Sukses

Berkaca pada Wu Lien-teh, Dokter Penakluk Wabah Manchuria Raya di China 1911

Liputan6.com, Harbin - Saat ini siapa sih yang tak tahu tentang masker N95? Beberapa waktu lalu, Liputan6.com membahas tentang Peter Tsai yang tak lain adalah sosok jenius dibalik masker N95. Tapi ternyata ada juga sosok jenius lainnya yang telah lebih dulu menghadapi wabah misterius. 

Sosok tersebut adalah Wu Lien-teh, dokter dari Malaysia yang lahir pada tahun 1879 di Penang. Lien-teh menyeleasikan studi nya di Emmanuel College yang merupakan bagian dari University of Cambridge.

Setelah itu Lien-teh bergabung dengan Lembaga Penelitian Medis di Kuala Lumpur, sebagai mahasiswa riset pertamanya pada tahun 1903. Tahun 1910, dirinya mendapatkan panggilan untuk meneliti sebuah kasus infeksi virus di Harbin China.

Virus itu membunuh 99% orang yang telah terinfeksi. Dikenal sebagai Great Manchurian Plague atau wabah Manchuria Raya.

2 dari 4 halaman

Great Manchurian Plague

Great Manchurian Plague atau wabah Manchuria Raya ini tak lain adalah kasus epidemi di China yang terjadi pada tahun 1910/1911-an.

Kasus ini sebenarnya memiliki kaitan dengan binatang, virusnya disebabkan oleh marmut tarbagan. Wabah ini membunuh orang 60,000 dan beberapa peraturan seperti lockdown, penggunaan masker, larangan perjalanan jauh pun juga dilakukan, hanya saja saat itu tidak ada internet. 

Diduga bahwa Great Manchurian Wabah ini datang dari jual-beli bulu dari marmut tarbagan ini.  Berbagai dokter dari Amerika, Jepang, Russia, Inggris dan Prancis pun turut campur tangan mencari penyebab dari kasus ini. Dan lebih sulitnya lagi pada tahun 1911 tidak ada WHO yang dapat diajak berdiskusi mengenai epidemi ini. 

Proses karantinanya cukup mirip dengan kasus COVID-19 yang kita alami ini, seseorang akan dikarantian selama 5-10 hari, namun bila satu mobil membawa satu pasien yang positif, tidak ada jalan lain bahwa mereka bisa selamat. Karena tingkat kematian dari virus ini adalah 99%. 

 

3 dari 4 halaman

Penelitian Oleh Lien-teh

Sebenarnya kasus Great Manchurian Plague juga terjadi sebelum tahun baru Imlek yang pada saat itu dirayakan pada 30 Januari 1911. Maka dari itu Lien-teh memberikan instruksi agar orang-orang tidak melakukan perjalanan pulang kampung atau mudik.

Tak hanya itu, dirinya juga meninstruksi kan lockdown hingga akhir Januari tahun itu. Sebenarnya infeksi Great Manchurian Plague sempat meluas ke daerah Shenyang yang mengakibatkan 2,571 kematian, namun larangan bepergian segera diluncurkan saat itu, sehingga tingkat infeksi dari wabah ini menurun. 

Lien-teh juga mendesain masker dengan ukuran 6 inci x 4 inci untuk melindungi para pekerja kesehatan dari wabah tersebut. Masker yang didesain oleh Lien-teh ini menggunakan kapas penyerap (disebut sebagai masker N95 pertama tahun 1910).

Wabah ini dapat menyebabkan orang meninggal dalam 24-48 jam pertama. 

Atas kontribusinya, ia menjadi direktur pertama Manchurian Plague Service atauLayanan Wabah Manchuria (1912), selain itu dirinya juga menjadi anggota pen diri dan presiden Chinese Medical Association (Asosiasi Medis Tiongkok) 1916-1920.

Dia juga menjadi orang Malaysia pertama yang dinominasikan untuk Hadiah Nobel Kedokteran pada tahun 1935.

Meskipun ia tidak memenangkan penghargaan, karyanya terus terbukti membantu dalam pengelolaan penyakit menular yang berhasil - termasuk pandemi COVID-19.

4 dari 4 halaman

Lien-teh Sempat Diremehkan

Lien-teh sempat diremehkan oleh anggota rekan dokter yang menangani Great Manchurian Plague saat itu.

Dokter tersebut adalah dokter asal Prancis, Gérald Mesny, yang menuju Harbin untuk menggantikan posisi Lien-teh.

Gérald Mesny mengatakan apa yang bisa diharapkan dari seorang pria China. 

Akibat bekerja mengobati pasien tak menggunakan masker, Mesny akhirnya terinfeksi virus mematikan tersebut. Ia meninggal dua hari setelah terinsfeksi Great Manchurian Plague.

Meski begitu, Lien-teh sukses menaklukan wabah Great Manchurian Plague pada tahun 1911 dan 1921 ketika wabah itu kembali. Dirinya juga dijuluki seorang plague fighter (pejuang wabah) dan father of the public health system (Bapak Sistem Kesehatan Masyarakat).

 

Reporter: Yohana Belinda