Afrika Geser Asia Jadi Benua dengan Kelaparan Terbanyak di Dunia

Afrika menjadi benua dengan jumlah penduduk yang menghadapi kelaparan terbanyak di dunia untuk pertama kalinya.

Diterbitkan 24 Juli 2026, 13:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, El Fashir - Afrika untuk pertama kalinya menjadi benua dengan jumlah penduduk yang menghadapi kelaparan terbanyak di dunia. Temuan tersebut diungkap dalam laporan tahunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai ketahanan pangan dan gizi yang dirilis pada Selasa 21 Juli 2026.

Dikutip dari Channel News Asia, Jumat (24/7/2026), laporan yang disusun oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) bersama empat badan PBB lainnya menunjukkan bahwa upaya menekan angka kelaparan secara global memang terus mengalami perbaikan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, kemajuan tersebut berlangsung tidak merata di berbagai kawasan.

"Pusat gravitasi kelaparan telah bergeser dari Asia ke Afrika," kata Direktur Divisi Ekonomi Agripangan FAO, David Laborde.

Menurut Laborde, sekitar 25 tahun lalu China masih menghadapi persoalan kelaparan, namun berhasil mengatasinya. Sementara India juga masih menghadapi tantangan serupa, tetapi terus berupaya secara aktif untuk menyelesaikannya.

Laporan tersebut memperkirakan sebanyak 309 juta orang di Afrika mengalami kelaparan pada tahun lalu, atau sekitar 20 persen dari total populasi benua itu.

Sementara itu, Asia berada di posisi berikutnya dengan 292 juta penduduk terdampak kelaparan, atau sekitar 6 persen dari jumlah penduduknya.

Secara global, proporsi penduduk dunia yang mengalami kelaparan diperkirakan turun dari 8,6 persen pada 2022 menjadi 7,8 persen pada 2025.

Penurunan tersebut setara dengan berkurangnya sekitar 43 juta orang, sehingga jumlah penduduk dunia yang menghadapi kelaparan menjadi sekitar 645 juta orang. Meski demikian, angka itu masih lebih tinggi dibandingkan sebelum pandemi Covid-19.

Laporan juga mencatat bahwa prevalensi kekurangan gizi di Afrika terus meningkat sejak 2017. Namun, badan-badan PBB menyebut perkiraan terbaru menunjukkan adanya tanda-tanda perbaikan pada 2025.

 

Tak Mampu Beli Makanan Bergizi

Di sisi lain, persentase penduduk yang tidak mampu membeli makanan bergizi juga terus meningkat di Afrika sejak 2021, sementara di kawasan lain justru mengalami penurunan.

Sebanyak 66,6 persen penduduk Afrika tidak mampu membeli makanan sehat, atau lebih dari dua kali lipat dibandingkan tingkat di Asia.

Laporan tersebut mendorong negara-negara Afrika untuk memprioritaskan transformasi sektor pangan yang berasal dari hewan, yang disebut sebagai kelompok pangan dengan biaya paling mahal di kawasan tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, Afrika juga menghadapi guncangan iklim yang parah. Kondisi itu diperburuk oleh berbagai konflik yang terjadi di sejumlah wilayah.

"Konflik seperti yang terjadi di Sudan dan di Republik Demokratik Kongo juga memberikan dampak besar bagi masyarakat yang tidak lagi dapat mengakses lahan mereka atau kehilangan sumber pendapatan," kata Laborde.

Pada Mei lalu, PBB memperingatkan sekitar 20 juta orang menghadapi kerawanan pangan akut akibat perang di Sudan.

PBB juga memperingatkan pada Juni bahwa perang yang berkepanjangan di Timur Tengah dapat mendorong jutaan orang lainnya ke dalam kondisi kelaparan akut.

Laborde mengatakan dampak kenaikan biaya energi dan pupuk akibat perang masih relatif terbatas untuk saat ini. Namun, ia menegaskan bahwa krisis tersebut belum berakhir.