Sukses

5 Misteri Kejahatan yang Terungkap Berkat Media Sosial

Liputan6.com, Jakarta - Kasus kriminal umumnya banyak ditangani oleh polisi dan detektif. Setiap hari, mereka mengurusi begitu banyak tindak kejahatan dan tidak mungkin menyelesaikannya hanya dalam waktu sekali urus.

Beruntung, teknologi saat ini kian canggih, sehingga meringankan beban kerja polisi dan detektif dalam mengungkap kasus.

Contohnya saja memanfaatkan media sosial. Media sosial ternyata sanggup memberikan bukti kunci dari kasus kejahatan yang sulit diungkap di masa lalu.

Berikut 5 teka-teki kejahatan yang berhasil dipecahkan berkat media sosial, seperti dikutip dari Top Tenz, Senin (19/3/2018).

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

1 dari 6 halaman

1. Kejahatan Kebencian

Pada bulan September 2014, sekelompok orang bertemu dengan dua pria gay di Center City Philadelphia, Amerika Serikat. Mereka menanyakan status hubungan kedua pria itu.

Ketika keduanya menjawab "ya", gerombolan tadi langsung memukul dan merampok pasangan homoseksual tersebut. Salah satu korban terluka parah, dia harus dilarikan ke rumah sakit dan menutup mulutnya.

Melalui kamera keamanan di lokasi kejadian, polisi akhirnya berhasil mengetahui para pelaku. Meski demikian, polisi menemui kendala karena tak bisa mengidentifikasi penyerang. Lalu, mereka meminta informasi kepada siapa pun yang bersedia membantu memecahkan kasus kebencian ini.

Seorang pengguna Twitter dengan nama "FanSince09" berinisiatif membantu polisi. Saat itu, akunnya diikuti oleh sekitar 5.000 followers. Dalam kesehariannya, ia biasa mengunggah tulisan-tulisan kocak tentang dunia olahraga di Philadelphia. Tapi kali ini, "tugas" baru menantinya. Ia memutuskan untuk mengunggah video itu ke Twitter dan meminta bantuan semua orang.

Melalui petunjuk kecil dalam video tersebut, pengguna internet dapat melihat foto dari gerombolan tersebut, yang mengarah pada identifikasi restoran tempat penyerang makan malam.

Kemudian, mereka melacak fitur "check in" pada Facebook untuk melihat siapa yang berada di sana saat malam kejadian. Hanya butuh waktu 2 jam untuk menguak identitas para penjahat.

2 dari 6 halaman

2. Pembunuhan Abraham Shakespeare

Pada tahun 2006, seorang pria bernama Abraham Shakespeare memenangkan undian jutaan dolar. Ia lantas mempekerjakan seorang wanita bernama Dorice "DeeDee" Moore untuk menjadi penasihat keuangannya.

Pada tahun 2009, Moore membunuh Shakespeare. Motifnya agar dia tetap bisa mengendalikan keuangan korban. Jasad si bos dikubur dengan adonan beton.

Sebelumnya, Shakespeare memang sempat dilaporkan hilang. Tapi, meski polisi mencurigai Moore, mereka tidak mempunyai bukti kuat untuk menangkapnya.

Sejak polisi tak bisa lagi turun tangan, komunitas Websleuth muncul dan mulai bertindak untuk mengumpulkan bukti tambahan. Mendengar kabar tentang Websleuth, Moore seketika panik dan merasa sangat terancam. Segala upaya dilakukan, termasuk membuat akun media sosial baru agar tak seorang pun bisa mendapatkan bukti lanjutan.

Beruntung, Websleuth bisa melacak alamat IP Moore. Informasi ini diteruskan ke penegak hukum dan ditambahkan ke dalam daftar bukti. Dia akhirnya dinyatakan bersalah atas tuduhan pembunuhan.

Websleuth adalah pengguna internet yang terdiri dari ribuan detektif amatir. Mereka menghabiskan waktu luang untuk memeriksa misteri dari kasus-kasus yang belum terpecahkan. Fokusnya yaitu kasus pembunuhan dan orang hilang.

3 dari 6 halaman

3. Kekerasan Terhadap Hewan

Ketika aplikasi layanan berbagi video berdurasi pendek Vine masih ada, seorang remaja mengunggah rekaman yang menunjukkan ia menendang seekor anak kucing dengan brutal.

Video ini diambil di teras belakang rumahnya. Meski telah dihapus, tapi video sudah terlanjur menyebar di Reddit dan 4chan. Warganet beramai-ramai mencari tahu identitas asli si remaja.

Setelah dilacak, akhirnya mereka mengetahui bahwa pelaku kekerasan terhadap hewan ini adalah anak laki-laki berusia 17 tahun yang bernama Walter Easley. Warganet kemudian melaporkannya ke polisi.

Meski anak kucing itu baik-baik saja, tindakan sadis Easley tidak menghentikan langkah layanan pelindung hewan untuk mengevakuasi semua hewan peliharaan dari rumah Easley.

Tentu saja ibunda Easley, merasa sangat terganggu lantaran hewan-hewan kesayangannya harus diambil akibat ulah bodoh anaknya. Saat menjalani persidangan, Easley mengaku bersalah. Ia mengatakan bahwa dirinya tak bermaksud menyakiti anak kucing dan itu semua hanya lelucon semata.

4 dari 6 halaman

4. Pemerkosaan oleh Pemain Sepak Bola Lokal

Pada tahun 2012, siswa sekolah menengah atas dari Steubenville, Ohio, Amerika Serikat mengadakan pesta akhir musim panas di lapangan sepak bola pinggiran kota. Di sana gelap, cahaya pun minim.

Keriangan pesta seketika "menjelma" jadi mencekam, setelah para siswa melihat seorang gadis muda diseret oleh beberapa pemain bola. Perempuan itu terlihat mabuk berat dan tak sadarkan diri.

Para pemain bola itu tak sadar kalau ada orang lain di lapangan, karena kondisinya amat gelap. Mereka mulai menggerayangi dan memperkosa sang gadis berulang-ulang, selama beberapa jam. 

Seorang siswa mengambil foto punggung dua pemain sepak bola yang menyeret gadis itu, diam-diam, dan mengunggahnya di Instagram. Ia juga menyertakan hashtag #rape dalam caption-nya.

Namun yang mengejutkan adalah tak seorang pun dari mereka yang berani membela perempuan malang tersebut dan mengkonfirmasi identitas para pemain bola.

Seorang blogger yang gemar menulis tentang kasus kejahatan memasang foto-foto dan bukti lain di lamannya. Ia menuduh polisi setempat pilih kasih, karena mengabaikan kasus ini dan lebih memilih membela bintang sepakbola lokal mereka.

Memang benar bahwa anggota penegak hukum meminta siapa pun untuk menjauhkan diri dari kasus tersebut, karena kesetiaan mereka terhadap klub sepak bola lokal.

Melalui unggahan di blog tersebut, korban dan orang tuanya menemukan banyak bukti terkait kasus pemerkosaannya, mulai dari di Twitter, Instagram dan YouTube. Mereka mengumpulkan bukti-bukti itu dan menyerahkannya ke polisi Steubenville. Seminggu kemudian, Trent Mays dan Ma'lik Richmond ditangkap atas tuduhan pemerkosaan.

Tanpa media sosial, korban tidak akan pernah mendapat keadilan di kota yang terus mengagungkan klub sepak bola.

5 dari 6 halaman

5. Tabrak Lari

Pada malam Halloween tahun 1968, seorang gadis berusia 4 tahun bernama Carolee Ashby, jadi korban tabrak lari di Upstate, New York. Selama beberapa dekade, polisi tidak bisa mengetahui identitas pengemudi dan mengungkap kasus itu.

Setelah pensiun, mantan perwira polisi bernama Letnan Russ Johnson mengunggah cerita tentang bocah malang tersebut di Facebook. Ia menyatakan rasa penyesalannya karena belum bisa mengungkap kematian Ashby, bahkan sampai ia pensiun.

Hingga suatu ketika, seorang wanita yang tinggal di Florida menanggapi kisah sang mantan perwira. Wanita ini punya kawan yang tinggal di New York. Kepadanya, wanita New York ini bercerita bahwa dia berada di kursi penumpang dari mobil yang dikemudikan oleh remaja berumur 17 tahun, bernama Douglas Parkhurst.

Parkhurst menabrak seorang anak kecil pada malam Halloween, waktu yang sama seperti yang dikisahkan oleh Johnson. Gadis New York itu memendam rasa bersalah selama ini, karena dia tak berani melaporkan pelaku ke polisi.

Setelah mendapatkan keterangan ini, polisi langsung melacak keberadaan Parkhurst, mendatangi rumahnya dan menanyainya. Saat itu juga, Parkhurst berterus terang telah menabrak gadis kecil lantaran mengemudi sambil mabuk.

Sayangnya, surat perintah penangkapan sudah tidak berlaku, jadi dia tidak bisa dijebloskan ke penjara atas kasus kematian Carolee Ashby.

Artikel Selanjutnya
Basmi Hoax hingga Akun Palsu, Ini Upaya Facebook Lindungi Pemilu
Artikel Selanjutnya
KPAI: Waspadai 3 Modus Eksploitasi Anak