Mahasiswa Disabilitas Bisa Berjaya di Lingkungan Kampus, Seperti Kisah Kenzo Yuswan

Kenzo Yuswan adalah mahasiswa disabilitas netra di UNAIR yang raih berbagai prestasi selama kuliah.

Diterbitkan 11 April 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kenzo Yuswan membuktikan bahwa mahasiswa disabilitas juga bisa berjaya di lingkungan kampus.

Kenzo adalah mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) yang baru-baru ini menyabet Juara 1 Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) UNAIR tahun 2026 untuk kategori jalur disabilitas.

Menurut Direktorat Kemahasiswaan, kemenangan ini bukan sekadar gelar, melainkan sebuah manifestasi dari semangat intelektualitas dan advokasi kemanusiaan.

Dalam ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) tingkat universitas, mahasiswa program studi S1 Ilmu Hukum itu mengangkat gagasan kreatif yang dinilai sangat relevan dengan realitas sosial saat ini. Ia menyoroti pentingnya akses pendidikan dasar bagi penyandang disabilitas sensorik, khususnya disabilitas netra.

Kenzo mengusulkan revisi terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2020 tentang Akomodasi yang Layak bagi Peserta Didik Penyandang Disabilitas dan Permendikbud Ristek Nomor 48 Tahun 2023. Kenzo mengusulkan revisi bahwa diperlukan sosialisasi tidak hanya sebatas mengenai sistem pembelajaran, tetapi juga program-program pemerintah dalam mendukung pendidikan inklusif itu sendiri.

“Saya mengusulkan perlunya mekanisme evaluasi yang lebih jelas terhadap pendidikan inklusif. Pemerintah daerah seharusnya memberikan reward (penghargaan) bagi sekolah yang berhasil menyelenggarakan pendidikan inklusif dengan baik. Namun sebaliknya, memberikan sanksi administratif bagi sekolah yang sudah difasilitasi namun tidak memberikan pengakuan setara bagi siswa disabilitas,” ujar mahasiswa penyandang disabilitas netra itu.

Bukan Prestasi Pertama

Ini bukan keberhasilan pertama Kenzo. Mahasiswa yang memiliki ketertarikan mendalam pada isu Hak Asasi Manusia (HAM) ini memiliki portofolio yang impresif.

Pada 2025, ia menjadi pembicara dalam konferensi internasional HAM. Di sana, ia memaparkan materi mengenai tanggung jawab negara dalam memenuhi akses pendidikan dasar bagi penyandang disabilitas sensorik.

Kenzo juga tercatat pernah menjalani program magang penelitian di Mahkamah Konstitusi (MK) pada 2025. Di lembaga tinggi negara tersebut, ia mendalami penelitian mengenai aksesibilitas bagi penyandang disabilitas dalam proses peradilan di MK.

“Pengalaman di MK sangat berkesan karena saya bisa bertemu langsung dengan para hakim dan pakar hukum, serta mengamati jalannya persidangan secara langsung,” tambahnya.

Proses Raih Gelar Juara

Proses meraih gelar juara tentu tidak mudah. Kenzo harus melewati serangkaian seleksi, mulai dari pengumpulan berkas capaian unggulan, pembuatan video perkenalan dalam bahasa Inggris, hingga sesi presentasi gagasan kreatif di hadapan juri.

Terkait sesi tanya jawab menggunakan bahasa Inggris yang dihubungkan dengan Asta Cita, Kenzo mengaku menjadikannya sebagai sarana belajar.

 “Bagi saya, ini adalah kesempatan untuk mengasah kemampuan argumentasi, berpikir kritis, dan komunikasi. Meski perlu waktu sedikit untuk berpikir saat menghubungkan gagasan dengan Asta Cita, Puji Tuhan semuanya bisa saya sampaikan dengan baik,” ungkap Kenzo.

Bagi Kenzo, gelar Juara 1 Mawapres UNAIR adalah sebuah amanah. Ia berharap prestasi ini menjadi jembatan baginya untuk lebih berkontribusi nyata di masyarakat. Fokus utamanya tetap konsisten, yaitu memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas netra agar benar-benar terakomodasi secara implementatif.

“Aturan hukumnya sudah ada, namun tinggal bagaimana implementasinya di lapangan. Saya ingin memastikan bahwa kontribusi saya nanti dapat membantu rekan-rekan difabel mendapatkan hak-hak mereka secara adil, terutama di sektor pendidikan,” pungkasnya.