Modus Scam Makin Canggih, Bos OJK: Siapa Pun Bisa Kena

OJK wanti-wanti maraknya modus scam baru berbasis AI dan romance scam. Otoritas tegaskan penipuan digital kini incar semua kalangan.

Diterbitkan 14 Juli 2026, 18:09 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan bahwa kejahatan penipuan digital (scam) kini dapat menjerat siapa saja tanpa memandang tingkat pendidikan, profesi, maupun kemampuan teknologi. Pelaku memanfaatkan perkembangan teknologi untuk menyasar korban dari berbagai kalangan melalui berbagai modus yang semakin canggih.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi mengatakan anggapan bahwa korban penipuan hanya berasal dari masyarakat dengan literasi rendah sudah tidak lagi relevan. Menurutnya, siapa pun berpotensi menjadi sasaran kejahatan siber apabila lengah.

Perempuan yang akrab disapa Kiki ini menegaskan, scam saat ini tidak mengenal batas usia, pendidikan, maupun latar belakang ekonomi. Bahkan masyarakat yang memiliki pendidikan tinggi dan memahami teknologi pun tetap berisiko menjadi korban.

"Scam ini terjadi kepada siapa saja, saya selalu sampaikan tidak cuma segmen tertentu kalau tertentu siapa saja yang kena, mau orang berpendidikan tinggi apalagi yang mungkin celah pendidikan kurang, orang yang terinformasi dan lain itu semua bisa kena scam, makanya ini benar-benar harus kita berantas secara bersama,” kata Kiki dalam OJK Banking Forum 2026, di Gedung Radius Prawiro, Jakarta Pusat, Selasa (14/7/2026).

Ia menambahkan, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) juga telah menempatkan financial scam dan fraud sebagai salah satu risiko terbesar yang dihadapi konsumen jasa keuangan di dunia. Oleh karena itu, penanganannya membutuhkan sinergi lintas kementerian, lembaga, aparat penegak hukum, hingga industri jasa keuangan.

"OECD juga menegaskan bahwa financial scams dan frauds itu. Saat ini menjadi risiko paling tinggi, yang terbesar yang dihadapi oleh konsumen keuangan di seluruh dunia. Karena itu memang harus diperlukan sinergi dan kolaborasi lintas sektor, lintas kementerian, lembaga, dan lain-lain yang seperti hari ini kita lakukan," ujarnya.

Menurut Kiki, perlindungan konsumen kini menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas sektor jasa keuangan. Tidak cukup hanya memastikan perbankan dan lembaga keuangan dalam kondisi sehat, tetapi juga memastikan masyarakat terlindungi dari maraknya penipuan digital dan aktivitas keuangan ilegal.

Modus Scam Makin Canggih Berbasis AI

Kiki mengatakan perkembangan teknologi membuat modus penipuan semakin sulit dikenali. Pelaku kini memanfaatkan phishing, social engineering, fake news, synthetic identity, hingga real impersonation yang diperkuat dengan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Ia juga mengungkapkan, munculnya modus baru berupa romance scam atau pig butchering scam yang mulai memakan banyak korban di Indonesia. Dalam modus ini, pelaku membangun hubungan emosional dengan korban dalam waktu tertentu sebelum akhirnya membujuk korban mengirim uang atau berinvestasi pada platform palsu.

Menurut Kiki, sebelumnya modus tersebut lebih banyak ditemukan di negara-negara dengan tingkat kesepian masyarakat yang tinggi. Namun berdasarkan laporan Satgas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI), kasus serupa kini mulai banyak ditemukan di Indonesia.

"Scam ini mungkin banyak terjadi di negara-negara yang orangnya banyak lonely, Indonesia kan kita hidup bersosial bersosialisasi ya kelompok-kelompok sosial yang banyak tapi sekarang ternyata juga kalau kita lihat di Satgas Pasti laporan juga sudah mulai banyak terkait dengan romance scam ini perubahan-perubahan,” pungkasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6