Sukses

Jurus Atasi Ancaman Geopolitik hingga Pemulihan dari COVID-19, Kesepakatan Pertemuan G7 di Inggris

Liputan6.com, Jakarta- Inggris mempertemukan para menteri luar negeri dan pembangunan dari negara-negara G7, serta tamu undangan dari kawasan Indo-Pasifik dan Afrika, di London pekan lalu. 

Pertemuan tatap muka pertama para menteri luar negeri dalam lebih dari 2 tahun terakhir ini, menggabungkan keahlian diplomatik dan pembangunan Inggris untuk membantu tercapainya tujuan Kepresidenan negara itu dalam G7 secara keseluruhan.

Sementara itu, The Leaders’ Summit akan berlangsung di Cornwall pada Juni 2021.

Kedutaan Besar Inggris, dalam rilisnya pada Senin (10/5/2021), membeberkan beberapa kesepakatan dalam pertemuan G7, yaitu: 

Mengatasi ancaman geopolitik terbesar, salah satunya tentang peningkatan pasukan Rusia di perbatasan Ukraina, kekerasan di Myanmar, proses perdamaian di Afghanistan, dan menetapkan pendekatan yang satu dan seimbang di China dengan kecaman terkuat terhadap kasus pelanggaran hak asasi manusia di Xinjiang.

"Komitmen G7 untuk menangani kamp kerja paksa dan menyerukan praktik ekonomi koersif China," lanjut Kedubes Inggris dalam pernyataan tertulisnya.

Dalam kesepakatan G7 untuk menjaga demokrasi, adalah dengan adanya lebih banyak aksi dalam mempertahankan kebebasan media di seluruh dunia oleh misi diplomatik G7 lokal, yang didukung oleh peningkatan pendanaan untuk Global Media Defense Fund.

Hal itu juga termasuk memperkuat Mekanisme Tanggap Cepat, termasuk melalui kemitraan baru NATO untuk melawan ancaman seperti disinformasi vaksin, dan kolaborasi G7 untuk mencegah praktik keji penahanan sewenang-wenang, termasuk Rencana Tindakan baru yang digerakkan oleh Kanada.

2 dari 4 halaman

Kesepakatan Akses Vaksin-Pencegahan Kelaparan-Perubahan Iklim

Kemudian, dalam kesepakatan lainnya, G7 juga menyetujui dukungan dalam pemulihan berkelanjutan dari pandemi COVID-19 dan membantu mereka yang paling terdampak oleh krisis. 

Terkait akses ke vaksin, Inggris dan negara-negara G7 meenypakati tindakan untuk meningkatkan pendanaan untuk COVAX – skema untuk memastikan vaksin tersedia untuk semua – dan medukung COVAX sebagai cara utama bagi negara-negara untuk berbagi vaksin secara global.

Hal ini dilakukan melalui peningkatan akses ke vaksin dan dua target pendidikan ambisius yang baru: 40 juta lebih banyak anak perempuan di sekolah pada tahun 2026 dan lebih banyak anak perempuan yang dapat membaca pada saat mereka meninggalkan sekolah dasar, investasi dana 15 miliar untuk mendukung perempuan dengan peluang ekonomi baru.

Adapun perjanjian pencegahan kelaparan dan krisis kemanusiaan yang baru – memobilisasi tindakan diplomatik kolektif untuk mempromosikan hukum humaniter international dan secara kolektif memberikan kontribusi lebih dari £5 miliar dalam bantuan kemanusiaan ke 42 negara yang berada di ambang bencana atau musibah kelaparan.

Dalam pencegahan kelaparan, G7 menyepakati pendanaan bantuan kemanusian senilai £5 miliar kepada 42 negara yang berisiko.

Untuk pendanaan awal, £1 miliar sebagai bantuan yang diprioritaskan untuk tiga negara dengan risiko terbesar – Yaman, Sudan Selatan dan Nigeria.

Selanjutnya, G7 juga berkomitmen untuk menjaga umat manusia dari bencana iklim, melalui sistem peringatan dini, kesiapsiagaan yang lebih baik dan tindakan dini.

Selain KTT G7 di Cornwall bulan depan (G7 Summit in Cornwall), akhir tahun ini, Kedubes Inggris mengatakan bahwa negara tersebut juga akan menjadi tuan rumah COP26 di Glasgow (COP26 in Glasgow).

"Pada bulan Juli kami (Inggris) akan menjadi tuan rumah KTT Pendidikan Global untuk membantu mendorong tindakan menuju target global yang baru disepakati untuk memasukkan 40 juta lebih banyak anak perempuan ke sekolah, dan 20 juta lebih anak perempuan yang dapat membaca pada usia 10, pada tahun 2026, di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah," terang Kedubes Inggris.

3 dari 4 halaman

Infografis Aman Berpuasa Saat Pandemi COVID-19

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Berikut Ini: