Sukses

Kalah Telak di Pemilu Parlemen Inggris, Pemimpin Partai Buruh Lengser

Liputan6.com, London - Partai Konservatif Inggris merayakan kemenangan besar-besaran pada Pemilu 2019. Langkah Perdana Menteri petahana Boris Johnson untuk berkuasa dan mengantar Inggris keluar dari Uni Eropa dipastikan akan mulus karena partainya berhasil meraih mayoritas di parlemen.

Sebaliknya, partai oposisi harus gigit jari akibat kehilangan hingga 59 kursi. Jeremy Corbyn selaku ketua partai pun memastikan bahwa dirinya akan segera lengser dari kursi kepemimpinan.

"Saya tidak akan memimpin Partai Buruh pada pemilu selanjutnya," kata Corbyn seperti dikutip BBC, Jumat (13/12/2019)

Corbyn menyalahkan Brexit sebagai penyebab kekalahan. Selama ini, Partai Buruh pimpinan Corbyn selalu berusaha menjegal Brexit hingga Perdana Menteri Theresa May mengundurkan diri pada Mei lalu.

"Brexit telah mempolarisasikan dan membalas perdebatan di negara ini, hal itu telah menggeser perdebatan politik yang normal," kata Corbyn yang turut menyalahkan media.

Ironisnya, justru dulu Corbyn yang menantang segera diadakannya pemilu di Inggris usai Theresa May lengser. Saat itu pun Corbyn meledek Theresa May tidak bisa memerintah.

Pada kepemimpinan Jeremy Corbyn, Partai Buruh juga kehilangan basisnya di daerah utara Inggris seperti Darlington, Sedgefield, dan Workington. Kini daerah itu akan punya perwakilan dari Partai Konservatif.

Secara keseluruhan, Partai Konservatif berhasil mengamankan 41 persen kursi di parlemen Inggris dan Partai Buruh hanya 33 persen.

Meski menyalahkan Brexit, penjegalan Corbyn pada Brexit justru disebut sebagai salah satu faktor berkurangnya simpatisan. Corbyn juga tercatat sebagai sosok yang kontroversial karena kebijakan ekonominya yang populis. Pada 2017, ia sempat berkata Karl Marx sebagai ekonom yang hebat.

2 dari 4 halaman

Donald Trump Gembira

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan ucapan selamat kepada Boris Johnson atas kemenangannya. Trump berkata kemenangan Boris Johnson akan mengutungkan ekonomi Inggris dan AS karena Inggris akan terbebas dari Brexit.

Keanggotaan Inggris di Uni Eropa menjadi masalah karena ada aturan-aturan Uni Eropa yang dianggap mengekang Inggris. Jika Inggris meninggalkan Uni Eropa, maka berbagai aturan, seperti terkait tenaga kerja dan produk, juga bisa ditinggalkan.

"Selamat kepada Boris Johnson karena kemenangan besarnya! Inggris dan AS sekarang akan bebas untuk meneken Kesepakatan Dagang yang besar setelah BREXIT. Kesepakatan ini punya potensi untuk menjadi lebih besar dan lukratif dari bermacam kesepakatan yang bisa dibuat dengan Uni Eropa. Rayakanlah Boris!" cuit Trump pada Jumat dini hari waktu AS.

Donald Trump sendiri sebetulnya telah memberi dukungan kepada Boris Johnson. Meski berkata dirinya tak mau ikut-ikutan pemilu Inggris, Trump sempat berkata Boris Johnson adalah sosok yang cakap.

Tak berlama-lama, Donald Trump langsung memakai Twitter untuk membahas pemilu AS tahun depan. Approval Rating Donald Trump di Partai Republik kini mencapai 95 persen. Hingga kini, belum jelas siapa yang akan dipilih Partai Demokrat untuk melawan Donald Trump tahun depan.

3 dari 4 halaman

Angela Merkel Angkat Suara

Kanselir Jerman Angela Merkel juga baru saja buka suara soal kemenangan Boris Johnson. Merkel yang merupakan sosok pemimpin di Uni Eropa dan kini harus bersiap pada Brexit. 

"Selamat, Boris Johnson, atas kemenangan anda yang jelas. Saya ke depan ingin bekerja denganmu demi persahabatan dan kerja sama kuat antara negara kita," ujar Merkel dalam pernyataan seperti dikutip The Local Jerman.

Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas memastikan bahwa Brexit sudah pasti akan terjadi sebagai sebuah mandat.

"Kini sangat mungkin bahwa langkah keluar yang teratur akan terjadi pada akhir Januari," ujar Maas. Namun demikian, ia menekankan bahwa pintu Uni Eropa akan terus terbuka bagi Inggris.

"Pintu-pintu menuju UE tentunya terbuka bagi Britania," pungkasnya.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Partai Boris Johnson Menang Pemilu Parlemen Inggris, Brexit 31 Januari 2020
Artikel Selanjutnya
Pemilu Inggris, Akankah Boris Johnson Menyelesaikan Kisruh Brexit?