Sukses

Terkuak, Bumi Punya Kekuatan Pelindung ala 'Star Trek'

Liputan6.com, Colorado - Perisai tak kasat mata diam-diam melindungi Bumi dari bombardir 'elektron pembunuh'. Pelindung itu ditemukan di ketinggian 7.200 mil atau 11.600 km di atas planet manusia.

Fungsi dari perisai tersebut adalah menghalangi masuknya 'badai' elektron berkekuatan tinggi yang melesat dekat Bumi dengan kecepatan nyaris menyamai kecepatan cahaya -- yang telah lama diketahui berpotensi mengancam keselamatan para astronot, membakar satelit yang mengorbit planet kita, juga merusak sistem buatan manusia di angkasa luar.

Jika sampai menghantam Bumi dalam skala masif, elektron semacam itu bisa menghentikan pasokan listrik, mengubah iklim secara radikal, dan -- ini tak kalah gawat -- bisa meningkatkan risiko kanker pada manusia.

Para ilmuwan dari The University of Colorado Boulder, Amerika Serikat yang menemukan keberadaannya mengatakan, fungsi pelindung itu mirip perisai yang menyelubungi pesawat induk luar angkasa USS Enterprise saat mendapat serangan dari kapal perang alien, dalam film 'Star Trek'.

Perisai tak kelihatan itu ditemukan antara bagian dalam dan terluar sabuk Van Allen. Sabuk radiasi Van Allen adalah dua cincin mirip donat yang penuh dengan partikel bermuatan -- proton dan elektron -- di sekitar planet manusia yang ditahan di tempatnya oleh medan magnet bumi, yang berada pada ketinggian 1.000 sampai 60.000 kilometer di atas permukaan Bumi.

"Jika diumpamakan, laju elektron-elektron tersebut seperti terhalang dinding kaca di angkasa," kata Daniel Baker, Direktur CU-Boulder's Laboratory for Atmospheric and Space, seperti Liputan6.com kutip dari CNN, Senin (1/12/2014).

 



"Seperti perisai yang diciptakan oleh medan gaya pada 'Star Trek' yang digunakan untuk memblokade serangan senjata dari para alien, kami menemukan perisai tak kentara menghalangi elektron-elektron tersebut. Ini adalah fenomena yang membingungkan," tambah dia.

Mengapa membingungkan? Sebab, fenomena tersebut berpotensi mengobrak-abrik teori yang ada sebelumnya, yang menyatakan bahwa elektron-elektron itu secara perlahan dialihkan ke atmosfer bagian atas (upper atmosphere) dan dihancurkan oleh molekul udara yang ada di sana.

"Kita melihat fenomena itu dengan sudut pandang baru, dengan serangkaian instrumen baru, yang mengungkapnya dengan detil sehingga kita bisa berkata, 'Ya, memang ada sebuah batasan yang keras dan punya kekuatan sebagai pelindung'," kata John Foster, salah satu direktur Haystack Observatory MIT, sekaligus salah satu penulis studi.

Hingga berita ini diturunkan, sifat perisai tersebut masih jadi misteri yang belum terpecahkan. Juga dari mana asal-usulnya.

Sejauh ini, belum ditemukan keterkaitannya dengan garis medan magnet atau sinyal radio bikinan manusia. Seperti dikutip dari Huffington Post, para ilmuwan juga belum yakin apakah keberadaan awan raksasa yang terbentuk dari gas dingin bermuatan yang disebut  plasmasphere -- yang membentang ribuan mil ke luar sabuk Van Allen bisa menjelaskan fenomena tersebut. (Ein/Riz)