Sukses

10 Desember 1968: Misteri Perampokan Uang 300 Juta Yen di Jepang

Liputan6.com, Tokyo - Melakukan perampokan uang dalam jumlah besar di siang hari identik dengan sekelompok pencuri yang bersenjata lengkap. Namun, tidak selalu.

Sebuah perampokan misterius yang terjadi 54 tahun silam di Kokubunji, hanya mengandalkan ‘diri sendiri’ dan trik ‘kebohongan besar’. Itulah kasus perampokan terbesar di Jepang, 300 juta yen (sekitar Rp 34 miliar) dicuri dari sebuah kendaraan yang dijaga oleh empat staf keamanan, dikutip dari Money Week, Jumat (9/12/2022).

"Perampokan 300 juta yen" itu masih belum terpecahkan.

Pada 10 Desember 1968, empat karyawan Bank Nihon Shintaku Ginko cabang Kota Kokubunji sedang mengangkut bonus 300 juta yen untuk pekerja pabrik Toshiba.

Tiba-tiba, seorang polisi bersepeda motor menghentikan mobil mereka. Polisi itu mendekat dan memberi tahu staf bank bahwa rumah manajer cabang mereka telah diledakkan. Dia menambahkan, polisi juga menerima peringatan ada sebuah dinamit yang diletakkan di bawah kendaraan mereka.

Keempat penjaga pun keluar dari mobil dan polisi itu pergi ke bawah mobil untuk ‘memeriksa’ keberadaan dinamit. Segera setelah itu, staf bank melihat asap dan api dari bawah kendaraan. Polisi itu berguling dan berteriak bahwa mobil itu akan meledak. Saat penjaga yang panik melarikan diri, polisi itu masuk ke mobil dan pergi bersama dengan uang di dalamnya.

Setelah itu, investigasi yang luas dilakukan. Sekitar 170.000 polisi memeriksa 110.000 nama tersangka menggunakan 780.000 gambar montase di seluruh Jepang. Kendati demikian, perampok tidak ditemukan.

Sementara itu, 120 barang bukti ditemukan di tempat kejadian, termasuk sepeda motor “polisi” dan sumber “asap dan api” yang ternyata suar biasa. Polisi kemudian menyadari bahwa beberapa "bukti" sengaja ditinggal di sana. Dengan cara cerdik itu perampok berhasil membingungkan penyelidikan.

Setelah tujuh tahun, penyelidikan berlalu tanpa penangkapan dan jawaban atas berbagai ‘pertanyaan’. Setelah 20 tahun, pada 1988, pencuri itu telah ‘dibebaskan’ dari segala kewajiban perdata. Artinya, dia bisa mengakui kesalahannya secara terbuka tanpa takut ditangkap atau dituntut.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Polisi Periksa Sejumlah Saksi dan CCTV Kasus Perampokan Toko Emas di Jember

Dua minggu lalu, perampokan terjadi di Indonesia, 2 kg emas senilai Rp19 juta dicuri dari sebuah toko di Jember.

Polres Jember memeriksa sejumlah saksi untuk mengusut kasus perampokan toko emas Murni di Jalan Sultan Agung Jember.

Sejumlah CCTV di toko dan sekitarnya juga diperiksa. Namun, ternyata CCTV di toko Emas Murni sudah lama rusak dan tidak berfungsi, menurut Kanit Pidum Polres Jember Ipda Bagus, Jumat (25/11/2022).

Beruntung masih ada CCTV di sekitar lokasi kejadian untuk dijadikan bukti tambahan.

Perampokan terjadi sekitar pukul 03.30 WIB, Kamis (24/11/2020) pagi. Saat itu Agus Supriyanto (70) pemilik toko emas hendak berbelanja ke Pasar Tanjung Jember.

Namun, saat membuka pintu, tiba- tiba pelaku yang menggunakan masker dan topi tersebut menodongkan pisau pada korban.

Pelaku kemudian membawa masuk korban dan memukul dahi korban menggunakan gagang pisau hingga berdarah dan jatuh terjembab.

