Sukses

Tak Ingin Difabel Ketinggalan Jaman, Peneliti Kembangkan Smartwatch Khusus

Liputan6.com, Jakarta Salah satu kampus ternama di India, Institut Teknologi India (IIT), Kanpur, telah mengumumkan versi terbaru jam tangan pintar yang dikembangkan untuk digunakan oleh penyandang disabilitas, khususnya tunanetra dan gangguan penglihatan.

Dilansir dari Swarajyamag, jam tangan pintar yang dinamakan “haptic smart watch” ini telah dibuat di National Center for Flexible Electronics (NCFlexE) institut tersebut, berkat karya Profesor Siddhartha Panda dan Vishwaraj Srivastava.

Panda merupakan seorang profesor di Departemen Teknik Kimia di IIT Kanpur, sedangkan Srivastava adalah seorang insinyur proyek di NCFlexE, setelah lulus dari IIT Kanpur dengan gelar Master of Technology (M Tech) dalam ilmu material pada tahun 2020. Jam tangan pintar ini sedang dikembangkan sebagai bagian tesis M Tech Srivastava, dengan Prof Panda mementoring Srivastava.

Srivastava dan Prof Panda bahkan menerima Ranjan Kumar Memorial Award, pada Pertemuan ke-53 IIT Kanpur pada 22 Oktober 2020. Penghargaan ini artinya mereka mendapat pengakuan sebagai proyek yang relevan secara sosial terbaik oleh seorang siswa yang lulus. Sehingga mereka pun mengajukan hak paten untuk jam tangan pintar mereka pada 23 Maret 2021, sembari mereka mengerjakan kelanjutan jam tangan pintar mereka.

Jam tangan haptic memiliki interface taktil yang memudahkan tunanetra dan orang dengan gangguan penglihatan untuk membaca waktu dengan benar melalui sentuhan. BerdasarkanIIT Kanpur, informasi waktu pada jam tangan disampaikan kepada pengguna melalui getaran.

Itu karena keunikan dari arloji ini yaitu tidak memiliki jarum penunjuk jam yang bergerak, maupun bergantung pada audio untuk memberitahu waktu.

 

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Penunjuk jam menggunakan suara

"Dial Face yang terdiri dari penanda jam peka sentuhan dan output berbasis getaran digunakan untuk membaca waktu, membuat interface untuk memilih aplikasi yang berbeda, mengenali aplikasi yang berbeda secara haptik (terkait sentuhan sebagai komunikasi nonverbal), dan untuk merasakan angkanya,” kata rilis tersebut.

Selain waktu, berbagai parameter kesehatan dapat dirasakan oleh pengguna smartwatch. Sensor seperti photoplethysmography (PPG) membantu memberi tahu hal-hal seperti detak jantung dan saturasi oksigen dan akselerometer membantu melacak aktivitas sehari-hari. Ada juga fasilitas untuk mengatur timer singkat pada jam tangan.

“Dengan inovasi ini, kami bertujuan untuk membantu tunanetra dan gangguan penglihatan dengan perangkat terjangkau menggunakan teknologi terbaru,” ujar direktur IIT Kanpur Abhay Karandikar saat menyampaikan berita di media sosial.

 

 

3 dari 3 halaman

43,3 juta orang mengalami kebutaan

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan di Lancet, pada tahun 2020, diperkirakan 43,3 juta orang mengalami kebutaan, 295 juta mengalami gangguan penglihatan sedang dan berat, 258 juta mengalami gangguan penglihatan ringan, dan 510 juta mengalami gangguan penglihatan akibat presbiopia yang tidak dikoreksi.

Dikutip Perdami, setiap 5 detik ditemukan 1 orang di dunia menderita kebutaan. WHO memperkirakan, terdapat lebih dari 7 juta orang menjadi buta setiap tahun.

Saat ini diperkirakan 180 juta orang di seluruh dunia mengalami gangguan penglihatan,dari angka tersebut terdapat antara 40-45 juta menderita kebutaan dan 1 diantaranya terdapat di South East Asia. Oleh karena populasi yang terus bertambah dan oleh faktor usia, jumlah ini diperkirakan akan bertambah 2 kali lipat di tahun 2020.

Pada tahun 2050, jumlah kebutaan di seluruh dunia diperkirakan menjadi 61 juta, dengan 1,7 miliar orang membawa beberapa bentuk atau tingkat gangguan penglihatan, menurut GBD (Global Burden of Disease) Blindness and Vision Impairment Collaborators di balik studi Lancet .

NCFlexE, di mana jam tangan pintar IIT Kanpur untuk tunanetra dan gangguan penglihatan mulai terbentuk sejak beberapa tahun, didirikan sebagai “pusat keunggulan” pada November 2014 dengan hibah dari Kementerian Elektronika dan Teknologi Informasi (MeitY) dan dukungan dari IIT Kanpur.

Pusat ini berusaha untuk “mengkatalisasi perkembangan industri dalam negeri di bidang elektronik fleksibel yang luas” melalui penelitian dan pengembangan, menjalin kemitraan industri untuk mengeksplorasi manufaktur, dan bekerja untuk membangun ekosistem industri elektronik yang fleksibel.