Sukses

5 Fakta Terduga Pelaku Penembakan Sinagog di California

Liputan6.com, Washington DC - Nama John Earnest menyeruak sebagai terduga pelaku penembakan sinagog di California, Amerika Serikat. Dalam insiden itu, satu orang tewas dengan tiga lainnya luka-luka.

Earnest diketahui menyerahkan diri kepada personel kepolisian. Sesaat setelah melancarkan serangan, ia menelepon polisi dan mengatakan lokasinya di Interstate 15 di Rancho Bernardo. Salah satu peugas polisi kemudian melihatnya dengan mobil. Earnest-pun segera menepi dan mengangkat tangannya di depan petugas itu.

Keberadaan Earnest sebagai tersangka penembakan sinagog menjadi misteri. Ia disebut-sebut sempat memuji pelaku penyerangan masjid di Selandia Baru, Brenton Tarrant. Ia juga mengadopsi metode serupa, yakni mengunggah manifesto penembakan ke sosial media.

Berikut adalah lima fakta John Earnest, terduga pelaku penembakan sinagog, dikutip dari laman Heavy.com pada Minggu (28/4/2019).

2 dari 6 halaman

1. Memposting Manifesto 4.000 Kata

Earnest memposting manifesto supremasi anti-Semitis dan Islamophobia sebelum serangan.

Dokumen itu diketahu terdiri atas 4.000 kata, yang diterbitkan secara daring melalui 8chan sebelum penembakan.

Dalam sebuah poting, ia juga mengatakan akan menyiarkan langsung serangan itu, dengan memberikan tautan ke sebuah halaman Facebook. Namun, tidak ada video penembakan yang muncul. Saat ini, halaman Facebook yang ditautkan juga telah dinonaktifkan.

3 dari 6 halaman

2. Tidak Memiliki Catatan Kriminal

Sama dengan Brenton Tarrant, pelaku penyerangan masjid di Christchurch Selandia Baru, Earnest tidak memiliki catatan kriminal sebelumnya. FBI mengonfirmasi tidak ada laporan tentangnya yang dibuat sebelum penembakan.

Sheriff County San Diego, Bill Gore mengatakan mereka sedang menyelidiki kasus ini sebagai pembunuhan dan juga sedang menyelidiki kemungkinan dakwaan kejahatan rasial dan pelanggaran hak-hak sipil federal.

Untuk diketahui, penembakan terjadi pada hari terakhir Paskah, dan tepat enam bulan sejak eorang pria bersenjata melepaskan tembakan ke sinagog Tree of Life di Pittsburgh, menewaskan 11 jemaat dan melukai beberapa lainnya. Para penyelidik mengatakan pelaku pada saat itu termotivasi oleh pandangan anti-Semitis.

Earnest dalam manifestonya mengatakan bahwa dirinya terinspirasi oleh penembak sinagog Tree of Life tersebut dan penembak masjid di Selandia Baru yang menewaskan 50 orang pada 15 Maret 2019.

4 dari 6 halaman

3. Mahasiswa Keperawatan

John Earnest mengaku dalam manifestonya sebagai seorang mahasiswa keperawatan di California State University, San Marcos.

Sebelumnya, ia bersekolah di Mt. Carmel High Scool. Di sekolah tersebut, ayahnya mengajar sebagai guru pendidikan sains.

Saat ini polisi tengah mengurus surat perintah penggeledahan di rumah orangtuanya. Rumah orang tua Earnest berjarak sekitar tujuh mil dari sinagog Chabad of Poway.

Earnest memiliki dua saudara perempuan dan satu saudara laki-laki.

5 dari 6 halaman

4. Mengaku Tidak Sakit Jiwa

Dalam manifestonya, Earnest mengklaim bahwa dirinya tidak sakit jiwa.

“Saya telah melihat banyak pasien sakit jiwa. Ini memilukan dan saya tahu seperti apa keadaannya. Tidak, saya tidak memiliki penyakit mental,” tulisnya.

Pada bagian selanjutnya manifesto itu, Earnest menceritakan bahwa dirinya telah bermain piano sejak kecil.

“Sejak saya berumur 4 tahun. Itu adalah hal favorit saya untuk dilakukan. (Dan) ini adalah hal favorit saya untuk dilakukan sekarang," katanya.

6 dari 6 halaman

5. Bukan Pendukung Trump

Seperti tersangka penyerangan Sinagog Pittsburgh, Earnest bukanlah pendukung Trump. Ia justru menganggap Trump mencintai Yahudi.

Dalam manifestonya, John Earnest menulis tentang pertanyaan dan jawaban. Pertanyaan pertama yang ia jawab sendiri adalah terkait apakah dia pendukung Trump. Dia menulis, "Maksudmu Zionis, pencinta Yahudi, anti-Putih, pengkhianat? Jangan buat aku tertawa."

Tentang ideologi politiknya, Earnest membantah dirinya konservatif. "Saya bukan pengecut yang tidak berguna ... saya bukan konservatif. Konservatif adalah keliru," tulisnya.

Ia juga menulis tidak merasakan penyesalan atas apa yang telah dilakukannya.

Loading
Artikel Selanjutnya
Donald Trump Kecam Insiden Penembakan Sinagog di California
Artikel Selanjutnya
Pemimpin Sinagog Pernah Mengecam Insiden Penembakan di Masjid Selandia Baru