Sukses

Pria Australia yang Ditahan karena Perangi ISIS Akhirnya Bebas

Liputan6.com, Canberra - Seorang pria warga negara Australia, Jamie Reece Williams adalah orang pertama yang dijatuhi tuntutan oleh pemerintahan Commonwealth karena keinginannya untuk terlibat dalam perang melawan ISIS.

Jamie dicekal pada bulan Desember 2014 di Bandar Udara Internasional Melbourne, Bundoora, Victoria ketika ia sedang mau melakukan perjalanan ke Timur Tengah untuk bergabung dengan people’s defense unit (YPG) atau unit pertahanan masyarakat yang dibentuk oleh pemerintah Suriah dan kelompok etnik Kurdi.

Dilansir dari Abc.net.au, Jaksa Agung pemerintahan Australia, George Brandis menginstruksikan pengacara negara Commonwealth untuk menghapus kasus tersebut karena menurutnya tidak masuk akal. Komentarnya senada dengan apa yang dikemukakan oleh Jamie ketika pertama kali ia menghadapi pencekalan.

“Sejujurnya menurut saya ini tidaklah masuk akal. Kaum Kurdi adalah teman Australia, sementara ISIS adalah musuh dunia. Tidaklah masuk akal kalau seseorang dituntut karena ingin membantu Kurdi melawan musuh yang adalah musuh dunia,” ujarnya.

 

Jamie pun menceritakan kecewaannya terhadap kepolisian Australia yang meragukan benar atau tidaknya ia melanggar peraturan karena ingin bergabung dengan unit kaum Kurdi. Ia pun berharap agar pemerintah Australia mengklarifikasi mengenai dituntut atau tidaknya pihak-pihak yang ingin bergabung dengan pasukan anti-ISIS ke depannya.

“Menurut saya YPG bukanlah grup teroris seperti ISIS. Apabila pemerintah tidak ingin warganya ada yang bergabung dalam grup ISIS ataupun YPG, maka mereka sudah seharusnya membuat peraturan dalam undang-undang sehingga tidak membingungkan bagi kita semua,” Jamie kepada News.co.au, Kamis lalu, 11 Februari 2016.

Jamie percaya dengan ditutupnya kasus tersebut, banyak dari warga negara Australia yang akan termotivasi untuk melakukan hal yang sama dengannya di masa lalu, yaitu bergabung dengan tim anti-ISIS.

Seperti yang diberitakan di Herald Sun, meskipun kasus Jamie Williams sudah secara resmi ditutup, kepolisian Australia akan terus menginvestigasi warga negara Australia yang pergi ke wilayah konflik di Timur Tengah.