Dubes Yordania di Libya dan Wakil Menteri Afghanistan Diculik

Kasus penculikan orang dengan jabatan tinggi juga terjadi di Afghanistan. Menimpa Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Ahmad Shah Wahid.

Diterbitkan 15 April 2014, 16:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tripoli Libya pasca-Moammar Khadafi masih jauh dari aman. Duta Besar Yordania untuk Libya, Fawaz al-Aytan, diculik di pusat kota Tripoli pada Selasa 15 April 2014.

Seperti Liputan6.com kutip dari CNN, Selasa (15/4/2014), Pak Dubes diculik bersama para pengawalnya, demikian menurut keterangan Kementerian Luar Negeri Yordania. Sementara sopirnya dalam kondisi cedera.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Libya mengatakan, konvoi sang dubes dicegat kelompok bersenjata, semua memakai topeng, yang menggunakan dua kendaraan. Mereka lalu membawa pergi Dubes al-Aytan.

Pejabat di Libya seringkali menjadi target dan diintimidasi sejumlah milisi bersenjata di negeri yang masih terpecah-belah itu. Kasus lain, Wakil Menteri Pekerjaan Umum Afghanistan, Ahmad Shah Wahid, diculik kelompok bersenjata, Selasa pagi waktu setempat.

Wahid sedang berkendara ke kantornya saat mobilnya ditembaki. Demikian diungkapkan juru bicara Kemendagri Afghanistan, Sediq Sediqi. "Sopirnya dalam kondisi terluka, pria-pria bersenjata membawa Wahid," kata dia.

Lalu, Minggu kemarin, Perdana Menteri Libya yang baru diangkat, Abdullah al-Thinni, menyatakan mundur setelah dia dan keluarganya mendapat serangan.

Seorang saksi mata mengatakan, al-Thinni sedang bersama keluarganya saat konvoinya diserang kelompok milisi di dekat area tempat tinggal mereka di Tripoli. Setelah al-Thinni dan keluarganya berhasil melarikan diri dari serangan tersebut dan masuk ke pemukiman dekat jalan menuju bandara Tripoli, baku tembak hebat terjadi.

"Saya tidak bisa membiarkan setetes pun darah warga Libya tumpah karena saya. Saya tak mau jadi alasan terjadinya perang di antara orang Libya hanya karena posisi ini (sebagai perdana menteri)," ucap al-Thinni.

"Karena itu, saya minta maaf karena tidak bisa menerima penunjukan saya sebagai perdana menteri interim," ungkapnya.

Al-Thinni mengatakan, dia dan anggotanya kabinetnya akan tetap melaksanakan tugasnya sebagai pelaksana tugas pemerintahan hingga PM yang baru dipilih oleh General National Congress -- parlemen sementara Libya.

Insiden kekerasan yang terus terjadi meningkatkan kekhawatiran soal kondisi keamanan yang memburuk pasca jatuhnya Moammar Khadafi pada 2011.

Pemerintah sejauh ini belum berhasil membentuk angkatan bersenjata dan polisi untuk mengatasi ratusan kelompok milisi dengan kepentingan, ideologi, dan agenda masing-masing yang tujuannya mirip: membuat negeri di Afrika Utara itu tak stabil. (Yus Ariyanto)