Belajar Sains Sejak Dini Bisa Bentuk Karakter Anak, Tapi Ada Syaratnya

Belajar sains sejak dini perlu stimulasi seimbang. Psikolog jelaskan peran eksplorasi dan pengalaman belajar dalam membentuk karakter anak.

Diterbitkan 11 Februari 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Hong Kong - Belajar sains sejak dini kerap dipandang sebagai bekal penting bagi masa depan anak. Banyak orang tua mulai mengenalkan sains, teknologi, dan matematika sejak usia dini dengan harapan anak tumbuh cerdas dan siap menghadapi tantangan zaman.

Namun, menurut Praktisi Psikologi Anak Usia Dini, Aninda, S.Psi, M.Psi.T., belajar sains tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Aninda menekankan bahwa stimulasi perkembangan anak sebaiknya dilakukan secara seimbang, tidak hanya berfokus pada kemampuan kognitif.

"Stimulasi perkembangan anak idealnya mencakup lima dasar, yaitu fisik, bahasa, seni, sosial, dan kognitif. Jika hanya menekankan satu aspek saja, perkembangan anak bisa menjadi tidak optimal," ujar Aninda dalam diskusi media "Nutrilon Royal dan Indomaret Dukung Stimulasi Anak Jadi Pemenang dalam Winner’s Squad Adventure ke Hong Kong" belum lama ini.

Stimulasi Seimbang Jadi Kunci Tumbuh Kembang Anak

Stimulasi fisik mencakup aktivitas motorik kasar dan halus, termasuk olahraga dan permainan aktif. Stimulasi bahasa dapat dilakukan melalui membaca buku cerita, mendongeng, serta pengenalan bahasa kedua. Sementara itu, stimulasi seni melibatkan kegiatan art and craft dan musik.

Adapun stimulasi sosial dilakukan melalui aktivitas bermain bersama yang menanamkan empati, disiplin, dan nilai moral. Semua aspek ini saling melengkapi dan berperan penting dalam membentuk karakter anak.

 

Sementara itu, stimulasi kognitif seperti sains dan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) memang banyak mendapat perhatian orang tua. Sebab, stimulasi ini dianggap mampu melatih cara berpikir logis, inovatif, dan kemampuan problem solving. Meski demikian, stimulasi kognitif tetap perlu diimbangi dengan aspek perkembangan lainnya.

Belajar Sains Lewat Eksplorasi Bukan Hafalan

Menurut Aninda, belajar sains yang tepat untuk anak usia dini bukan tentang menghafal konsep, melainkan melalui eksplorasi dan pengalaman langsung.

"Stimulasi berbasis sains melalui eksplorasi, eksperimen, dan permainan sensorik membantu anak mengembangkan kemampuan kognitif, emosional, dan sosial secara seimbang," ujarnya.

Lingkungan belajar yang tepat, lanjut Aninda, mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, kepercayaan diri, dan ketangguhan anak. Hal ini terlihat dari pengalaman edukatif seperti Winner’s Squad Adventure to Hong Kong, yang menggabungkan pembelajaran sains dengan eksplorasi langsung.

 

Pengalaman Belajar yang Membentuk Karakter Anak

Dalam program tersebut, setiap destinasi memberikan stimulasi yang berbeda dan saling melengkapi. Di Hong Kong Children’s Discovery Museum, anak-anak belajar melalui hands-on learning dan permainan peran yang mendorong imajinasi, kemampuan problem solving, serta regulasi emosi.

Sementara itu, Hong Kong Science Museum memberikan kesempatan bagi anak untuk memahami konsep ilmiah melalui ratusan instalasi interaktif. Aktivitas ini memperkuat kemampuan berpikir logis, rasa ingin tahu, serta keberanian mencoba atau trial and error.

Pengalaman belajar juga diperluas melalui kunjungan ke Hong Kong Space Museum, tempat anak diperkenalkan pada eksplorasi luar angkasa dan pemahaman konsep besar seperti waktu dan ruang.

Sedangkan di Hong Kong Zoological & Botanical Gardens, anak belajar lewat observasi langsung flora dan fauna yang menumbuhkan empati, kepekaan sensorik, serta pemahaman hubungan antar makhluk hidup.

 

Peran Orang Tua Tak Kalah Penting

Aninda menekankan bahwa stimulasi yang tepat perlu didukung peran orang tua di rumah, termasuk dalam pemenuhan nutrisi anak.

"Kombinasi stimulasi harian yang seimbang dan nutrisi yang tepat membantu membangun fondasi karakter anak yang tangguh, percaya diri, kritis, dan penuh rasa ingin tahu," pungkasnya.

Dengan pendekatan yang tepat, belajar sains sejak dini tidak hanya membuat anak pintar secara akademik, tapi juga membantu membentuk karakter positif yang akan bermanfaat hingga dewasa.