Sukses

26-6-1963 : Kalimat Super Presiden Kennedy 'Ich bin ei Berliner'

Liputan6.com, Jakarta - Hari itu, 26 Juni 1963, Presiden Amerika Serikat John F Kennedy menyampaikan pidato di Berlin yang menggugah hati warga Jerman Barat. Pidatonya menjadi titik awal dukungan AS ke warga Jerman Barat yang mencemaskan kedaulatannya setelah dibangunnya tembok Berlin.

Di hadapan 120 ribu warga Berlin, Kennedy mengatakan “Ich bin ei Berliner”, artinya “Saya ini warga Berlin.” Kata-kata super itu menunjukkan bahwa Presiden ke-35 AS itu merasa jadi bagian dari warga Jerman.

Dengan suara berapi-api, Kennedy menegaskan bahwa Jerman Barat merupakan simbol kemerdekaan yang kini berada di bayang-bayang ancaman Perang Dingin. Jerman Timur kala itu memihak ke kubu Uni Soviet.

“Dua ratus tahun lalu. Kobaran kata-kata semangat paling berpengaruh adalah ‘civis Romanus sum’, (saya ini warga Romawi). Hari ini, atas nama kedaulatan, kobaran paling berpengaruh yakni ‘Ich bin ein Berliner’,” tegas Kennedy, seperti dimuat BBC on This Day.

Menurut dia, kedaulatan dan demokrasi saat ini belum bisa berjalan sepenuhnya. Masih banyak rintangan untuk mewujudkannya. “Tapi kita akan berusaha untuk mencapainya dan membuang jauh-jauh tembok pembatas di antara kita.”

Pidato Kennedy tersebut mendapat sambutan hangat dari warga Jerman Barat. Sementara warga di Jerman Timur yang dibatasi Tembok Berlin juga menyaksikan Kennedy bertutur, meski ada penjagaan dari polisi Jerman Timur.

Setelah pidato Kennedy, Walikota Jerman Barat Willi Brandt naik podium dan berbicara terkait warga Jerman Timur, bahwa pihaknya akan menemui Pemimpin Uni Soviet Nikita Khruschev terkait kedaulatan mereka.

“Mereka (warga Jerman Timur) ingin bersama kita, berkumpul bersama-sama di sini. Kami tak akan menyerah memperjuangkan hal ini, Berlin untuk semua orang tanpa ada kawat pemisah dan kita semua bersahabat di seluruh dunia.

Tembok Berlin mulai dibangun pada tanggal 13 Agustus 1961. Tembok pembatas ini juga dibarengi dengan pendirian menara penjaga yang dibangun sepanjang tembok ini, juga pendirian sebuah daerah terlarang, yang diisi dengan ranjau anti kendaraan.

Blok Timur menyatakan bahwa tembok ini dibangun untuk melindungi para warganya dari elemen-elemen fasis yang dapat memicu gerakan-gerakan besar, sehingga mereka dapat membentuk pemerintahan komunis di Jerman Timur. Meski begitu, dalam praktiknya, ternyata tembok ini digunakan untuk mencegah semakin besar larinya penduduk Berlin Timur ke Berlin Barat, wilayah Berlin Barat yang berada dalam wilayah Jerman Barat.

Sejarah lain mencatat pada 26 Juni 2000, Pramoedya Ananta Toer menerima hadiah utama di Penghargaan Kebudayaan Asia Fukuoka ke-11. 26 Juni 2001, Presiden Abdurrahman Wahid dan Perdana Menteri Australia John Howard bertemu di Canberra, untuk memperbaiki hubungan bilateral kedua negara.