Sukses

PBB: Kita Hanya Punya Waktu 12 Tahun untuk Cegah Malapetaka Pemanasan Global

Liputan6.com, Jenewa - Pemerintah di seluruh dunia harus mengambil "perubahan yang cepat, luas dan belum pernah terjadi sebelumnya di semua aspek masyarakat" untuk menghindari tingkat pemanasan global yang berbahaya, kata laporan baru dari otoritas ilmiah global PBB tentang perubahan iklim.

Laporan yang dikeluarkan Senin 8 Oktober 2018 oleh Panel Antarpemerintah PBB tentang Perubahan Iklim (IPCC) yang bernaung di bawah Kesepakatan Iklim Paris PBB mengatakan, Bumi akan mengalami kenaikan suhu global melewati ambang minimum yang ditetapkan 1,5 derajat Celsius pada awal 2030.

Pemanasan global akibat kenaikan suhu melewati 1,5 derajat C akan mempercepat risiko kekeringan ekstrem, kebakaran hutan, banjir dan kekurangan pangan untuk ratusan juta orang.

Bumi sudah hampir pada dua pertiga mendekati target tersebut, dengan suhu global telah menghangat sekitar 1 derajat C. Penetapan periode kenaikan suhu global itu didasarkan pada tingkat emisi gas rumah kaca saat ini.

Demi menghindari kenaikan suhu yang lebih tinggi hingga melewati ambang 1,5 C, maka akan membutuhkan tindakan yang signifikan dalam beberapa tahun mendatang, imbau laporan itu.

"Ini mengkhawatirkan karena kita tahu ada begitu banyak masalah jika kita melampaui 1,5 derajat C pemanasan global, termasuk lebih banyak gelombang panas dan musim panas yang lebih panas, kenaikan permukaan laut yang lebih besar, dan, untuk banyak bagian dunia, kekeringan dan curah hujan yang lebih buruk," kata Andrew King, seorang dosen ilmu iklim di Melbourne University, mengomentari laporan IPCC, seperti dikutip dari CNN (8/10/2018).

Demi mencapai hal tersebut, laporan IPCC mengimbau agar pada 2030, emisi bersih global zat karbon dioksida harus turun 45 persen dari level presentase tahun 2010 dan mencapai "emisi bersih 0" sekitar tahun 2050 untuk menjaga suhu pemanasan global pada angka sekitar 1,5 derajat C.

Menurunkan emisi hingga ke level itu --meski secara teknis mungkin-- akan membutuhkan perubahan luas dalam kebijakan energi, perindustrian, infrastruktur, transportasi dan tata perkotaan, kata laporan IPCC.

"Jendela waktu untuk menjaga pemanasan global di bawah 1,5 derajat C sedang tertutup dengan cepat dan para pihak yang berkomitmen untuk mencapai target itu, yang tergabung dalam Kesepakatan Iklim Paris, belum optimal untuk mencapai tujuan itu," tambah King.

 

* Update Terkini Asian Para Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru di Sini.

 

Simak video pilihan berikut:

 

2 dari 3 halaman

Konsekuensi Setelah Tak Bertindak Selama Beberapa Tahun Terakhir

Laporan IPCC menunjukkan dengan jelas bahwa perubahan iklim benar-benar terjadi, dan, apa yang akan terjadi kemudian, bisa saja jauh lebih buruk. Terkecuali, langkah politis internasional segera diambil untuk mencegah hal tersebut.

"Salah satu pesan kunci yang keluar sangat kuat dari laporan ini adalah bahwa kita sudah melihat konsekuensi dari 1 derajat C pemanasan global melalui cuaca yang lebih ekstrim, naiknya permukaan laut dan berkurangnya es laut Arktik, di antara perubahan lain," kata Panmao Zhai, wakil Kelompok Kerja I IPCC.

Bahkan jika suhu pemanasan global dijaga pada atau di bawah 1,5 derajat C, hal itu akan tetap memberikan dampak yang meluas dan signifikan.

Suhu selama gelombang panas di musim panas, seperti yang baru saja dialami di Eropa musim panas ini, dapat diperkirakan meningkat sebesar 3 derajat C kata laporan IPCC.

Kekeringan yang lebih sering atau intens, seperti yang hampir membuat kelangkaaan air di Cape Town, Afrika Selatan, serta peristiwa hujan ekstrim yang lebih sering seperti topan Harvey dan Florence di Amerika Serikat, juga menunjukkan bukti bahwa planet kita hampir mencapai ambang krisis pemanasan.

Terumbu karang juga akan secara drastis terkena dampak, dengan antara 70 dan 90 persen diperkirakan akan mati, termasuk Great Barrier Reef Australia.

