Sukses

Respons COVID-19 di Arab Saudi Raih Peringkat Tinggi di Dunia

Liputan6.com, Riyadh - National Center for Performance Measurement (ADAA) menyebut peringkat kebijakan COVID-19 di Arab Saudi berada di posisi unggulan pada beberapa indeks internasional. ADAA menyorot terkait kebijakan pemerintah di sektor usaha, pangan, dan soft power selama pandemi.

ADAA merupakan lembaga di Arab Saudi yang memantau reputasi kebijakan pemerintah Saudi di ranah internasional.

Berdasarkan Global Entrepreneurship Monitor (GEM), Arab Saudi berada di posisi pertama dalam hal respons pemerintah dan respons terhadap pelaku usaha saat pandemi COVID-19, demikian laporan Arab News, Senin (21/6/2021).

Posisi tinggi juga diraih Saudi di indikator "standar makanan" yang merupakan bagian dari indeks ketahanan pangan yang dirilis secara tahunan oleh Economist Intelligence Unit (EIU).

Indeks itu mengukur keterjangkauan, ketersediaan, kualitas dan keamanan, dan sumber alami serta resiliensi pangan. Salah satu yang disorot adalah ketahanan pangan Saudi ketika pandemi memuncak.

Arab Saudi juga masuk peringkat 20 dari 85 negara pada laporan Brand Finance yang mengukur soft power dalam merespons pandemi COVID-19.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Arab Saudi, total kasus COVID-19 di negara itu mencapai 474 ribu. Kasus aktif saat ini mencapai 10 ribu kasus dan yang tertinggi berada di Jeddah dengan 1.413 kasus.

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 2 halaman

Situasi COVID-19 di Indonesia: Masih Gelombang

Inisiator Lapor Covid-19, Ahmad Arif menyatakan bahwa penanganan pandemi virus corona yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia masih belum optimal.

Arif mengingatkan, jika penanganan pandemi corona ke depan masih seperti ini, maka bukan tidak mungkin tragedi Covid-19 yang menimpa India bakal terjadi di Indonesia. 

"Jika situasi ini dibiarkan kami khawatir bahwa tragedi kematian massal di India bukan tidak mungkin terjadi di Indonesia," kata Arif dalam sebuah diskusi daring pada Minggu (20/6).

"Sejarah juga mencatat dalam pandemi flu Spanyol 1918, India dan Indonesia ini termasuk negara dengan korban yang sama-sama banyak. Dari 50 juta korban, India kehilangan 10-20 juta saat itu. Di Indonesia di Jawa dan Madura saja kehilangan 4,2 jutaan," sambungnya. 

Dia mengingatkan, bahwa sejarah tersebut bisa saja terulang di Tanah Air. Apalagi jika kebijakan pemerintah ditambah ketaatan masyarakat masih kurang serius dalam memerangi pandemi Covid-19.

"Seperti kita ketahui wabah itu tidak mungkin diatasi di level individu. Karena prokes setiap orang tentu saja penting, tetapi selama penularan terjadi seperti sekarang ini, celah terpapar sangat tinggi sekali. Kita sudah disiplin, orang lain abai risiko juga bakal kena sendiri," tegasnya.