Sukses

Fans BTS hingga Pemain Football Jadi Korban Penembakan SD di Texas

Liputan6.com, San Antonio - Korban penembakan SD di Texas menewaskan 21 orang, termasuk pelaku. Mayoritas korban tewas adalah anak-anak di Robb Elementary School di Uvalde, San Antonio. 

Ada seorang anak yang berusaha menelepon 911 ketika pelaku datang. Ia adalah Amerie Jo Garza. 

Menurut laporan The Daily Beast, Kamis (26/5/2022), Amerie mencoba menelepon 911 dengan ponselnya. Pelaku penembakan langsung menembak gadis kecil itu. 

"Dia (Amerie) memiliki ponsel dan menelepon 911," ujar Arreola, nenek dari Amerie. "Ia duduk tepat di sebelah teman baiknya. Teman baiknya terciprat darahnya."

Pada salah satu foto yang beredar, Amerie terlihat tersenyum cerah dan tampil dengan t-shirt BTS yang ia kenakan. Di t-shirt itu tertulis: #BTSCOMEBACKSPECIAL. 

Arreola berkata Amerie meninggalkan seorang adik berusia 3 tahun. Ia juga berkata bahwa Amerie adalah murid rajin dan kesayangan guru. 

Sementara, guru yang meninggal adalah Eva Mireles yang berusia 44 tahun. Ia dikenal sebagai ibu dan guru yang mencintai dan suka berpetualang.

Salah satu korban meninggal lain adalah murid laki-laki bernama Uziyah Garci. Kakeknya berkata Uziyah jago main football. 

<p>Uziyah Garcia turut menjadi korban penembakan di SD Texas. Kakeknya berkata Uziyah jago main football. Dok: Manny Renfro via AP</p>

"Kami mulai melempar bola bersama-sama, dan saya mengajarinya pola passing. Bocah yang sungguh cepat dan ia jago menangkap bola," ujar Manny Refro, kakek dari Uziyah, dilansir AP News.

Nelda Lugo yang merupakan nenek dari korban bernama Ellie Garcia mengaku tidak percaya ketika cucunya dikabarkan meninggal. 

"Saya bilang tidak. Tidak mungkin. Periksa rumah sakit, ia pasti ada di sana," ujar Lugo kepada yang menangis saat diwawancara WFAA. Ia menangis ketika mengingat cucunya yang menyukai cheerleading ternyata benar-benar sudah pergi akibat penembakan massal terburuk dalam sejarah Texas itu.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Joe Biden Geram dengan Pelobi Senjata Api

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden memberikan respons yang tenang namun penuh emosi ketika membahas penembakan di Robb Elementary School, San Antonio, negara bagian Texas. Peristiwa itu terjadi pada Selasa (24/5) waktu setempat. 

Peristiwa di SD Texas itu adalah penembakan sekolah terburuk dalam sejarah Texas. Presiden Joe Biden memulai pidatonya membahas keadaan psikologis para orang tua, serta para anak-anak lain yang menjadi saksi mata peristiwa tersebut. 

Presiden Biden turut menyorot kenapa AS terus-terusan mengalami penembakan massal seperti ini, sementara tetapi negara-negara lain tidak.

"Penembakan massal seperti ini jarang terjadi di tempat lain di dunia. Mengapa? Mereka punya masalah mental. Mereka punya pertikaian domestik di negara-negar lain. Mereka memiliki orang-orang yang tersesat. Tapi penembakan massal ini tidak terjadi sesering yang terjadi di AS," ujar Presiden Joe Biden dalam konferensi pers di Gedung Putih dan didampingi Ibu Negara Jill Biden.

Salah satu insiden penembakan massal di sekolah yang terparah dalam sejarah AS adalah penembakan Sandy Hook. Ketika itu, Joe Biden masih menjabat sebagai wakil presiden. 

Presiden Biden lantas mendorong agar Amerika Serikat bisa berani melawan pelobi-lobi senjata, serta menghadapi pihak-pihak yang menghalangi pengesahan aturan senjata api.

"Saatnya mengubah rasa sakit ini menjadi aksi," ujar Presiden Biden. "Untuk semua orang tua, untuk semua warga, kita harus memperjelas ke semua pejabat terpiilh di negara ini. Saatnya bertindak!"

Sejumlah politisi dari Partai Republik diketahui dekat dengan pelobi senjata api, termasuk dengan National Rifles Assosiation (NRA). 

3 dari 4 halaman

Wapres AS Kamala Harris: Enough is Enough

Di tempat lain, Wakil Presiden AS Kamala Harris berkata peristiwa penembakan massal di Texas membuat hancur hati masyarakat. Namun, Kamala berkata hati para orang tua korban pasti yang merasakan dampak terparah. 

Berbicara di acara Asian Pacific American Institute for Congressional Studies (APAICS), Kamala Harris menyayangkan bahwa insiden seperti ini kerap terjadi di AS, dan mendorong adanya peraturan yang masuk akal terkait senjata api.

"Cukup berarti cukup," ujar Kamala Harris yang tampak emosional. "Sebagai negara, kita harus memiliki keberanian untuk mengambil tindakan."

Kamala pun menegaskan bahwa pihaknya berdiri dengan masyarakat yang terdampak penembakan ini. 

Pelaku bernama Salvador Ramos penembakan dilaporkan menembak neneknya sebelum pergi ke sekolah dan melaksanakan penembakan massal. Namun, neneknya dilaporkan selamat dan kondisinya kritis di rumah sakit.

Sebelum tewas, Ramos membarikade dirinya di ruang kelas dan menembak secara membabibuta. Newsweek menyebut Ramos sempat marah karena gagal lulus sekolah.

Usia pelaku masih 18 tahun. Ia dibunuh di lokasi oleh seorang agen penjaga perbatasan di AS yang kebetulan berada di dekat lokasi. 

4 dari 4 halaman

KJRI Houston: Tak Ada WNI Korban Penembakan di SD Texas

Amerika Serikat kembali digegerkan dengan aksi penembakan di sebuah sekolah dasar (SD) yang kali ini berlokasi di Texas. Pelaku penembakan massal pada Selasa 24 Mei 2022 waktu setempat ini diidentifikasi sebagai seorang remaja laki-laki.

"Telah terjadi penembakan di Sekolah Robb Elementary School / SD Uvalde, Texas, pada tanggal 24 Mei 2022 sekitar pukul 11.32 waktu setempat," demikian konfirmasi KJRI Houston melalui pesan tertulisnya yang dikutip Kamis (26/5).

Situs DW Indonesia memberitakan bahwa penembakan Texas ini merupakan serangan terbaru dari rangkaian pembunuhan massal di Amerika Serikat dan merupakan aksi penembakan sekolah terburuk di negara itu dalam hampir satu dekade.

"Tercatat korban sebanyak 19 siswa dan 2 dewasa (guru). Pelaku ditembak mati oleh Apkam (aparat keamanan). Dalam kejadian tersebut tidak terdapat korban warga negara Indonesia (WNI)," jelas pihak KBRI Houston.

Meski tak ada warga Indonesia jadi korban, KJRI Houston telah mengeluarkan imbauan kepada WNI untuk berhati-hati, meningkatkan kewaspadaan, dan segera melaporkan situasi darurat ke aparat keamanan setempat dan Perwakilan RI.

KJRI Houston mencatat terdapat sekitar 10 ribu WNI yang menetap di Texas. 50 di antaranya tinggal di wilayah San Antonio.