Sukses

Studi: Jurnalis Wanita Tidak Pernah Luput dari Kekerasan Online

Liputan6.com, Jakarta - Dari tahun ke tahun, masalah perempuan sebagai jurnalis selalu menjadi sorotan tersendiri di samping isu keselamatan dan hak-hak bagi wartawan itu sendiri. Masalah gender, ketidakadilan, pelecehan dan bahaya secara psikis maupun fisik tidak pernah luput.

Hal ini menambah persoalan bagi jurnalis perempuan, terlebih wartawan yang berkutat dalam penyiaran serta harus meliput di lapangan.

Dalam rangka merayakan International Woman's Day, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta mengadakan diskusi virtual melalui akun YouTube mereka, pada Selasa (9/3), dipandu oleh Karina Soerjanatamihardja, Mustang FM Broadcaster and Presenter of SEA Today News.

Acara ini juga dihadiri oleh Heather Variava, Chargé d'affaires, Kedutaan Besar AS di Jakarta; Desi Anwar, Senior Journalist/Director of CNN Indonesia TV; dan Fifi Aleyda Yahya, Senior Journalist, Head of Corporate Communication of Metro TV.

Diskusi yang bertemakan "Women's Leadership in Broadcast Journalism" ini tidak hanya membahas mengenai bagaimana perjuangan para jurnalis wanita Indonesia dan Amerika, namun juga membagi beberapa cerita dan pengalaman dari para jurnalis senior sebagai pembelajaran untuk kedepannya.

 

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

2 dari 3 halaman

Jenis Kekerasan Online yang Dialami Jurnalis Wanita

Berdasarkan hasil studi International Center of Journalists dan UNESCO yang dirilis pada November 2020, setidaknya ada tiga dari empat jurnalis perempuan mengalami pelecehan, ancaman dan perundungan secara daring.

Survei ini merupakan bagian dari studi yang lebih luas yang ditugaskan oleh UNESCO untuk meneliti kekerasan online terhadap jurnalis perempuan di 15 negara, dengan penekanan pada pengalaman titik-temu tanggapan dari 714 jurnalis wanita di 113 negara.

Hasil menunjukkan, para jurnalis wanita yang disurvei mengatakan bahwa mereka telah menjadi sasaran berbagai kekerasan online, termasuk ancaman penyerangan seksual dan kekerasan fisik, bahasa yang kasar, melecehkan pesan pribadi, ancaman untuk merusak reputasi profesional atau pribadi mereka.

Ini juga termasuk serangan keamanan digital, bahkan penyajian yang keliru melalui manipulasi gambar dan ancaman keuangan.

Berdasarkan temuan tersebut, tindakan segera disarankan untuk menghadapi masalah kekerasan online terhadap jurnalis perempuan dengan cara yang lebih efektif.

 

Reporter: Lianna Leticia

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Berikut Ini: