Sukses

Afghanistan di Bawah Kendali Taliban Belum Diakui oleh Pemerintah Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Luar Negeri menegaskan bahwa sampai saat ini Indonesia belum memberikan pengakuan kepada Taliban, sejak kelompok tersebut mengambil alih kekuasaan di Afghanistan pada Agustus 2021.

“Sampai sekarang kita belum pernah memberikan pengakuan secara resmi, dan tidak ada satu pun negara di dunia yang secara eksplisit sudah mengakui Taliban,” kata Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kemlu RI Abdul Kadir Jailani dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat, dikutip dari ANTARA, Sabtu (3/12/2022).

Meskipun demikian, Kadir menjelaskan bahwa KBRI Kabul sudah kembali beroperasi sejak Desember 2021 dengan level kuasa usaha.

KBRI Kabul sempat memindahkan operasinya dari Islamabad, Pakistan, pada Agustus hingga Desember tahun lalu, pasca jatuhnya pemerintah Afghanistan oleh Taliban.

Kadir menyebut bahwa meskipun Taliban belum diakui, itu tidak menghalangi Indonesia dalam melakukan pendekatan secara konstruktif untuk membantu proses pembangunan kembali Afghanistan.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Perempuan Afghanistan

Dalam hal ini, Indonesia akan menyelenggarakan International Conference on Afghan’s Women Education (ICAWE) yang bertujuan menggalang dukungan internasional dalam memajukan pemberdayaan perempuan di sektor pendidikan di Afghanistan.

Kadir menyebut bahwa kondisi pendidikan bagi perempuan dan anak perempuan di Afghanistan merupakan tantangan serius karena pembatasan yang diberlakukan oleh Taliban.

“Pemerintah Indonesia berpandangan bahwa tidak ada pembangunan tanpa peran memadai dari perempuan. Karena itu penting bagi kita menyelenggarakan konferensi ini, yang merupakan bukti konkret Indonesia mendorong perdamaian di Afghanistan,” tutur Kadir.

ICAWE yang akan diselenggarakan di Bali pada Desember mendatang, merupakan kolaborasi Indonesia dan Qatar, menyusul penandatanganan letter of intent oleh menteri luar negeri kedua negara pada Maret 2022.

Sejauh ini, Qatar, Pakistan, Selandia Baru, Norwegia, Uni Emirat Arab, serta beberapa organisasi internasional telah mengonfirmasi keikutsertaannya dalam konferensi tersebut.

 

3 dari 3 halaman

Taliban Larang Perempuan Kunjungi Taman Bermain

Taman bermain maupun taman hiburan biasanya dipenuhi oleh anak-anak yang didampingi oleh ayah maupun ibu mereka.

Namun, pemandangan yang berbeda terlihat di Afghanistan. Kini, perempuan dilarang mengunjungi taman hiburan bahkan ketika mendampingi anak mereka sendiri.

Wanita dilarang mengunjungi taman-taman di Kabul oleh penguasa garis keras Taliban. Selain taman hiburan, aturan terbaru juga melarang wanita mengunjungi kolam renang dan pusat kebugaran di ibu kota.

Ketika Taliban semakin membatasi apa yang bisa mereka lakukan, para wanita dan gadis Afghanistan takut akan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ada yang mengatakan langkah ini tidak mempengaruhi sebagian besar negara, karena bagi sebagian besar orang saat ini, keluar malam adalah kemewahan yang tidak mampu mereka beli.

Namun, bagi banyak gadis Afghanistan, ini bukan tentang skala dampaknya, tetapi simbolisme dari langkah tersebut—dan apa yang diungkapkannya tentang niat Taliban sejak mereka merebut kekuasaan pada Agustus 2021.

"Setiap hari, sebagai anak perempuan di Afghanistan, kami terbangun dengan pembatasan baru. Sepertinya kami hanya duduk dan menunggu yang berikutnya," kata seorang siswi. Dia tidak ingin disebutkan namanya untuk melindunginya.

"Saya beruntung menyelesaikan sekolah menengah sebelum Taliban datang. Tapi saya takut sekarang universitas juga akan ditutup untuk wanita. Impian saya akan berakhir."

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS