Hakim Ekuador Tewas Ditembak Kelompok Bersenjata Saat Menuju Gym

Apa respons polisi Ekuador usai seorang hakim tewas akibat serangan kelompok bersenjata?

Diterbitkan 13 Mei 2026, 19:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Quito - Seorang hakim di Ekuador tewas ditembak dalam situasi keadaan darurat yang diberlakukan pemerintah untuk menekan kejahatan terorganisir. Insiden ini menambah panjang daftar kekerasan bersenjata di negara tersebut yang tengah menghadapi krisis keamanan serius.

Badan pengawas peradilan Ekuador menyebut korban, Hakim Lady Pachar, ditembak saat dalam perjalanan menuju pusat kebugaran di kota Machala, ibu kota Provinsi El Oro yang berbatasan dengan Peru. Laporan media Dawn pada Rabu (13/5/2026) menyebutkan, dua pengawal yang biasanya mendampingi korban dilaporkan tidak berada di lokasi saat kejadian.

Kepolisian setempat menyatakan Pachar diduga menjadi target serangan bersenjata. Aparat juga mengindikasikan korban sebelumnya menerima sejumlah ancaman, yang diduga berkaitan dengan keputusan hukum terkait pembebasan anggota geng kriminal.

Badan Pengawas Peradilan Ekuador dalam pernyataan resminya mengutuk keras pembunuhan tersebut. Lembaga itu menyebut insiden ini sebagai serangan langsung terhadap sistem peradilan dan supremasi hukum di Ekuador.

Ekuador dalam beberapa tahun terakhir menghadapi peningkatan tajam kekerasan terkait kejahatan terorganisir. Negara itu kini menjadi salah satu jalur transit utama perdagangan narkotika global, dengan estimasi sekitar 70 persen kokain dari Kolombia dan Peru mengalir melalui wilayahnya menuju pasar internasional.

Di bawah pemerintahan Presiden Daniel Noboa, otoritas Ekuador telah menerapkan kebijakan keras sejak 2023 untuk menekan jaringan narkotika, termasuk pengerahan militer ke jalanan, operasi penggerebekan, serta penetapan keadaan darurat secara berkala.

Namun, berbagai langkah tersebut belum mampu meredam eskalasi kekerasan. Data menunjukkan angka kematian akibat kekerasan justru terus meningkat dan mencapai rekor 9.216 korban jiwa pada tahun lalu, kondisi yang memicu kritik dari berbagai organisasi hak asasi manusia.  Â