China-ASEAN Catat Dua Momentum Penting pada 2026

Dari perdagangan hingga kecerdasan buatan, ruang kerja sama kedua pihak terus meluas.

Diterbitkan 16 Juli 2026, 10:48 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Duta Besar (Dubes) China untuk ASEAN Wang Qi menyebut 2026 sebagai tahun penting dalam perjalanan hubungan China dan ASEAN. Tahun ini menandai lima tahun pembentukan Kemitraan Strategis Komprehensif China-ASEAN sekaligus 35 tahun hubungan dialog ASEAN-China. 

"Melihat kembali 35 tahun terakhir, khususnya lima tahun terakhir, hubungan China-ASEAN telah mengalami lompatan perkembangan. Hubungan ini telah menjadi salah satu model kerja sama regional yang paling substantif, membuahkan hasil, dan dinamis di kawasan Asia-Pasifik," kata Dubes Wang dalam China-ASEAN Media and Think Tank Salon di Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Ia menilai arti hubungan China-ASEAN telah melampaui kawasan dan memiliki kepentingan bagi dunia secara lebih luas.

Di bidang politik, Dubes Wang menyebut komunikasi dan pertemuan antara para pemimpin serta pejabat tinggi China dan negara-negara ASEAN telah memperkuat kepercayaan politik kedua pihak.

Hubungan ekonomi ditandai dengan posisi China dan ASEAN sebagai mitra dagang terbesar satu sama lain selama enam tahun berturut-turut.

"China dan ASEAN telah menjadi mitra dagang terbesar satu sama lain selama enam tahun berturut-turut, dan nilai perdagangan antara kedua pihak telah melampaui US$ 1 triliun," tutur Dubes Wang.

Dalam bidang konektivitas, ungkap Dubes Wang, China dan ASEAN menjalankan kerja sama Belt and Road. Kedua pihak telah menandatangani Protokol Peningkatan Kawasan Perdagangan Bebas China-ASEAN (ACFTA) 3.0 dan mendorong pelaksanaan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) sebagai bagian dari integrasi ekonomi regional.

Hubungan antarmasyarakat berkembang melalui pariwisata, kebudayaan, kepemudaan, dan pendidikan. China dan negara-negara ASEAN menjadi tujuan wisata penting bagi masyarakat satu sama lain, sedangkan mobilitas warga antara kedua pihak semakin sering.

"Pertukaran antarmasyarakat di bidang kebudayaan, kepemudaan, pendidikan, dan bidang lainnya semakin erat, sehingga mendekatkan masyarakat kedua pihak," ujar Dubes Wang.

Arah Hubungan China-ASEAN ke Depan

Dubes Wang menyoroti transisi energi, ekonomi digital, dan kecerdasan buatan sebagai bidang yang berpotensi dikembangkan China dan ASEAN di tengah perubahan teknologi dan industri.

"Dalam gelombang baru revolusi teknologi dan transformasi industri, terdapat potensi yang sangat besar bagi kerja sama China dan ASEAN di berbagai bidang baru yang penting, seperti transisi energi, ekonomi digital, dan kecerdasan buatan," tuturnya.

Untuk menggambarkan perkembangan hubungan kedua pihak, Dubes Wang mengutip ungkapan Konfusius bahwa seseorang berdiri teguh pada usia 30 tahun dan tidak lagi diliputi keraguan pada usia 40 tahun. Menurut dia, hubungan China-ASEAN telah melewati tahap berdiri teguh dan bergerak menuju fase yang lebih matang dan stabil.

Dubes Wang menjelaskan bahwa rangkaian agenda ASEAN akan berlanjut hingga akhir tahun. Pertemuan para menteri luar negeri terkait ASEAN dijadwalkan berlangsung di Manila, Filipina, pada akhir Juli 2026, sedangkan pertemuan para pemimpin dalam kerangka kerja sama Asia Timur akan digelar menjelang akhir tahun. Filipina memegang keketuaan ASEAN pada 2026.

"China dan ASEAN pasti akan mencapai serangkaian hasil kerja sama baru," kata Dubes Wang.

Pada bagian akhir pidatonya, Dubes Wang menegaskan prinsip hidup berdampingan secara damai, saling menghormati, dan saling menguntungkan sebagai landasan hubungan China dan ASEAN.

"Selama kita menjunjung semangat hidup berdampingan secara damai, saling menghormati, dan saling menguntungkan yang selalu memandu kita, kita akan mampu menjaga dan mendorong perdamaian, stabilitas, pembangunan, dan kemakmuran kawasan, menciptakan masa depan yang lebih baik bagi kawasan kita, serta memainkan peran yang lebih konstruktif bagi perdamaian dan kemakmuran dunia," imbuh Dubes Wang.