan di menit-menit terakhir demi menyelamatkan istrinya, Rosario, yang juga menghadapi dakwaan.

Menurut penjelasan dari Britanica.com, Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti (KGB) adalah badan intelijen utama yang dimiliki oleh Uni Soviet. Dalam menjalankan tugasnya, KGB bertanggung jawab atas pengumpulan informasi intelijen serta pengawasan keamanan negara.

Pejabat AS mengatakan tidak akan ada keringanan hukuman bagi Ames, yang dikenal oleh KGB dengan nama sandi "Kolokol" ("Lonceng"). Tindakannya diduga telah menyebabkan tewasnya sedikitnya 10 agen AS di bekas Uni Soviet.

“KGB... telah menyiapkan $2 juta sekitar Rp33 miliar sebagai bentuk terima kasih atas informasi yang saya berikan,” ujar Aldrich Ames, agen ganda CIA yang dikutip dari BBC On This Day Senin (28/4/2025).

Ames sebelumnya menjabat sebagai kepala operasi CIA untuk Soviet. Ia merupakan pejabat CIA dengan jabatan tertinggi yang pernah terbongkar sebagai agen ganda.

Penangkapan Ames pada Februari 1994 sempat mengejutkan komunitas intelijen AS. Direktur CIA saat itu, R James Woolsey, bahkan mengakui bahwa sejumlah pejabat CIA lainnya tengah dalam penyelidikan.

Dalam pernyataan sepanjang delapan halaman yang dibacakan di pengadilan, Ames mengungkapkan bahwa ia mulai memberikan nama mata-mata CIA kepada KGB pada April 1985 karena butuh uang untuk melunasi utang.

Awalnya, ia menerima pembayaran sebesar $50.000 sekitar Rp838 juta. Beberapa bulan kemudian, ia secara sukarela memberikan informasi kepada KGB yang mengungkap hampir seluruh agen CIA di Uni Soviet.

“Yang mengejutkan saya, KGB memberi tahu bahwa mereka telah menyiapkan $2 juta sekitar Rp33 miliar sebagai tanda terima kasih,” ujar Ames.

 

Gaya Hidup Mewah dari Uang KGB

Ames mengakui telah menerima total sekitar $2,5 juta sekitar Rp41 miliar selama sembilan tahun menjadi agen ganda.

Uang tersebut ia gunakan untuk menjalani gaya hidup mewah, seperti membeli mobil Jaguar, berlibur ke luar negeri, dan membeli rumah senilai $540.000 sekitar Rp9 miliar.

Yang mencengangkan, ia tidak pernah berusaha menyembunyikan pengeluaran tersebut, padahal gajinya sebagai agen CIA tidak pernah lebih dari US$70.000 sekitar Rp1 miliar per tahun.

Dalam pernyataannya, Ames menyampaikan penyesalan mendalam atas apa yang telah ia lakukan. “Tak ada hukuman dari pengadilan ini yang bisa menghapus rasa malu dan bersalah yang saya rasakan,” katanya.

Jumlah agen Barat yang dikhianati Ames diperkirakan mencapai 25 orang. Sedikitnya 10 di antaranya dieksekusi mati, termasuk Jenderal Dmitri Polyakov, pejabat tinggi intelijen militer Soviet yang telah menjadi informan Barat selama lebih dari dua dekade.

Pada 1995, CIA menyerahkan laporan evaluasi internal kepada Kongres terkait periode pengkhianatan Ames. Dalam laporan tersebut, inspektur jenderal CIA merekomendasikan sanksi terhadap sekitar 12 pejabat yang kemungkinan telah meneruskan informasi mencurigakan ke Gedung Putih.

Aldrich Ames terus menjalani hukuman seumur hidupnya.

Pada 1996, ia sempat mengajukan gugatan hukum terhadap Internal Revenue Service (IRS) yang menagih tunggakan pajak hampir setengah juta dolar atas pembayaran US$2,5 juta sekitar Rp41 miliar dari KGB.