Negara-negara di belahan bumi selatan akan berada di antara yang lebih buruk, laporan itu mengatakan, "di mana mereka diproyeksikan untuk mengalami dampak terbesar pada pertumbuhan ekonomi akibat perubahan iklim jika pemanasan global meningkat."

Laporan itu juga menggarisbawahi bagaimana bahkan peningkatan terkecil dalam target tersebut akan memperburuk dampak bencana alam baru-baru ini.

"Setiap tambahan pemanasan akan berdampak signifikan, terutama karena pemanasan yang lebih tinggi dari 1,5 derajat C akan meningkatkan risiko yang terkait dengan perubahan tahan lama atau tidak dapat diubah, seperti hilangnya beberapa ekosistem," kata Hans-Otto Portner, wakil Kelompok Kerja II IPCC.

Laporan itu juga mengutip contoh spesifik tentang bagaimana dampak pemanasan global akan berkurang dengan mempertahankan suhu pemanasan global pada ambang 1,5 derajat C, dibandingkan dengan 2 derajat C --seperti yang diatur dalam Kesepakatan Iklim Paris:

1. Permukaan laut global akan naik 10 cm lebih rendah pada tahun 2100

2. Kemungkinan Laut Arktik bebas dari es laut di musim panas hanya akan terjadi sekali per abad, bukannya sekali per dekade.

3. Terumbu karang hanya akan menurun sekitar 70-90 persen daripada hampir sepenuhnya musnah.

Laporan yang dipublikasikan pada Senin 8 Oktober 2018 dibuat selama tiga tahun dan merupakan hasil pertanggungjawaban langsung dari Kesepakatan Iklim Paris 2015.

Dalam kesepakatan itu, 197 negara menyetujui tujuan untuk menahan suhu global "jauh di bawah" 2 derajat C dan mengejar upaya agar membatasinya pada ambang 1,5 derajat C.

Amerika Serikat pada awalnya ikut dalam perjanjian itu, tetapi Presiden Donald Trump menarik AS keluar satu setengah tahun kemudian, mengklaim bahwa perjanjian itu merugikan Negeri Paman Sam.

3 dari 3 halaman

Mungkinkah?

Untuk membatasi pemanasan global pada ambang 1,5 derajat C adalah "mungkin dalam hukum kimia dan fisika," kata Jim Skea, wakil Kelompok Kerja III IPCC.

"Tetapi melakukan hal itu akan membutuhkan perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya."

"Kerja sama internasional mutlak penting untuk membatasi emisi ... serta mengoordinasi adaptasi dan mitigasi yang efektif dan luas," kata Sarah Perkins-Kirkpatrick, seorang analis di Pusat Penelitian Perubahan Iklim di Universitas New South Wales.

"Beberapa tahun ke depan akan menjadi penting dalam upaya ini," tambahnya.

Satu isu kunci adalah emisi negatif dengan menerapkan teknologi pencucian karbon skala besar yang dapat mengurangi jumlah di atmosfer dan bertindak untuk melawan pencemaran lanjutan.

Menurut laporan itu, ada dua cara utama untuk menghilangkan karbon dari atmosfer, yakni meningkatkan proses alami yang sudah ada, dan menerapkan teknologi penghilangan karbon eksperimental.

Namun, semua metode "berada pada tahap perkembangan yang berbeda atau hanya pada tataran konseptual, karena mereka belum diuji pada skala massal," laporan IPCC memperingatkan.

Mereka juga akan membutuhkan keterlibatan politik yang besar secara global, karena akan mengurangi jumlah karbon yang dipancarkan.

Terlepas dari peringatan-peringatan yang mengerikan dari laporan tersebut, tidak ada indikasi kerja sama semacam itu akan dapat dilakukan, khususnya mengingat sikap pemerintahan Trump mengenai masalah ini.

"Hari ini para ahli ilmiah terkemuka di dunia secara kolektif memperkuat apa yang telah dijelaskan oleh alam - bahwa kita perlu menjalani transformasi yang mendesak dan cepat menuju ekonomi energi bersih global," kata mantan Wakil Presiden AS Al Gore.

"Sayangnya, administrasi Trump telah menjadi kubu yang jahat dalam usahanya yang sempit dalam menopang industri bahan bakar fosil yang kotor di masa lalu. Pemerintahannya bertentangan langsung dengan bisnis, negara, kota, dan warga Amerika yang memimpin transformasi menuju tujuan itu."

Loading
Artikel Selanjutnya
PBB Apresiasi Gojek Terkait Keamanan Perempuan
Artikel Selanjutnya
PBB Tolak Wacana Jokowi Hukum Mati Koruptor di Indonesia