Sukses

Menengok Ambisi China dalam Menjelajah Angkasa Luar

Liputan6.com, Beijing - Ketika para astronot Apollo 11 menjadi yang pertama mendarat ke Bulan pada 50 tahun silam, China masih jauh dari angan-angan menerbangkan manusia ke angkasa luar. Bahkan, satelit pun belum dimilikiya kala itu.

Namun, siapa sangka jika sekarang China menjadi pesaing baru yang sangat kompetitif dalam melawan dominasi Amerika Serikat (AS) dan Rusia (dulu Uni Soviet) pada upaya penjelajahan angkasa luar.

Padahal, China baru memulai program antariksanya pada 2003, sekitar 40 tahun berselang setelah kesuksesan misi Apollo 11.

Tetapi dalam beberapa dekade terakhir, sebagaimana dikutip dari CNN pada Sabtu (10/7/2019), China telah tumbuh lebih kaya dan lebih kuat, sehingga dengan percaya diri mempercepat program angkasa luarnya.

Didukung oleh investasi iliaran dolar dari pemerintah pusat, China telah meluncurkan laboratorium antariksa dan satelit ke orbit, dan bahkan menjadi negara pertama yang mengirim wahana tanpa awak ke sisi jauh Bulan, sesuatu yang tidak dipikirkan dalam misi Apollo 11.

Perusahaan swasta China juga berinvestasi dalam penelitian dan teknologi angkasa luar, dengan peluncuran roket pribadi pertama yang berhasil di negara itu pada Mei 2018 lalu.

Ambisi yang lebih besar ada di cakrawala, di mana China terus berupaya mengirim astronaut ke Bulan dan, pada akhirnya, Mars.

"China saat ini sangatlah berdigdaya, mereka memiliki lebih banyak orang, mereka memiliki lebih banyak insinyur, mereka memiliki lebih banyak ilmuwan," kata Blaine Curcio, pendiri perusahaan riset industri angkasa luar yang berbasis di Hong Kong, Orbital Gateway Consulting.

"Implikasinya adalah, jika mereka terus menjadi lebih baik dalam berbagai skala, mereka mungkin akan menjadi kekuatan utama di beberapa titik. Itu hanya masalah waktu," lanjutnya memprediksi.

 

 

2 dari 4 halaman

Sempat Terkendala Kekacauan Revolusi Budaya

Pada awal perlombaan antariksa di akhir 1950-an, pendiri Partai Komunis China Mao Zedong menyatakan: "Kami juga akan membuat satelit".

Butuh waktu lebih dari sepuluh tahun bagi China untuk meluncurkan satelit pertamanya, Dongfanghong-1 pada 24 April 1970, di puncak kekacauan Revolusi Kebudayaan.

Karena penelitian ilmiah menderita selama periode yang merusak ini, maka Perdana Menteri Zhou Enlai memindahkan program angkasa luar di bawah kepemimpinan militer sebagai pelindungnya, menurut kantor berita negara Xinhua.

Dibantu oleh reformasi ekonomi tahun 1980-an, program angkasa China berkembang lamban hingga peluncuran misi berawak pertama pada tahun 2003.

Sejak itu, China telah mengirim enam awak ke angkasa luar dan meluncurkan dua laboratorium ke orbit Bumi.

3 dari 4 halaman

Negara Ketiga yang Berhasil Mendarat ke Bulan

Pada 2013, China menjadi negara ketiga yang berhasil melakukan pendaratan di Bulan setelah Amerika Serikat dan Rusia, ketika wahana penjelajah Yutu 1 mendarat di permukaan satelit alamai Bumi itu.

Progresivitasnya kian unggul tatkala tahun ini, Yutu 2 berhasil mendarat di sisi terjauh Bulan, di mana hal itu dipuji oleh pemimpin NASA Jim Bridenstine sebagai "berkesan dan yang pertama dalam sejarah manusia".

Tujuan utama penjelajah Yutu 2 adalah penelitian - menjelajahi daerah yang sebelumnya tidak tersentuh oleh peradaban manusia, dan menjawab pertanyaan seperti apakah kutub Bulan, apakh memiliki air atau sumber daya lainnya.

Dalam sebuah pernyataan, Otoritas Luar Angkasa Nasional China mengatakan pendaratan itu "membuka babak baru dalam eksplorasi manusia terhadap Bulan"

"Ini juga menunjukkan seberapa jauh teknologi antariksa China telah berkembang," lanjutnya bangga.

4 dari 4 halaman

Ambisi China Terus Berlanjut

Menurut media pemerintah China, Beijing berencana membangun kapasitas penelitian tambahan melalui satelit dan laboratorium baru, serta menandatangani perjanjian eksplorasi angkasa luar dengan berbagai mitra, termasuk salah satunya Pakistan.

Arsitek program eksplorasi Bulan oleh pemerintah China, Wu Weiren, mengatakan pada bulan Maret bahwa Beijing akan meluncurkan wahana jelajah Mars pada tahun 2020.

Selain itu, China juga berencana meluncurkan stasiun antariksa permanen pada tahun 2022.

Bahkan ada rencana awal untuk menjadi negara kedua di dunia yang menempatkan seseorang di permukaan Bulan, kemungkinan di tahun 2030-an.

Bukan hanya pemerintah yang ikut serta dalam perlombaan antariksa, beberapa pihak swasta juga tergelitik untuk bertaruh di dalamnya.

Industri angkasa luar swasta China kini memiliki lebih dari 60 perusahaan, di mana OneSpace menjadi entitas non-pemerintah pertama yang meluncurkan roket pada tahun 2018, yakni roket OS-X setinggi 9 meter, yang lepas landas dari sebuah pangkalan di barat laut China.

Loading
Artikel Selanjutnya
Rusia dan China Desak Pertemuan Dewan Keamanan PBB Terkait Uji Coba Rudal AS
Artikel Selanjutnya
Korut Sebut Langkah AS Ini Bisa Picu 'Perang Dingin' Jenis Baru