Kemudian pelaku mengancam istri korban menggunakan pisau dan memaksa menunjukan lokasi penyimpanan perhiasan emas, lalu memaksanya untuk mengambil perhiasan emas dan memasukkan ke dalam tas pelaku.

“Ada sekitar 15 baki yang berisi perhiasan emas," ujar Kanit Pidum Polres Jember Ipda Bagus, Kamis (24/11/2022)

Kemudian pelaku melarikan diri. Dan diduga pelaku ada dua orang. ”Salah satu pelaku mengawasi di luar toko," tambahnya.

Untuk total emas yang berhasil dibawa pelaku seberat 2 kilogram dan uang Rp19 juta.

3 dari 4 halaman

Ditipu Petugas Imigrasi Gadungan, WNI di Malaysia Jadi Korban Perampokan dan Pemerkosaan

Sementara itu, perampokan mengerikan menimpa dua wanita warga negara Indonesia (WNI) di Kuala Lumpur, Malaysia. Salah seorang di antaranya dilaporkan diperkosa.

"Insiden itu terjadi ketika dua wanita Indonesia sedang dalam perjalanan untuk bekerja pada hari Sabtu 20 Agustus," ujar Asst Comm Ampang Jaya OCPD Mohamad Farouk Eshak mengatakan dalam sebuah pernyataan, Senin (22/8/2022) seperti dikutip dari The Star.

Pelaku disebutkan menyamar sebagai petugas imigrasi Malaysia.

"Mereka dihentikan oleh dua pria yang mengaku dari Departemen Imigrasi. Para tersangka mengatakan kepada keduanya bahwa mereka ingin memeriksa izin kerja dan paspor mereka dan memerintahkan keduanya untuk masuk ke mobil mereka."

"Kedua korban dibawa ke Serdang dan dalam perjalanan perhiasannya disita. Salah satu korban, pelapor, diturunkan di pinggir jalan di Serdang, sedangkan satu lagi dibawa ke hotel di Balakong dan diperkosa oleh salah satu tersangka," papar Mohamad Farouk Eshak.

Dia menambahkan bahwa laporan tentang kejadian perampokan itu kembali diajukan oleh korban kedua di Kajang.

Berdasarkan informasi intelijen, tim polisi menggerebek sebuah rumah di Taman Seri Asahan, Senin. Dua pria berusia 40 dan 35 tahun ditangkap.

Kedua tersangka diketahui sebagai penjahat kawakan berdasarkan catatan polisi mereka.

"Tersangka yang berusia 40 tahun memiliki 18 pelanggaran pidana dan terkait narkoba sebelumnya, dan juga dicari untuk tiga kasus terkait narkoba."

"Tersangka lainnya ditemukan memiliki 13 pelanggaran pidana dan terkait narkoba di masa lalu, dan satu status buronan dalam kasus narkoba," jelas Mohamad Farouk Eshak.

4 dari 4 halaman

Kasus Brian Douglas Wells, Perampokan Paling Aneh di Amerika

Selain itu, ada juga perampokan yang dianggap aneh. Pada 28 Agustus 2003, terjadi salah satu kejahatan paling aneh yang pernah terjadi di Amerika yakni di Erie, Pennsylvania.

Dikutip laman HistoryHit, Minggu (28/8/2022), terjadi aksi perampokan yang paling tidak biasa. Pelakunya Brian Douglas Wells, yang saat itu berusia 46 tahun, seorang pengantar pizza.

Dalam kasus perampokan aneh itu, ia dengan tenang masuk ke Bank PNC di kota setempat dan menuntut agar mereka memberinya uang sebesar $250.000 setara dengan Rp 3 Miliar Rupiah.

Ketika ditangkap, ia mengaku dipaksa sekelompok orang dengan ancaman bom yang dipasang pada lehernya jika gagal menjalankan misi. Setelah tertangkap, awalnya tak ada tanda-tanda bom akan meledak. Tak berselang lama, bunyi bip terdengar, itulah detik-detik kematian Wells.

Selengkapnya klik di sini ...

 

 

Penulis: Safinatun Nikmah.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS